Teduh Dalam Duka

1236 Kata

Kembali terbangun ketika genggam tanganmu hangatkan dinginku, ketika tengah malam, sambut malaikat turun ke bumi, mencatat orang-orang yang lebih memilih beribadah dibanding terlelap. Wajah lelahmu menatap layu jemariku, meremas memberi kekuatan, seragam lusuhmu dengan beberapa bercak darah di lengan. Sungguh Allah Swt. telah guncangkan dunia agar kita semua mengingat-Nya. Aku melepas tanganku dari genggamannya. “Kamu nggak tugas?” tanyaku lemah. Dia langsung berdiri, mendekati kepalaku, mengusapnya lembut. “Kepalamu masih pusing?” tanyanya menatapku sendu. Hanya mengedipkan mata sekali. “Terima kasih kerudungnya.” Mengangguk lantas tersenyum. “Ponselku mana?” tanyaku sangat lemah. “Oh, ada di posko, dicas. Tapi aku sudah menghubungi ibumu, mungkin nanti ke sini.” Tersenyum tipis.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN