Dalam pelukan suaminya, Lenora diantar ke sebuah kamar. Harold mengunci pintu kamar, dan menuntun gadis dalam pelukan ke ranjang. “Kau istirahatlah. Aku harus menemui para tamu undangan,” ucap Harold sembari menguraikan pelukannya dari tubuh sang istri. Dengan tegas, gadis cantik yang mengenakan gaun pengantin berwarna merah marun itu menggeleng. “A-aku mohon, temani aku ...,” lirih Lenora. Tangannya menahan Harold dengan memegangi pergelangan tangan sebelah kiri. “Aku tidak mau di sini sendiri Harold, aku takut.” “Tidak akan ada yang menyakitimu.” Harold berusaha menarik napas panjang guna menahan rasa kesalnya. Melihat Lenora yang seperti anak kecil, membuatnya tak suka. “Di sini juga tidak ada hantu, berhenti memikirkan hal yang buruk.” “Tommy ....” “Dia asisten ayah tiriku, kau aka

