"Cin, AHS nggak asal menerima guru. Harusnya kamu tahu itu." Rudi berkata bijak. Adiknya ini kadang memang tidak memikirkan semua detailnya, yang dia inginkan adalah yang dia kerjakan.
"Apa sih, Bang. Teman Cindy itu nilainya bagus-bagus. Dia itu pinter."
"Tapi masa lulusan psikologi mau ngajar ekonomi?"
"Ya ...."
Cindy memberengut kehabisan kata. Susah juga ya, batinnya.
"Coba ditanya dulu sama teman kamu, Cin. Jelaskan juga standar guru yang AHS terapkan. Nanti kalau dia yakin bisa memenuhi standar yang ada, bisa deh diadakan wawancara sekilas," usul Anisa. Cindy mengangguk-angguk setuju.
"Kapan dia bisa datang ke sekolah?" tanya Cindy yang kini mulai membuka toples keripik kentang di meja.
"Besok bisa," sahut Indra.
Cindy tersenyum. Akhirnya dia bisa menolong sahabatnya itu.
"O ya, Mbak. Mbak dulu hamil berapa tahun setelah nikah?" tanya Cindy mengalihkan pembicaraan.
Anisa menoleh seraya tersenyum. "Tujuh tahun. Kamu lupa?"
"Agak lupa gitu sih. Yang buat abang yakin dan kalian nggak bercerai apa?" Kini dia bertanya pada sang kakak tertua. Bahkan dia menggeser duduknya untuk lebih dekat dengan kedua orang kakak dan kakak iparnya.
Indra dan Raffa putra dari Rudi mengernyit heran. Tumben banget kan si Cindy bertanya yang aneh-aneh.
"Abang yakin kalau semua orang itu ada rizki yang sudah ditetapkan Allah. Entah harta ataupun yang lainnya. Jadi abang menjalaninya dengan hati lapang. Ditambah memang umur kami masih muda. Jadi hal itu kami anggap kesempatan untuk kami maju dan mengembangkan serta mempraktekkan ilmu-ilmu yang kami miliki. Dan ternyata rencana Allah itu yang terindah. Setelah perusahaan dan Mall punya abang maju pesat, si tengil ini lahir. Lalu dua tahun kemudian disusul Malika yang hadir. Kan sudah jelas bahwa nikmat kita akan ditambah jika kita bersyukur," ujar Rudi sambil mengacak rambut putranya.
"Anak sendiri dibilang tengil." sindir Raffa, putra pertamanya.
Mengabaikan protes dari Raffa, Cindy kembali bersuara. "Wah, hebat. Abang udah kaya ustadz."
Rudi hanya menanggapinya dengan senyuman begitu juga dengan Anisa.
"Sekarang kenapa tiba-tiba kamu tanya tentang hal itu?" Rudi bertanya.
"Itu, Bang. Ada teman Cindy yang baru cerai gara-gara lima tahun belum juga hamil."
"Rizqi orang kan berbeda-beda. Mungkin memang belum waktunya."
"Mereka udah nggak sabar mungkin." Indra ikut menyeletuk.
"Ah, Cindy pengen punya suami kayak Abang aja deh. Yang pengertian dan baik hati." Cindy memeluk lengan Rudi manja.
"Lha Bian?" tanya Rudi mengingatkan calon tunangan Cindy. Mood Cindy yang tadi baik-baik saja, tiba-tiba anjlok.
"No! Dia itu playboy," sanggah Cindy malas.
"Itu kan masa lalu sih, Cin. Sekarang kan nggak." Itu suara Indra yang berkumandang tak yakin. Dia sebenarnya juga masih meragukan calon tunangan Cindy itu.
Mendengar kata-kata Indra, Cindy bertambah malas. Ternyata tidak ada yang akan mendukungnya menolak perjodohan itu.
"Ah, pokoknya Cindy mau punya suami yang baik. Dia udah jelas tertolak. Kan Mas nggak tahu sebenarnya dia sudah tobat apa belum," rengek Cindy sambil memelototi Indra.
Semua yang ada di ruang keluarga itu tertawa. Menertawakan Indra yang akan digiling Cindy.
"Sak karepmu, Nduk." Rudi geleng-geleng kepala melihat adiknya kekeh pada pendapatnya. Cindy dijodohkan dengan Albian karena wasiat dari ayahnya dan ayah Bian. Meski begitu Cindy bertekad tidak akan pasrah menerima perjodohan itu begitu saja. Dia akan memperjuangkan haknya sampai titik darah penghabisan. Tekad Cindy dalam hati.
"Alah ... sok-sokan pakai bahasa jawa. Nggak cocok, Bang. Harusnya suaranya medhok." Cindy mencibir abangnya dengan cuek.
Walau begitu, dia senang akhirnya bisa berguna untuk sahabatnya itu. Pikirannya melayang pada pertemuan siang tadi. Di matanya, Aralin adalah sosok yang tegar, dan rapuh di saat yang sama.
***
Rabu pagi di kediaman Anggara diributkan oleh teriakan-teriakan penghuninya.
"Bibi, kaos kaki Malika ke mana? masa cuma sebelah!" teriak Malika dari arah kamarnya.
"Mama ... pensil Malika hilang, Ma." Lalu teriakan kedua terdengar.
Sementara anak pertama, si Raffa sedang mengerjakan PR milik Malika di meja makan. Ada empat soal yang tidak bisa Malika kerjakan.
"Abang nggak punya PR?" tanya Anisa melihat anak sulungnya sedang sibuk berkutat dengan buku tulis adiknya.
"Punya, Ma." Raffa menjawab singkat tanpa menoleh.
"Sudah dikerjakan?" Sang Mama bertanya lagi.
"Belum," Jujur Raffa tetap konsentrasi pada buku tulis adiknya.
"Terus?"
"Gampang. Nanti menyalin punya Sigit," jawab Raffa enteng, sambil menyebut nama teman sekelasnya yang kutu buku.
Anisa mendengus. Semalam bukannya mengerjakan PR, malah main Game. Lalu sekarang malah mengerjakan PR adiknya.
Benar-benar ....
"Kamu tuh ya, Bang. PR sendiri nggak dikerjain. Sekarang malah ngerjain punya Malika."
"Nggak apa-apa, Ma. Beramal sholih ini," jawab Raffa sambil terus mengerjakan PR Malika.
Anisa hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anak pertamanya.
"Ada apa sih? Kok udah rame aja meja makan?" tanya sang Papa yang baru tiba di meja makan dengan setelan kantornya lengkap. Papa mengambil duduk di ujung meja tempat kepala keluarga berada.
"Raffa, kenapa kamu mengerjakan PR di meja makan?" Sambung papa saat melihat Raffa menulis sesuatu di buku tulis.
"PRnya Malika, Pa."
Sang Papa menoleh ke arah istrinya mendengar jawaban Raffa.
"Iya. Itu PR punya Malika," jawab Anisa membenarkan. "PR dia sendiri nggak dia kerjain, Pa!" adu sang Mama yang sedari tadi jengkel.
Papa mengerutkan keningnya dan menaikkan satu alisnya, heran.
"Raffa, PR Malika biar dikerjakan sendiri. Kerjakan PR kamu sendiri jangan bergantung pada orang lain. Kalau kamu masih mengerjakan PR di meja makan, lebih baik tidak usah sarapan." Putus papanya tegas.
Raffa yang begitu segan dengan sang Papa langsung menutup buku tulis di hadapannya dan menyimpannya di tas Malika.
Bertepatan dengan itu, Malika tiba di meja makan dengan seragam putih kombinasi kotak-kotak biru khas Anggara High School.
Malika kini sudah duduk di bangku kelas dua SMA. Setingkat lebih rendah dari Raffa karena Raffa pernah mengambil cuti satu tahun.
"Bang. PR Malika sudah selesai?" Malika bertanya pada Raffa ketika baru saja meletakkan pantatnya di kursi.
Raffa mengangguk namun tak berani menoleh karena dia tahu ayahnya masih menatapnya.
Rudi berdeham untuk meminta perhatian seluruh mata. "Mulai hari ini ada peraturan dari Papa. PR tidak boleh dikerjakan di meja makan. Kalau melanggar, satu minggu full tanpa uang jajan."
Malika syok, memandang sang papa dengan mulut terbuka, kemudian meminta penjelasan sang mama yang tidak juga menjelaskan sesuatu.
"Ih ... Papa kok jahat, ih ...."
"Tidak ada alasan."
Raffa hanya diam di kursinya tanpa mau bergabung dalam perdebatan ayah dan anak itu. Dia kan sudah punya pendapatan dari membantu papanya di Mall. Jadi mana dia takut uang jajannya di potong.
"Dan satu lagi. Malika, besok-besok kerjakan PRmu sendiri. Jika ada yang kesulitan mintalah diajari kakakmu. Bukan malah kakakmu yang mengerjakan."
"Oke, Pa." Malika menjawab dengan ceria dan tak ambil pusing.
Akhirnya sarapan kali ini dilalui dengan banyak nasehat dari papa dan ditambahi sang Mama.
Katakanlah mereka terlalu berlebihan. Tapi pendidikan anak siapa lagi yang bertanggung jawab jika bukan orang tuanya sendiri? Banyak anak-anak salah didikan dan pergaulan juga karena orang tuanya yang terlalu acuh serta hanya mementingkan materi. Sedang anak mencari perhatian dan kasih sayang dari dunia luar dengan pacaran dan kenakalan remaja.
***