‘Ternyata dia beneran baik.’ Begitu batin Kaira saat melirik Rayi di depannya. Siapa yang menyangka mereka akan menghabiskan malam minggu bersama seperti ini? Dari yang awalnya berniat membantu karena iba pada Rayi, sekarang Kaira malah duduk di kafe bersama pria itu. "Kamu mau pesen apa?" tanya lelaki itu ramah. Sisa-sisa kejutekan yang dulu selalu tampak di wajah lelaki itu setiap bicara dengannya, kini sudah sirna. Berganti menjadi kehangatan yang beberapa bulan lalu pernah menyelamatkan Kaira sehabis keguguran untuk yang ketiga kalinya. "Pesan aja nanti saya yang traktir," katanya lagi. "Eh, jangan Pak." Kaira langsung menolak. "Biar ... saya bayar sendiri saja." Makan berdua saja sudah canggung, apalagi kalau ditraktir. Dia harus berulang kali meyakinkan dirinya kalau ini bukan

