Part 3

2186 Kata
Flashback "Maukah Kau menjadi kekasihku?.... Aku mencintaimu...." Arbi berucap datar dan menatap tajam Raisa berusaha menutupi kegugupannya. Raisa adik tingkatnya dan mereka baru beberapa kali bertemu dalam kegiatan osis. Arbi yang terkenal cuek tentu tidak pernah sekalipun menunjukkan ketertarikannya pada Raisa sehingga keterkejutan tampak jelas di wajah Raisa. "A...Ak..ku...." "Ya atau tidak?..." "Aku perlu berfikir...." Ucap Raisa cepat kemudian berlalu cepat sembari menunduk tidak sanggup lagi mendapat tatapan tajam dari kaka tingkatnya itu. ........... Raisa berjalan gugup mendekati Arbi yang sudah menunggunya di taman sekolah. "Aku tunggu jawabanmu hingga akhir liburan....." Notes yang Raisa terima melalui Yeni dari Arbi setelah aksi kabur yang Raisa lakukan sebelum menjawab pernyataan cinta Arbi sebulan yang lalu. Liburan sudah berlalu dan kini mereka sudah mulai kembali bersekolah, Arbi kelas 3 dan Raisa kelas 2. Sekolah dimulai kembali dan berarti waktu Raisa berfikir sudah habis. Kini saatnya Raisa memberikan jawaban. Pernyataan cinta Arbi ini benar-benar mengganggu Raisa selama liburan karena Ia terus memikirkan jawabannya. Selama liburan itu Arbi tidak pernah menghubunginya apalagi membujuk Raisa untuk menerimanya. Hal itulah yang membuat Raisa ragu akan keseriusan Arbi. Selama ini Arbi pun tidak pernah mendekati Raisa meski terkadang ada kesempatan mengingat mereka dalam satu organisasi sekolah. Raisa berusaha memikirkan apa yang pernah Arbi lakukan yang menunjukkan jika Arbi menyukainya namun tidak ada sama sekali yang Arbi dapat. Dari alasan itu semua tentunya mudah bagi Raisa mendapat jawabannya, yaitu Ia akan menolak Arbi. Namun ada sebagian dari hati Raisa yang ingin menerima Arbi. Arbi yang cuek dan tidak pernah peduli akan wanita-wanita yang mendekatinya membuat satu point plus untuk Arbi. Arbi juga bukan termasuk laki-laki munafik, Arbi laki-laki yang bertanggung jawab akan tugasnya, Arbi pintar, baik dalam hal akademik atau olahraga. Entah kenapa alih-alih memikirkan cara menolak Arbi agar Arbi tidak sakit hati, Raisa justru memikirkan berbagai kelebihan Arbi sebagai alasan untuk menerimanya. "Jadi....apa jawabanmu?...." Tanya Arbi to do point ketika Raisa sudah berdiri di hadapannya. "Aku....mau menjadi....kekasih Kakaak...." Gumam Raisa dengan wajah menunduk malu. Beberapa saat terjadi keheningan membuat Raisa bingung karena tidak ada tanggapan apapun dari Arbi yang menunjukkan kebahagiaannya karena penyataan cintanya diterima. Bukankah seharusnya Arbi berterima kasih, berteriak bahagia atau.....memeluknya. Merasa penasaran akhirnya Raisa pun mengangkat wajahnya untuk melihat wajah Arbi. Yang Raisa lihat kini adalah wajah tegang Arbi yang memperlihatkan keterkejutan yang amat sangat bagi Arbi. Setelah sadar dari keterkejutannya Arbi pun menatap Raisa intens sebelum menunjukkan senyumnya. Senyuman itu begitu manis dan benar-benar menunjukkan kebahagiaan Arbi karena perasaannya diterima. Senyuman itu pun berhasil menulari Raisa dan membuat Raisa yakin bahwa pilihannya untuk menerima cinta Arbi tidak salah. "Aku mencintaimu.... Raisa Arini... Kekasihku?!...." Ucapan bernada lembut dengan kata terakhir yang memastikan status mereka berhasil membuat Raisa tersenyum kikuk dengan wajah merona khas remaja yang pertama kali berpacaran. Flashback End "Hmmm..... semoga semua lancar Kaak...." Balas Raisa singkat dan akan meletakkan ponselnya di nakas karena berfikir Arbi tidak akan membalasnya. Namun niat itu urung saat ketika ponselnya kembali berbunyi pertanda masuknya pesan singkat dari Arbi. "Aku sangat merindukanmu...." Raisa tersenyum membaca pesan singkat Arbi Kata-kata rindu atau cinta yang Arbi ucapkan selalu berhasil membuat Raisa tersenyum dan merasa bahagia. "Ada apa? Kenapa Kau tersenyum seperti itu?...." Pertanyaan lembut terdengar dari Yoga yang baru keluar sari kamar mandi. "Eum...tidak....tidak ada apa-apa Mas.... Mas sudah siap?.... Nuri sudah menunggu..... Dia bersemangat sekali di hari pertamanya ke sekolah....." Ujar Raisa dengan wajah berbinar menceritakan balita berusia 4,5 tahun itu. "Hmm... Mas sudah siap.... Mas hanya perlu menyiapkan berkas-berkas kantor yang akan Mas bawa...." Jawab Yoga mengusap lembut kepala Raisa dan Raisa pun tersenyum manis kepada pria yang berstatus suaminya itu. "Kalau begitu cepatlah....Aku dan Nuri menunggu Mas untuk sarapan..." Raisa beranjak untuk keluar kamar sebelum Yoga menahan tanganya dan menarik Raisa lembut mendekat padanya dan mencium kening Raisa. "Kamu tahu Mas mencintaimu kan?...." Suara Yoga terdengar lembut dan merdu. Raisa tersenyum dan memeluk Yoga sebelum membalas perkataan suaminya itu. "Aku juga mencintai Mas.... dan Nuri tentunya...." Raisa tersenyum dan mencium pipi Yoga lalu berlalu meninggalkan Yoga. "Sampai kapan Kau akan menyembunyikannya ?!...." Yoga menatap nanar tubuh mungil sebelum menghilang keluar kamar. ~oO0Oo~ "Apa yang kau lakukan?....." Arkan bertanya heran melihat Arbi yang terus menatap ponselnya dengan wajah datarnya. "Dia tidak membalasnya....." Ucapan itu datar namun terdengar jelas rasa kecewa dan marah pada nada itu. "Arbi....mungkin dia sedang mengurusi suaminya.....ini masih pagi tentunya suaminya masih di rumah...." Jawab Arkan santai berusaha mengingatkan Arbi atas status Raisa kini. Arbi mengabaikan Arkan dan langsung memasukkan ponselnya di kantung celananya. "Sebaiknya kita berangkat....." Arbi beranjak membawa ranselnya menuju pintu keberangkatan di bandara. "Arkan.....kapan Aku libur?" Tanya Arbi ketika sudah duduk di kursi pesawat. "Jadwalmu masih padat hingga 2 bulan kedepan..... Setelah itu hanya ada beberapa undangan acara....." Jelas Arkan. "Untuk sementara jangan terima tawaran kerja apapun Kan....Aku ingin cuti setidaknya sebulan...." Arbi berucap sembari bersandar dan dengan mata terpejam. "Kau ingin liburan? Tidak biasanya...." Heran Arkan karena selama ini Arbi tidak pernah betah berdiam diri. Bagi Arbi, semakin Ia sibuk maka semakin jarang juga Ia mengingat Raisa. "Ya....Aku juga ingin menyelasikan misi....." "Apa ini berhubungan dengan Raisa...." "Hmmm.....Aku akan membuat Raisa kembali mencintaiku...." "Arbi, dia sudah memiliki suami dan mungkin juga anak.... Kau tega menghancurkan kebahagiaan mereka?...." Arkan mulai geram. "Mungkin..... Dulu Aku tidak bisa mempertahankannya.... sekarang Aku sudah bisa berjuang....karena itu Aku akan menjadikannya milikku.... Bagaimanapun caranya?....." Yakin Arbi. "Arbi, tapi-...." "Arkan,....ini masalah pribadiku.... Aku tau apa yang Aku lakukan....Percayalah....." "Hhhhh.... Baiklah..... tapi yang perlu Kau ingat.... jangan sampai apa yang kau lakukan membuatmu menyesal...." Nasehat? Arkan dan Arbi hanya bergumam sebagai balasan. ~o0O0o~ Tanpa terasa dua bulan berlalu. Hubungan Arbi dan Raisa sudah kembali dekat. Tiap hari Arbi mengirim pesan singkat atau bahkan menelpon Raisa. Dan Raisa pun semakin santai seolah mereka sudah kembali seperti dulu. Mereka belum pernah bertemu kembali selama 2 bulan itu karena kesibukan mereka. Dan kini apa yang Arbi tunggu akhirnya tiba. Arbi kini sedang menunggu Raisa di halte dekat apartementnya. Rencananya pagi ini Arbi ingin mengajak Raisa jalan-jalan. Awalnya Raisa menolak namun Arbi berhasil membujuknya. Flashback "Raisa, besok Aku sudah tiba di Jakarta...Aku ingin mengajakmu jalan..." Nada suara Arbi terdengar datar walau sesungguhnya Ia bahagia. Namun begitulah Arbi yang masih terbiasa mengeluarkan nada cueknya. "Ke mana Kaak?....Apakah lama?... " "Rahasia....Mungkin seharian...." "Sepertinya Aku tidak bisa Kaak.... Aku ada jadwal besok hingga siang...." "Tidak adakah dokter yang bisa menggantikanmu?...." "Ada Kaak...tapi..... Aku tidak bisa..." "Sekali ini saja.... Tidak bisakah?...." "Kaak.....Aku....." "Aku merindukanmu..... Sangat merindukanmu.... " walau bernada datar namun suara Arbi semakin lirih menunjukkan kesedihan dan kekecewaannya. "Tapi Kaak....Aku...." "Baiklah.....terserah padamu....Kakak tutup...." Tanpa menunggu jawaban Raisa, panggilan pun Arbi akhiri. Raisa terdiam merasa bersalah. Seharusnya memang itulah yang Raisa lakukan, menolak Arbi karena Ia sudah berstatus isteri Yoga. Namun mendengar nada kekecewaan dari Arbi membuat Ia merasa bersalah. Apalagi sejak mereka berhubungan dulu Ia tahu pasti bahwa Arbi tidak pernah memaksakan apapun padanya. Mendengar Arbi yang kini seolah memaksa untuk bertemu dengannya membuat Raisa yakin jika Arbi benar-benar berharap padanya. "Kakaak akan menjemput jam berapa? Aku akan menunggu di halte dekat apartementku...." Akhirnya Raisa mengirim pesan singkat itu pada Arbi 30 menit kemudian setelah menghubungi beberapa rekannya untuk mencari dokter yang bisa menggantikannya. "Jam 9...... Aku mencintaimu...." Balasan Arbi membuat Raisa tersenyum sekaligus menghela nafas. Raisa tahu Ia salah namun Ia merasa tidak bisa menjauhi Arbi. Hubungannya sekarang dengan Arbi membuatnya kembali mengingat dan merasakan kenangannya yang dulu bersama Arbi. Flashback End Arbi tersenyum ketika melihat Raisa berjalan ke arah mobilnya. Raisa berpenampilan sederhana namun terlihat sangat cantik bagi Arbi. "Bagaimana Aku bisa move on darimu jika setiap melihatmu jantungku berdetak cepat dan hanya Kaulah yang terlihat....." Gumam Arbi. "Maaf Kaak jika Aku lama... Tadi Mas Yoga..." Ucapan Raisa terhenti ketika Arbi langsung menariknya dalam dekapan ketika Raisa baru saja duduk di mobilnya. "Aku merindukanmu..... Sangat merindukanmu....." Ucap Arbi mengungkapkan isi hatinya sekaligus menghentikan kalimat Raisa yang pasti akan menyakitinya karena Raisa menceritakan mengenai suaminya. Raisa sempat terdiam namun kemudian Ia membalas pelukan Arbi. "Aku.....juga merindukan Kakaak..." Arbi langsung tersenyum lebar penuh kebahagiaan dan menghapus rasa sakit dihatinya ketika mendengar kalimat indah dari Raisa. Setelah sepuluh menit berpelukan, Arbi pun mulai melajukan mobilnya hingga tiba di suatu tempat. Arbi melakukan penyamaran dengan cara menggunakan jaket bertopi dan kacamata, begitu juga Raisa. "Kakaak.....kenapa kita ke sini?...." Tanya Raisa heran juga takjub karena kini Ia berada di sebuah rumah atap tempat banyaknya tersimpan kenangan mereka. "Untuk mengingatkanmu tentang kita.... ". Jawab Arbi singkat sembari merangkul pinggang Raisa mendekati pintu. " Tapi Kakaak.... " belum sempat Raisa berucap sudah terdengar suara 'cklekk' yang menandakan pintu rumah atap itu sudah terbuka. "Aku sudah membelinya 4 tahun yang lalu...." Ucap Raisa seolah menjelaskan pertanyaan Raisa yang belum terucap bagaimana Arbi masuk ke rumah itu sedangkan yang Ia tahu Arbi , Arkan dan Arya sudah tidak menyewa rumah atap itu sejak 5 tahun yang lalu. "Sudah 2 bulan Aku tidak kemari..." Ucap Arbi saat mereka memasuki rumah itu. Menurut Raisa, Arbi kini lebih banyak bicara atau menjelaskan mungkin karena mereka sudah tidak berkomunikasi selama 5 tahun. "Tapi rumah ini nampak rapi dan bersih seperti selalu dihuni...." Gumam Raisa. "Aku mempekerjakan seseorang untuk merawat tempat ini setiap hari.....termasuk tanaman di luar..." Jelas Arbi kemudian menghempaskan tubuhnya ke sofa. Rumah atap ini memiliki satu kamar tidur dan ruang santai yang menjadi satu dengan dapur dan hanya dipisahkan oleh meja pantry. Di ruang santai ini tersapat sofa panjang, televisi, karpet bulu tebal dan sebuah meja yang di letakkan di bagian tepi agar dapat meletakkan karpet bulu tebal itu di depan sofa dan bisa menonton televisi lebih santai dan luas. "Kakaa tiba di Jakarta jam berapa?...." Tanya Raisa melihat Arbi nampak masih lelah. "Jam 7 dan langsung menunggumu di halte...." Jawab Arbi dan merubah posisinya menjadi duduk kemudian mengulurkan tangannya meminta Raisa mendekat. Raisa terkesiap saat Arbi membawanya duduk di pangkuannya kemudian memeluk Raisa dan menelusupkan kepalanya di leher Raisa. "Aku lapar...." Lirih Arbimasih pada posisinya. "Ka....Kaak mau... A...ku memesan ma....kanan...." Ucap Raisa gugup dengan jantung yang berdegup kencang. Arbi menyeringai senang merasa berhasil membuat Raisa kembali mencintainya secara perlahan. "Tidak perlu.....Aku sudah meminta seseorang mengisi kulkas dengan bahan makanan...." Arbi sudah menegakkan kepalanya dan menatap Raisa yang kini wajahnya sudah merona. "Aku akan memasak.... " ucap Raisa berusaha santai dan bangkit dari pangkuan Arbi. Raisa akan beranjak sebelum Arbi menarik lengannya membuat Raisa berbalik. Cupp Raisa kembali terdiam saat