“Kamu mau tidur di mana coba?” tanyaku begitu menginjakkan kaki di Bandung. Apta masih dengan muka bantalnya, masih dengan matanya yang menyipit. Tidak menjawab apapun, hanya menggandeng tanganku dan kami keluar dari stasiun. Apakah kali ini Bandung akan berbunga, seperti apa yang selalu aku impi-impikan? Atau sebab ia masih menyimpan keraguanku terhadap Apta, maka bunga itu kembali gugur dan semua terasa hampa. Bandung sejak dulu menyimpan sejuta impiku, menjadi potret kota yang selalu ingin kutinggali dengan nyaman, bersama mimpi-mimpi yang tidak pernah mati. “Mbak mau ke kos, tidak mungkin kamu ikut sama Mbak, Ta!” Melepas genggam tangannya, mendekati taksi. “Mbak lagi, Mbak lagi,” gumamnya. “Aku antar kamu dulu habis itu cari penginapan. Kita nggak punya banyak waktu, ayo, biar kam

