Aralin memperhatikan pemuda di depannya dengan saksama. Tadi Raffa berkata akan pulang setelah makan siang di apartemen Aralin. Tapi kini? Pemuda itu malah sedang asik memindah-mindah channel televisi tanpa menghiraukan raut marah yang Aralin tunjukkan.
"Raffa!"
"Apa, sayangku?" tanya Raffa manis.
Aralin menghembus nafasnya berulang kali namun belum juga mendapatkan stok sabar untuk menghadapi pemuda yang sedang mengungsi di apartemennya. Apa yang harus dia lakukan agar pemuda itu pulang?
"Raffa, aku capek. Mau istirahat."
"Wah, aku juga capek sayang."
Bersyukur adalah hal pertama yang Aralin lakukan. Akhirnya anak ini sadar juga....
"Yuk, bobok bareng. Tapi sebelumnya kita main pijit-pijitan dulu ya, biar nggak capek lagi. Syukur-syukur langsung dapat bonus baby, jadi bisa langsung nikah," tambah Raffa menyeringai dengan kalimat jebakannya yang langsung mendapat delikan Aralin.
Aralin melotot heboh seakan ingin sekali memukul pemuda aneh di depannya.
Raffa terkekeh dalam hati. Bukan dia tidak sadar jika sedari tadi Aralin berusaha mengusirnya. Tapi pertanyaannya adalah, 'siapa orang yang sanggup mengusir raja tengil ini?!'
Boleh kan jika Raffa berbangga diri atas prestasinya satu itu?
Hmmm ....
"Raffa, nggak baik lho laki-laki sama perempuan yang tidak punya hubungan darah tinggal dalam satu atap. Nanti bisa jadi gosip," ucap Aralin perlahan agar anak muda yang ada di apartemennya mau pergi.
"Ya udah sih, yuk nikah. Perkara gampang jangan dibuat sulit nanti jadi sembelit," jawab Raffa santai. Dalam hati dia sedang berfikir keras. Apa nanti kedua orang tuanya akan setuju jika dia menjalin hubungan dengan wanita yang umurnya ada di atasnya, apalagi ditambah dengan predikat seorang janda? Raffa juga kembali menilik hatinya. Benarkah dia jatuh cinta pada wanita ini? Atau ini hanya ketertarikan semu karena pertama kali melihat makhluk cantik?
Namun jika hanya karena cantik, banyak sekali murid Anggara High School yang cantik-cantik. Lalu? Raffa juga bingung sendiri menjelaskan apa yang dia rasakan saat ini. Dia tidak pernah pacaran dan juga malas sekali berhubungan dengan yang namanya perempuan. Tahu sendiri kan kalau perempuan itu makhluk bawel sedunia? Cukup ada dua perempuan bawel dalam hidupnya. Malika, sang adik dan juga Cindy sang tante. Karena itu dia malas menambah daftar manusia bawel dalam hidupnya. Tapi kini kenapa dia mulai tertarik untuk menambah satu nama lagi?
"Raffa, kamu masih SMA. Lebih baik kamu berfikir masa depan kamu. Sekolah yang bener, setelah itu kuliah, kerja lalu menikah dengan seorang gadis cantik yang akan menjadi ibu untuk anak-anak kamu, bukan malah berkata cinta dan mengajak seorang janda yang baru bertemu, menikah." Aralin sudah mengacak rambutnya seakan dia akan frustasi jika Raffa tidak segera angkat kaki dari rumahnya.
"Tapi aku cuma mau kamu lho, Lin."
"Kamu kok makin nggak sopan ya. Aku lebih tua dari kamu. Seharusnya manggil Kak, Mbak, atau apa gitu. Lalu orang tua kamu? Kamu pikir orang tua mana yang mau anaknya menikah saat SMA? dengan seorang janda pula."
Hfff... kenapa pikiran mereka sama. Lalu Raffa harus bagaimana? Dalam hati ada rasa kesal saat Aralin terus saja menolaknya. Tapi dia bisa apa? Berusaha? Kenapa kedengarannya seperti rumus cinta yang selama ini terdengar klise.
***
Raffa berjalan dengan gontai memasuki rumahnya. Rumah orang tuanya lebih tepatnya. Tadi dia sempat berdebat dengan Aralin hingga hampir magrib. Semua sanggahan yang dia lontarkan mendapatkan balasan dari Aralin.
Lalu? Kenapa dia harus terus bertanya 'lalu'?
"Raff, sudah pulang, nak?" tanya sang Mama yang sedang memasak di dapur saat dia akan mengambil minum di kulkas.
"Kamu kenapa?" tanya Anisa khawatir saat tidak mendapat jawaban dari putranya.
Raffa menggeleng sekilas.
Anisa nampak berfikir tentang informasi yang suaminya dapatkan dari Heru siang tadi.
Bersama seorang gadis cantik?
Siapa??
Sang mama akan bertanya kembali ketika dia sadar Raffa sudah tidak ada di area dapur. Mungkin dia sudah ke kamarnya, batin Anisa.
Makan malam yang biasanya ramai akan pertengkaran kecil Raffa dan Malika kini terasa janggal. Dari pertama kali Raffa duduk di meja makan, dia hanya mengambil makan malam namun tidak dia makan. Tangannya terus memainkan sendok dan mengaduk-aduk isi piringnya.
Rudi dan Anisa berpandangan dengan bingung. Tidak biasanya Raffa diam di meja makan.
"Ekhm. Raffa, kamu kenapa makannya cuma diacak-acak? Tidak suka masakannya atau kamu lagi tidak enak badan?" tanya Rudi.
Raffa mengangkat wajahnya sekilas dan kembali menunduk. Mengaduk isi piring dengan pandangan kosong.
"Raffa, kamu baik-baik saja?" Kali ini mamanya yang bertanya.
Raffa menggeleng. Dihembuskan nafasnya dengan kasar sebelum memandang papa dan mamanya. "Pa, Papa percaya nggak kalau Raffa jatuh cinta?"
"Ukhhuk!!" Sang Papa tersedak saat mendengar pertanyaan aneh Raffa.
"Kenapa memangnya?"
"Percaya, nggak ?"
"Percaya."
"Boleh?"
"Boleh."
"Kalau Raffa mau menikah?"
Ukhhuk!!
Anisa dan Malika kini yang tersedak.
"Raffa, nggak lucu!" protes Anisa.
Raffa menunduk kembali untuk menekuri piringan tanpa semangat. Ada apa dengan dirinya? Ada rasa tidak rela jika membayangkan wanita yang baru siang tadi dia temui dimiliki orang lain. Tapi untuk menikah?
Apakah dia siap?
Apakah orang tuanya setuju?
Apakah Aralin juga mau?
Raffa merasa perlu meminta pendapat mamanya setelah ini.
***
"APA??!!!" pekik Cindy. Baru saja Cindy bertamu ke rumah Aralin dan meminta Ara bercerita tentang wawancara tidak resmi siang tadi, dan Ara dengan polos menceritakan seluruh kejadian. Termasuk saat Raffa memaksa mengantarnya pulang dan mengklaim Aralin sebagai pacarnya.
"Itu anak memang bikin malu aja. Terus-terus? Lo terima?"
"Ya ampun, Cin. Dia itu masih SMA."
"Iya. Mending kamu sama Bang Indra aja." Cindy semangat hingga bangun dari posisi tidurannya di atas ranjang Ara, di kamar.
Aralin mengernyit dan duduk di atas ranjang sambil membuka bungkus keripik kentangnya. "Pak Indra kepala sekolah?"
"Iya. Dia abang gue. Masih singel." Promosi Cindy.
"Nggak lah, aku masih sadar diri. Aku udah janda."
"Emang kenapa?"
"Dia pasti lebih cocok dengan yang sama sama singel," balas Aralin.
"Alaaah. Sekarang janda itu banyak yang nyari. Apalagi janda kembang cantik kaya lo, Ra." Cindy berkata cuek sambil memasukkan keripik kentang ke mulutnya.
"No, thanks."
"Terus gimana rencana lo? Pasti ponakan gue tu nggak bakal nyerah. Setahu gue, dia belum pernah pacaran deh."
"Ya nggak gimana-gimana. Aku mau kerja nyari uang buat makan. Udah!" ucap Aralin.
Namun Cindy yang merasa tidak yakin karena sedikit banyak dia tahu bagaimana sifat keponakannya itu. Kalau anak itu menginginkan sesuatu jarang sekali Raffa akan menyerah dan mundur seperti itu. Yang ada keponakannya itu akan berjuang mendapatkannya seperti dua tahun lalu saat Raffa menginginkan sebuah mobil pertamanya. Pemuda itu bekerja part time di beberapa tempat sekaligus dan juga membuka jasa freelance di rumah saat malam hari. Hingga Raffa tumbang karena kelelahan yang berakhir Rudi menambahi uang Raffa agar bisa beli mobil.
Hah! Cindy mulai khawatir sekarang dengan nasib temannya ini. Apakah Raffa juga akan seperti waktu itu? Siapa yang tahu?
***