Janda

1112 Kata
"Hah?" Aralin kebingungan. "Oke. Berarti mulai hari ini kita pacaran," putus Raffa. "Apa?!" Aralin bengong. Seorang anak SMA tiba-tiba mengakuinya sebagai pacar. Yang benar saja. "Dia belum jawab, Raff." Indra memprotes keras. Dia tidak rela kehilangan calonnya juga. "Diamnya perempuan adalah setujunya, Om." "Itu belum pasti." "Pasti. Pokoknya om nggak boleh nyebelin. Dia pacar Raffa. Sana jauh-jauh." Sial!! Maki Indra. Baru saja dia punya yang mau dia gebet malah direbut keponakan sendiri. "Urusannya udah kelar kan, Om?" Indra mengangguk dengan tak rela. Dia masih berharap keponakannya itu hanya sedang iseng. "Ayo, Yang. Aku antar pulang." "Hah? maksud kamu apa? Siapa yang kamu panggil Yang?" Aralin masih belum mengerti apa yang telah terjadi. "Udah ayo ...." Raffa meraih jemari Aralin dan berdiri, kemudian dia menarik Aralin agar berdiri juga. Tanpa kata Raffa menggandeng Aralin dan membawanya keluar menuju lift. "Kamu cantik. Jadi gemes liatnya," kekeh Raffa sambil mencubit pipi Aralin. Aralin terbengong melihat ulah Raffa. 'Ni anak kecil ngapain ya cubit-cubit?' Batin Aralin. Keduanya terdiam saat berada di dalam lift berdinding kaca itu. Mereka bisa melihat pemandangan area hijau AHS. Taman dan lapangan. Mereka juga bisa melihat langkah-langkah lebar para guru yang bergegas menuju kelas. Ternyata pergantian jam pelajaran sedang berlangsung. Tidak ada guru-guru yang malas dan bergosip di pintu kelas atau guru-guru yang terlambat memasuki kelas dan hanya memberikan tugas dari Lembar Kerja. Mereka digaji untuk mencerdaskan, bukan untuk bergosip tidak jelas sambil memakan gorengan. Lengah sedikit saja akan ada peringatan dari kepala sekolah yang memiliki banyak mata. Itu yang dia dengar dari Cindy. "Yang," panggil Raffa. Aralin menoleh dan menunggu kata-kata Raffa. "Jadi nggak sabar buat nikahin kamu." 'WHAT?!!' "Apa maksud kamu? Saya ini teman tante kamu lho. Saya sudah dewasa. Sedangkan kamu masih remaja labil." Aralin mencoba menyadarkan pemuda di sampingnya. Bisa gawat kan kalau pemuda ini benar-benar suka padanya. "Tapi aku jatuh cinta sama kamu. Pernah denger kan ungkapkan 'cinta pada pandangan pertama'?" Aralin menghembus nafasnya lewat mulut. Bola matanya berotasi mendengar gurauan tak lucu dari bocah itu. Ting! Lift terbuka dan dengan senyum bahagia Raffa menarik Aralin keluar menuju area parkir. "Permisi tuan muda. Tuan besar memerintahkan saya untuk memastikan anda berada di area sekolah pada jam pelajaran." Seorang lelaki yang mengantarkan Aralin ke ruangan kepala sekolah tadi memotong jalan Raffa. Raffa terlihat cemberut tak terima. "Ish, Uncle Heru. Raffa mau nganterin pacar Raffa dulu." Lelaki bernama Heru itu berpaling ke Aralin meminta penjelasan. Aralin menggeleng panik. "Tidak. Bukan. Saya bukan pacar anak ini," bantah Aralin panik. Pandangan Heru beralih ke Raffa kembali. "Tuan Raffa harap kembali ke kelas," ucap Heru lagi. Raffa berdecak. Dia memutar otaknya mencari celah. "Kalau begitu saya pulang sekarang, selamat siang." Ara kabur sebelum Raffa dan laki-laki bernama Heru itu kembali berdebat. "Eh?! Yang, jangan lari ...." Raffa ikut berlari mengejar Ara. Hanya tinggal Heru yang mematung di lapangan. "Halo. Selamat siang, tuan. Hari ini tuan Raffa kembali kabur dari sekolah!" lapor Heru pada ponselnya yang terhubung dengan tuan besarnya. "Ikuti dia." "Baik, Tuan." Heru mematikan ponselnya dan bergegas mengikuti Raffa yang sudah keluar dari area sekolah dengan mobilnya setelah mengancam penjaga sekolah. Terlihat Aralin duduk di samping Raffa dengan wajah tidak bersahabat. *** "Ada apa, Pa?" tanya wanita paruh baya yang baru saja memasuki ruangan . "Anakmu bolos sekolah lagi, Ma." "Anakku???!!!" tanya wanita itu penuh penekanan. Sang suami mendesah pasrah. "Anak kita, ma." Ujarnya sedih. Kapan ya, satu hari saja dia tidak mendapat laporan tentang kenakalan dan ulah-ulah anaknya itu? "Nah, gitu kan enak dengernya." "Pusing ngurusin anak itu, Ma. Kapan ya kita bisa tenang tanpa gangguan." "Kalau sudah di alam kubur." "Mama ngaco. Di alam kubur itu lebih sibuk. Harus ditanya malaikat. Umar bin khothob yang setan takut padanya saja di tanya selama tujuh tahun, lho. Lha gimana kita?" "Ya nanti kalau sudah di surga." "Lama, Ma. Kalau punya anak aja badung gitu, Papa malah takut masuk neraka." "Ya udah terserah Papa saja." Pasrah sang istri. *** Indra menjambak rambutnya sendiri. Bagaimana ceritanya dia bisa kalah dari keponakan sendiri yang masih SMA. Tok! Tok! Tok! "Masuk." "Ini minumannya, Pak." Sahut seorang pegawainya dengan dua gelas minuman di atas nampan. "Minum saja sendiri," balas Indra sewot dan kembali ke mejanya mengurus berkas-berkas kembali." Tinggallah sang pegawai yang kebingungan menatap dua gelas jus jeruk di tangannya. "Kenapa masih di situ?" tanya Indra tanpa menoleh . "Minumannya, Pak." "Minum saja sendiri!" Indra berang karena lagi-lagi mengingat kelakuan Raffa yang membawa kabur calon gebetannya. "Ba-baik, Pak. Nanti saya akan memberikannya pada teman-teman saya." "Minum sendiri, Pak Agus! Minum sendiri. Bapak nggak dengar kata-kata saya? Ha?!" "Iya, Pak ... iya." Pak Agus segera berlalu setelah sebelumnya menutup pintu ruang kerja kepala sekolah. "Jaman modern. Apa laki-laki ikut PMS ya?" tanya Pak Agus bingung. *** Aralin menatap pemuda di sampingnya lekat. Dia mencoba mengingat-ngingat keinginannya yang pernah dia haturkan dalam do'a. Tapi sampai beberapa saat dia yakin tidak pernah memiliki keinginan memiliki pasangan Brondong. Lalu ini Brondong datang dari mana? "Habis ini belok kemana? Kanan atau kiri?" tanya Raffa semangat. "Turun di sini saja." "Yang ...." Protes Raffa. "Kanan." "Kamu tinggal di apartemen?" "Kok tahu?" "Ini kan arah ke Gardenia Apartemen dan TLapartement." Aralin tidak melanjutkan obrolan. Dia malas menanggapi celoteh anak SMA di sampingnya. "Kok diem sih, Yang." "Hmm," balas Aralin malas. "Kita makan siang dulu yuk. Aku yang traktir." "Nggak. Aku nggak mau jalan sama anak SMA." "Ya elah, aku bawa jaket Yank buat nutupin seragam aku." "Nggak. Mubazir masakanku di rumah nggak ke makan." "Kamu bisa masak, Yank? Ya udah kita makan di apartemen kamu aja." "Aku nggak nawarin kamu mampir." Aralin tambah jutek. "Ya ampun, Yank. Tega banget. Aku laper Yank..," "Kamu kan bisa makan di restoran atau cafe." "Mubazir masakan calon istri aku." "Maksud kamu siapa yang kamu bilang calon istri?" "Ya kamu lah, Yank." Ujar Raffa santai tanpa terpengaruh tatapan Aralin yang semakin melotot. "Aku ini janda lho, Raff. Cari calon istri yang lain aja." Ckkkitttt!!!! Bunyi gesekan ban mobil dan aspal terdengar nyaring akibat rem mendadak yang diinjak Raffa. Sahutan klakson dari para pengendara lain terdengar memekakkan, membuat Raffa kembali melajukan mobilnya. "Hah?! Janda?!! Alhamdulillah berarti lagi nggak punya gandengan kan?" Tanya Raffa santai. Dia memang terkejut dengan fakta itu. Tapi Raffa lebih memilih mengabaikannya daripada kehilangan kesempatan dekat dengan wanita pujaannya. Wanita pertama yang mampu membuatnya berdebar sejak kali pertama mereka bertemu. Gila. Dia sudah gila. Entah apa lagi kalimat yang akan dia dengar dari orang tuanya. "Kamu denger nggak sih? Aku JANDA!!!" Aralin menekan-nekan nada suaranya agar pemuda di sampingnya mendengar suaranya dengan jelas. "I love you too, baby," jawab Raffa tak perduli. Aralin ternganga dengan tidak elit mendengar Raffa yang cuek dan tetap melajukan mobilnya. Oke! Aralin merasa akan gila menghadapi pemuda di sampingnya ini. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN