Pagi-pagi sekali Lenora sudah bangun. Begitu paginya, sampai-sampai ia bangun lebih awal dari Harold. Wanita muda itu juga sudah membersihkan badan sebelum meluncur ke dapur. Dona yang hendak memulai masak pun dikejutkan dengan kehadiran nyonya mudanya. “Mbak Nora sudah bangun. Aduh, untuk apa repot-repot buat sarapan sepagi ini?” Ekspresi paniknya tertera di wajah. “Ada Bu Dona, Mbak Nora bisa minta tolong untuk buatkan kalau sudah lapar.” Pipi wanita yang tengah memasak itu tiba-tiba saja merona kala membayangkan wajah tampan Harold. “Ini, iseng coba-coba memasak untuk suami, Bu,” jawab Lenora tersenyum lebar. Tangannya sibuk memegang wajan dan spatula. Ia sedang mengaduk tumis jamur tiram. “Wangi sekali, Mbak Nora. Bu Dona jadi lapar,” puji wanita yang kini sedang berdiri di sampin