tiba-tiba bibir Arbi sudah menempel di bibirnya. Walau hanya sekilas namun berhasil membuat Raisa terkejut sekaligus merasa melayang dengan banyak kupu-kupu berterbangan diperutnya. "Aku akan membersihkan diri...." Ucap Arbi tersenyum geli lalu beranjak menuju kamarnya meninggalkan Raisa yang masih belum sepenuhnya sadar dari keterkejutannya. "Aku tahu rasa cintamu masih ada untukku walau mungkin tidak sebesar dulu.... Namun Aku akan membuatnya kembali sepenuhnya untukku.... Dan Kau akan menjadi milikku juga takdirku...." Ucap Arbi dalam hati. ~oO0Oo~ Sepertinya rencana Arbi berhasil dengan membawa Raisa ke rumah atap karena kini Raisa sudah mulai kembali santai di dekatnya. Arbi banyak membahas dan mengingatkan Raisa tentang kebersamaan mereka dulu di tempat ini. Saat Arbi dan Arya membully Arkan di hari ulang tahunnya dan Raisa hanya tertawa dan merekamnya di handphone. Saat Arbi mengabaikan Raisa karena cemburu dengan kedekatan So Eun dan Arya namun Raisa tidak berusaha membujuknya. Akhirnya Arya pun menculik Raisa dan membawanya ke kamar dan menguncinya bersamanya. Saat pertama kali Arbi menyanyikan sebuah lagu untuknya di anniversary pertama hubungan mereka. Hampir semua kenangan mereka terjadi di rumah atap itu karena saat itu Arbi belum mampu membawa Raisa ke banyak tempat. Karena itu 4 tahun yang lalu saat Arbi sudah memiliki cukup uang, hal yang pertama kali Ia beli adalah rumah atap itu. "Wah.....Matahari sudah hampir terbenam.....Kakaak kemarilah...." Ajak Raisa yang sudah berdiri berpegangan pada dinding pembatas. Arbi tersenyum simpul dan mulai mendekati Raisa dan memeluk Raisa dari belakang. Raisa hanya tersenyum dan nampak menikmati kebersamaan mereka dan melupakan sejenak tentang hal lain. Saat Raisa tersenyum menikmati indahnya matahari terbenam, Arbi justru lebih menikmati aroma rambut dan leher Raisa. Arbi terus menciumi rambut dan kepala Raisa sesekali mengecup leher Raisa. "Aku mencintaimu...." Ucap Arbu sebelum membalik tubuh Raisa menghadapnya. Perlahan namun pasti Arbi mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Raisa untuk mencium bibir mungil Raisa. Raisa awalnya hanya diam dan menahan d**a Arbi agar tidak terlalu menempel padanya. Namun Arbi justru menarik pinggang Raisa dan mulai melumat lembut bibir Raisa membuat Raisa terlena dan tanpa sadar mulai membalas ciuman Arbi. Tidak lama Arbi melepas ciuman itu dan tersenyum kemudian membawa tangan Raisa untuk memeluk lehernya dan Arbi pun menarik pinggang Raisa lebih mendekat padanya kemudian kembali mencium bibir Raisa lebih intens dan b*******h dari sebelumnya dan Raisa pun mau tidak mau membalasnya saat lidah Arbi mulai bergerilya di mulut Raisa. Tanpa Raisa sadari mata Arbi menyeringai menatap tajam kepada seseorang yang sedang melihat kegiatan mereka sembari mengepalkan tangannya. "Kau lihat?!.... Raisa akan kembali padaku dan menjadi takdirku....bukan takdirmu Yoga Chandra...." Mungkin seperti itulah yang disampaikan melalui mata Arbi yang kini menatap tajam Yoga yang sedang berdiri ditangga yang menghadap pada mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN