Aralin memulai harinya dengan kegiatan memasak. Menu pagi ini adalah bubur ayam ala Aralin.
Aralin selalu bertanya - tanya kenapa banyak orang menyukai nasi goreng sebagai menu makan mereka. Terutama sarapan. Bagi Aralin nasi goreng adalah makanan paling menyebalkan di dunia. Untuk di makan dan untuk di masak. Semangat makan yang biasanya menggebu-gebu hanya tersisa 5% karena menu satu itu.
Yang ada di pikirannya apakah orang-orang itu tidak merasakan tenggorokannya sesak saat makan makanan itu? Bukannya dia tidak doyan, ah ... apalah namanya yang pasti Aralin sangat-sangat tidak menyukai nasi goreng dan ayam goreng. Terasa seret di tenggorokan dan itu terasa mengganjal di hati.
"Oke. Wahai, bubur ayam bersiaplah. Nasibmu kini ada di tanganku." Aralin berkelakar pada semangkuk bubur di hadapannya.
Dengan berbinar Aralin menangkupkan telapak tangannya dan berdo'a. Do'a pertama kali yang dia hafal saat kecil.
***
Lelaki tampan itu memijit pangkal hidungnya dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya mengetuk-ngetuk meja dengan bolpoin hitam dalam genggamannya.
Tak lama dia menyugar rambutnya lalu mengacaknya gemas.
"Raffaaa ...."
"Apa sih om?" tanya pemuda yang sedari tadi berada di sana dengan santai. Ada permen karet dalam kulumannya yang sesekali dia tiup menciptakan balon permen karet dan lalu memecahkannya seakan tak ada yang penting dari ucapan pamannya.
"Kenapa sih, sehari aja nggak bikin rusuh?" tanya Indra jengah.
"Kok nyalahin Raffa?" Dia tidak terima.
"Trus siapa? Bakso? Apa mie? Atau saos?" Sang kepala sekolah yang bernama Indra itu memijit pelipisnya dengan gusar. Mau jadi apa sekolah ini?
Baru pukul sebelas tapi Raffa sudah membuat ulah dua kali. Pertama pagi tadi dia dihukum berlari di lapangan karena tidak mengerjakan PR. Please demi apa keponakan pemilik sekolah tidak mengerjakan PR?
Lalu yang kedua, baru saja dia memesan dua puluh mangkuk bakso yang sudah dia racuni dengan cabai rawit merah bersendok-sendok dan dia kirimkan kepada kelas 11 IPS² hanya karena mereka membully temannya yang nerd. Akibatnya sekarang seluruh penghuni kelas 11 IPS² sedang berebut toilet dan UKS.
"Salahin om yang nggak tegas. Disini semua murid memiliki kedudukan yang sama tinggi. Nggak perduli itu anak pejabat, anak koruptor, anak sopir, anak pembantu. Semua sama."
"Ya tapi kan bisa dengan sanksi, Raffa." Indra tidak habis pikir dengan pikiran keponakannya. Bagaimana kalau dari salah satu orang tua murid itu lapor polisi? Bisa panjang urusannya.
"Sejak kapan sanksi berguna? Setahu Raffa, sanksi sekolah kita terlalu lembek. Tidak ada efek jeranya. Sama seperti penjara. Baru keluar dari LP langsung gasak motor tetangga. Bahkan ada yang sengaja nyolong lagi karena dia pengangguran. Kan enak di LP dikasih makan tanpa harus pusing mikirin beras."
"Raffa! Sepertinya ada kesalahan waktu penciptaan kita. Kok seperti kamu yang tua dan om yang muda sih?" Indra mendesah.
Raffa menyeringai. "Om itu cuma tua umur, bukan tua ilmu."
"Sialan."
"Dilarang mengumpat."
Indra mendesah hebat. Keponakannya yang ini benar-benar hiperaktif. Tidak ada waktu yang terbuang percuma olehnya. Ada saja akal-akalannya setiap saat.
Tentu saja akalnya itu yang membuat semua orang frustasi. Entah apa yang dulu dimakan kakak iparnya saat hamil Raffa hingga anaknya menjadi seperti ini.
"Oke. Skorsing dua hari buat kamu. Tapi karena kamu melakukannya karena membela yang lemah. Skorsing satu hari dan surat pernyataan tidak akan mengulanginya lagi." Indra memutuskan. Meskipun dia sudah memberikan hukuman pada Raffa, namun dia tidak yakin bisa membuat Raffa jera.
"Deal." Raffa bergegas bangkit dan meninggalkan ruang kepala sekolah.
Indra harus berusaha berbuat adil, tak ada namanya nepotisme. Walau Raffa keponakannya, tapi Raffa tetap harus dihukum. Benar kan?
"Assalamualaikum." Indra berucap saat sudah melakukan panggilan ke nomor 1 di ponselnya.
"Wa'alaikumusalam. Ada apa Ndra?"
"Indra mau cuti satu minggu ke jogja, Bang."
"Ada apa lagi?" orang di sebrang sana yang adalah kakaknya sendiri bertanya heran.
"Anakmu benar-benar membuat orang frustasi. Pokoknya Indra mau cuti."
"Boleh. Abang kasih satu bulan ... tapi nikah dulu. Pasti deh Abang kasih tiket bukan hanya ke jogja, tapi ke Dubai atau Raja ampat."
Indra melunglai di bangkunya tidak semangat. Calon aja belum ada, eh ... disuruh nikah. Intinya, Indra tidak akan mendapatkan cutinya dalam waktu dekat ini.
***
Aralin mengamati bangunan besar dan megah di depan sana dengan tatapan kagum. Tidak salah lagi, ini adalah alamat yang dia tuju. Anggara High School.
Pagi tadi Cindy menghubunginya dan mengatakan ada lowongan di sekolah milik keluarga Cindy. Meski awalnya ragu, Aralin nekat datang ke sekolah ini karena keuangannya semakin menipis. Juga dia harus memastikan tak akan kelaparan karena tidak mempunyai pekerjaan.
Setidaknya dia sudah berusaha. Masalah diterima atau tidak, itu urusan nanti.
Di sepanjang koridor dan halaman yang sangat luas milik sekolah ini tampak sepi. Tak terdengar suara-suara familiar seorang guru yang sedang menerangkan materi di kelas. Apa mungkin sekolah ini libur? Batinnya. Tapi jika sekolah libur, tempat parkir di penuhi dengan deretan mobil-mobil mewah dan motor sport. Lalu kemana seluruh penghuni sekolah ini?
"Ada yang bisa saya bantu, Miss?" Seorang lelaki tampan bersetelan jas sudah berdiri di sisinya dengan senyum menawan.
Aralin tersadar dari pikirannya. "Ah, ya. Bisakah saya tahu di mana ruang kepala sekolah?"
"Mari saya antarkan." Lelaki itu berjalan di depan setelah memberi isyarat agar Aralin mengikutinya.
Sampai di Sebuah gedung berlantai empat, Aralin tidak tahan untuk tidak bertanya. "Maaf, Pak. Apakah sekolah sedang libur?"
Lelaki itu berbalik dan tersenyum. "Tidak. Saat ini adalah waktunya kegiatan belajar mengajar."
"Lalu kenapa saya tidak mendengar kegiatan belajar-mengajar yang sedang berlangsung?" Aralin masih mencoba melihat sekeliling. Siapa tahu dia mendapatkan jawaban.
"Oh, itu. Karena di setiap ruang kelas terdapat alat kedap suara untuk menjaga privasi dan yang pasti tidak mengganggu kenyamanan sekitar kelas."
Aralin mengangguk mengerti. Sekolah megah, fasilitas wow. Aralin menjadi penasaran dengan semua fasilitas yang ada di sekolah ini. Mungkin saja dia bisa menemukan panggung konser, lapangan sepak bola, ruang make-up artis atau dapur. Buru-buru dia mengenyahkan semua pikiran anehnya dan mengikuti lelaki itu.
Kalau nanti dia diterima di sini bukankah dia juga akan tahu dengan sendirinya semua fasilitas sekolah ini. Batinnya menghibur.
Setelah keluar dari lift, langkah lelaki yang dia ikuti berhenti tepat di depan sebuah pintu. "Ini ruangan Mr. Anggara. saya permisi!" ucap lelaki tadi yang undur diri dengan penuh ketegangan namun tak kehilangan keramahannya.
"Terimakasih."
"No problem. Ini sudah menjadi tugas saya."
Setelah lelaki itu berlalu menuju lift, Aralin segera mengetuk pintu. Beberapa saat terdengar suara dari dalam ruangan.
"Masuk."
Sahutan dari dalam terdengar lantang. Membawa tangan Aralin yang menyentuh handle pintu.
***