“Mbak Dara.” Bisik suara lembut itu sampai di telingaku, diiringi ibu jari mengusap kening antara alis kanan dan kiri. “Bangun dulu yuk,” bisiknya lagi. Aku membuka mata, mendapati Apta dengan kantung matanya. Tersenyum teduh, menenangkan hanya dengan melihatnya saja. “Aku mau salat subuh dulu, habis itu langsung balik ke posko. Ndak bisa nemenin lama, tapi ibumu sedang dalam perjalanan.” Mengedipkan mata sekali, nyawaku belum balik sepenuhnya. Dia tertawa kecil. “Siapa yang bilang kamu tua, kaya anak kecil gini.” Dicubitnya kecil ujung hidungnya. Mataku yang tadinya menyipit langsung terbuka lebar, apa pula yang dia lakukan? “Sopan dikit lah, Ta!” ketusku. “Kamu yang sopan dikit sama calon suami.” “Hah?” “Hah heh hoh!” ejeknya. “Mau dibantuin wudu nggak? Sebelum balik nih.” Men

