Akhirnya Sabine Tahu Masa Lalu Kalief

1702 Kata

“Dasar sampah! Kalau saja aku sedang memegang ponsel, aku pasti sudah merekam semua ucapan b******n ini dan menunjukkannya pada Mama!” geram Sabine dalam hati, menahan diri agar tidak meledak di depan Kalief. Jujur ia tak menyangka akan secepat ini merubah pendirian Kalief. Matanya melirik cepat ke arah meja nakas. Di sana, ponselnya tergeletak begitu saja, tak terjangkau. Ia hanya bisa menggigit bibir, frustrasi karena tak dapat berbuat apa-apa. Dengan senyum yang dipaksakan, Sabine akhirnya menatap Kalief. “Baguslah kalau kau setuju,” ujarnya, mencoba terdengar tenang meski dadanya masih bergejolak. Ia sendiri tidak tahu bagaimana harus bersikap atas tawaran mendadak pria itu. Namun belum sempat pikirannya jernih, Kalief tiba-tiba melangkah mendekat dan memeluknya erat. “Terima kasi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN