Setelah mendapatkan vonis hukuman dari pamannya, Raffa merasa mengantuk. Dia ini anak hiperaktif yang tidak mau diam. Belum tengah hari saja dia sudah membuat banyak pekerjaan untuk semua orang di sekelilingnya.
Sekarang saatnya dia hibernasi memulihkan tenaga dan pikiran. Apa lagi yang akan dia lakukan nanti setelah pulang sekolah atau nanti jika dia sudah tiba di rumah.
"Om, Raffa mau nebeng tidur ya."
Indra mengernyit. Tidur?
"Sebentar lagi jam masuk kelas Raffa. Sana ke kelas. Nanti absen kamu bolong lagi. Om nggak mau ditanya sama guru kamu."
"Ngantuk, Om. Daripada nanti Raffa ngantuk dan bikin ulah di kelas, kan lebih baik kalau Raffa tidur. Raffa senang, semua orang tenang."
Indra tak bisa membalas. Sebenarnya kakak iparnya ini ngidam apa ya waktu hamil bocah satu ini? Setiap bertemu, kalau tidak berdebat ya kesal sendiri. Mungkin hanya saat main game mereka bisa akur dan tidak membuat kerusakan.
"Terserah."
"Thank you, Om. Raffa berjalan sambil tangannya menutupi mulutnya yang mulai menguap lagi.
Aduh! Bagaimana dia harus mengurusi keponakannya yang satu ini? Pusing kepalanya setiap hari.
***
Sahutan dari dalam ruang kepala sekolah itu membawa tangan Aralin menggerakkan kenop pintu. Perlahan dia membuka dan mendorong pintu ruangan. Wangi lavender langsung menyapanya saat kali pertama dia menghirup udara di ruangan itu.
Ruang kepala sekolah yang dia masuki berbeda dari ruang kepala sekolah yang selama ini Aralin tahu. Ruangan ini terlihat luas dengan satu set sofa mewah. Di samping sofa ada satu set meja kerja dengan tumpukan berkas atau kertas- kertas entah apa itu. Kemudian di sudut ada beberapa rak tinggi berisi buku buku dan map penuh kertas. Juga dua pintu yang entah menuju ke mana.
Lelaki dengan kaca mata baca yang semula menekuni kertas-kertas di mejanya perlahan mengangkat wajahnya dan bersitatap dengan Aralin.
Tampan.
Itu yang pertama kali ada di pikiran Aralin.
"Miss Aralin, benar?" tanya lelaki tampan itu. Apakah dia kepala sekolah ini? Kenapa masih muda sekali?
"Benar, sir." Aralin melangkah memasuki ruangan luas itu.
Indra merutuki Cindy. Kenapa adik jeleknya itu tidak bilang jika temannya begitu cantik? Sangat cantik.
Aralin memang mengubah gaya berpakaian dan tatanan rambutnya atas saran Cindy. Bahkan dia juga memakai sedikit make-up untuk wajahnya. Siapa sangka dia akan terlihat imut dan sangat cantik.
Aralin melirik papan nama yang terlihat elegan di atas meja.
Kepala Sekolah
Indra Reguardi Anggara.
Anggara? Apa dia keluarga Cindy?
"Teman Cindy, bukan?" Aralin mengangguk sopan.
Indra berdiri dan mempersilahkan Aralin duduk di sofa dengan gerakan tangan. "Silahkan duduk."
Setelah mengirim pesan pada bagian penerima tamu, Indra segera bergabung di sofa. Berseberangan dengan Aralin.
"Ini berkas berkas yang sudah saya bawa." Aralin mengangsurkan map berisi dokumen yang dibutuhkan.
Indra memeriksa semua kertas di meja kaca itu dalam diam.
"Apa anda pernah bekerja sebelumnya?" tanya Indra setelah menutup map.
"Kalau di sekolah belum pernah, Sir. Saya hanya pernah bekerja di cafe dan toko Alat tulis."
Indra mengangguk-angguk kemudian menegakkan punggungnya. "Begini, miss. Saya sudah menjelaskan pada Cindy jika AHS sangat selektif dalam memilih guru. Paling tidak ada riwayat mengajar sekurang-kurangnya dua tahun. Lagipula mata pelajaran yang kosong hanya ada Ekonomi. Dan dalam hal ini kami tidak mungkin melakukan nepotisme ...."
Aralin menahan nafas mendengar penjelasan Indra. ".... tetapi, karena permohonan dari adik saya--bukan bermaksud untuk bernepotisme--saya menawari anda mengisi bagian penjaga perpustakaan. Saya tahu mungkin posisi ini tidak seperti yang anda harapkan dan gajinya tidak setinggi guru disini. Tapi jika dibandingkan sekolah lain, tentu saja gaji anda lebih tinggi. Bagaimana?"
Ara terdiam sejenak. Benar. Dia tidak mungkin mengorbankan sekolah ini jika cara mengajarnya jauh dari target sekolah. Dan juga dia harus memikirkan murid-murid yang belajar di sekolah ini. Akan jadi apa mereka jika Ara salah mengajar?
"Tidak apa-apa, Pak. Saya akan menerima tawaran anda untuk menjadi penjaga perpustakaan. Saya juga belum pernah mengajar sebelumnya. Saya khawatir jika saya malah melakukan kesalahan saat mengajar."
"Baiklah kalau begitu. Anda bisa mulai datang bekerja besok pagi ...."
"Thanks ya, Om. Seger nih habis tidur ... Astagfirulloh!! Kenapa Om nggak bilang kalau ada bidadari di sini?"
Monyet!!
Rutuk Indra melihat keponakannya keluar dari kamar pribadinya. Kenapa tidak nanti saja? Dasar pengganggu!!
Raffa yang terlalu antusias melihat makhluk cantik imut-imut itu langsung mengulurkan tangannya tanpa menghiraukan penampilan.
Aralin mengalihkan pandangan saat matanya melihat pemandangan menggelikan Raffa.
"Bisa pasang retsleting sendiri kan?" Indra memotong adegan di depan dengan cibiran.
Raffa memperhatikan penampilan dan menemukan retsleting celananya belum dia tutup dan menampilkan gundukan samar di balik boxer putihnya.
"Ahahaha ..." tawa sumbang Raffa terdengar sangat tidak enak.
Raffa menggaruk tengkuknya salah tingkah dan buru-buru berbalik kemudian membenahi retsleting dan penampilan.
"Maaf, ya. Raffa." Raffa mengulurkan tangannya lagi.
Ara pun membalas uluran tangan itu dengan tersenyum kikuk. "Aralin."
"Ya ampun, Om. Namanya aja cantik banget," ujar Raffa takjub tanpa ditutup-tutupi. Indra yang melihat keponakannya itu hanya bisa tersenyum canggung pada Aralin.
"Murid baru?" Bergegas Raffa duduk memepet Aralin dan memperhatikan mimik wajah sang gadis imut-imut. Padahal jika Raffa tahu Aralin bukan lagi gadis, mungkin dia akan kabur. Batin Aralin.
Plakk!!
Geplakan di lengan Raffa, membuat pemuda itu menoleh. "Apa sih, Om? Ganggu aja." Raffa sinis. "Kelas berapa? Wah pasti pindahan dari Korea. Imut gitu." Raffa kembali mengacuhkan Indra dan masih tersenyum manis ke arah perempuan itu.
"Korea dari Hongkong?" balas Indra sewot.
"Om nggak lulus SMP, ya? Hongkong itu di Cina. Pasti nggak pernah nonton drakor." Raffa kembali mencibir. Dia masih takjub ada perempuan imut di ruangan pamannya. Apalagi baru kali ini dia merasa tertarik pada seorang perempuan. Biasanya dia hanya akan risih dan kesal jika bertemu perempuan, karena menurutnya perempuan itu terlalu merepotkan. Persis adik dan tantenya atau perempuan-perempuan yang pernah dia lihat.
Indra mengabarkan dirinya agar tidak menjitak keponakannya itu. "Dia bukan murid, Raffa Arzio Anggara."
"Terus?" bingung Raffa mengalihkan pandangannya dari wajah perempuan di sampingnya.
"Dia teman TANTE KAMU, Cindy."
"HAA?! Serius, Om?!!"
Aralin bingung harus bagaimana melihat dua orang lelaki beda usia itu ribut sendiri. Dia merasa seperti tidak ada di ruangan itu.
"Wah, kamu nggak pantes jadi guru di sini." Raffa bersuara ke arah Aralin. "Kamu pantasnya jadi pacar aku saja," ucap Raffa tanpa malu. Raffa menumpukan wajahnya di atas kedua telapak tangannya dengan gaya imut, menanti respon positif dari wanita di sampingnya, begitu juga Indra. Dia penasaran akan respon Aralin.
"Eh? Kenapa?" Aralin bingung. Sekarang dua lelaki itu memperhatikannya lekat-lekat seperti sedang menunggu sesuatu.
"Gimana?" tanya Raffa.
"Gimana apanya?" Aralin masih belum mengerti.
"Mau kan jadi pacar aku?" tanya Raffa dengan wajah penuh harap.
"Hah??!"
***