Part 2

1877 Kata
Pukul 1 dini hari, Raisa baru selesai operasi dan ingin pulang. Namun langkahnya terhenti di lorong yang mengarah pada beberapa ruang rawat, salah satunya ruang rawat nomor 1603 yaitu ruang rawat Arbi. Arbi yang dulu tidak akan bisa tidur di malam hari jika sedang sakit kecuali ada yang menemaninya. Jika tidak ada yang menemaninya maka Arbi tidak akan tidur dan akan tidur di siang harinya. Cklek Sepelan mungkin Raisa membuka ruang rawat itu agar tidak mengganggu Arbi. Raisa berfikir mungkin Arbi sedang tidur di temani Arkan atau..... Celine ....atau salah satu teman wanitanya yang sering diberitakan di televisi. "Kakaak....." Bisik So Eun memanggil saat tidak menemukan Arbi di ranjangnya. Dan saat Ia berbalik ke arah balkon Ia terkejut saat mata tajam itu menatapnya. "Apa yang Kamu lakukan di sini?...." Suara itu berujar pelan tapi terdengar tegas. "Ak.....Aku ingin melihatmu...." Jawab Raisa gugup dan takut Arbi mengusirnya. "Kenapa....Kamu tidak tidur?...." Tanya Raisa lagi masih dengan kegugupannya. "Tidak ada yang menemani...." Jawab Arbi datar sembari melangkah tertatih mendekati Raisa yang berada di sebelah ranjangnya. "Kak Arkan ?...." So Eun mencoba terus bersuara untuk menghilangkan kegugupannya. "Anaknya sedang sakit...." Jawaban itu masih datar diikuti mata tajam yang semakin mendekat. Melihat langkah Arbi yang tertatih membuat Raisa ingin membantunya namun tubuhnya seolah terpaku karena tatapan tajam itu. Tatapan yang Ia rindukan. "Celine?...." "Dia bukan siapa-siapa?.....Aku tidak mempercayainya.... Aku tidak mempercayai siapapun...." Kini jarak Arbi dan Raisa tersisa satu meter saja. Tangan kiri Arbi kini sudah melingkari pinggang Raisa kemudian menarik Raisa mendekat. Secara perlahan Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Raisa. Cukup lama Arbi menatap setiap inci wajah Raisa yang sering Ia kecup jika gemas dengan setiap tingkah konyolnya jika menghibur Arbi. Hingga saat ini hanya Raisa yang bisa membuat moodnya berubah hanya dalam beberapa detik. Secara perlahan wajah Arbi semakin mendekat pada wajah Raisa yang entah sejak kapan sudah memejamkan mata gugup. Satu inchi lagi bibir mereka bertemu saat tiba-tiba ponsel So Eun berbunyi. "Mas Yoga Calling" So Eun membuka mata dan menatap Kim Bum sejenak sebelum menjawab panggilan dari suaminya itu. Arbi bergerak menjauhi Raisa menuju ranjangnya saat Raisa menjawab panggilan dari suaminya itu. "Iya Mas Yoga....." "........." "Mas sudah di depan?....." "......." "Eum..... Maaf.....sepertinya Aku akan lembur....." Raisa menatap Arbi sejenak seolah mempertimbangkan jawaban untuk Yoga. Raisa sedikit merasa bersalah namun Entah apa yang Yoga ucapkan sehingga berhasil membuat Raisa terkekeh dan membuat Arbi kesal dan.....cemburu?.... "Aku juga merindukanmu.... Love You too" "........." "Iya Mas....Sampai jumpa....." Klik Panggilan pun terputus namun Raisa masih sedikit terkekeh. "Aku akan menemani Kakaak...." Lirih Raisa merapikan selimut yang menutupi tubuh Arbi. "Tidak perlu.... " "Tapi Aku ingin....." Raisa berucap lirih namun tegas. "Pergilah....suamimu sudah menunggu..." Ketus Arbi dengan mata terpejam. "Kakaak yakin?....." Arbi terdiam tidak menjawab. Melihat Arbi terdiam Raisa pun duduk di kursi sebelah ranjang sembari menggenggam tangan kiri Arbi yang tidak di perban. Sesekali Ia mengusap rambut Arbi, hal yang Arbi sukai jika sakit. Raisa masih sangat hafal dengan semua kebiasaan Arbi. Termasuk jika Arbi tidak menjawab maka artinya Arbi tidak bersungguh-sungguh. "Terima kasih Kakaak karena tidak membenciku...... Maaf karena cintaku tidak cukup kuat untuk menentang keinginan orang tuaku saat itu....." Batin Raisa bersuara. "Aku ingin membencimu karena Kau tidak memperjuangkan cinta kita....tapi cintaku terlalu besar sehingga dengan mudah menghancurkan kebencian itu..... Walau Kau sudah memilihnya namun Aku tetap menunggumu.....Karena Aku yakin Kau lah takdirku......" Batin Arbi seolah menjawab. ~oO0Oo~ Pagi harinya saat Arbi terbangun, Raisa sudah tidak ada di sebelahnya membuat perasaannya kembali hampa. Ia tahu itu suatu kesalahan karena Ia mengharapkan isteri pria lain berada di sisinya. Tapi mau bagaimana lagi, cinta itu masih bercokol kuat di hatinya seakan tidak akan pernah pergi. "Aku juga merindukanmu.... Love You too....". Kalimat manis yang Raisa tujukan untuk suaminya itu sungguh lebih menyakitkan baginya daripada luka akibat kecelakaan itu. " Apa Kau sangat mencintai suamimu Arini?...." Batin Arbi merintih. Sejak dulu Arbi lebih suka memanggil Raisa dengan nama tengahnya, Arini, karena menurutnya itu lebih manis. Disaat hatinya tidak pernah goyah oleh wanita lain dan keyakinannya jika Raisa adalah takdirnya namun Raisa justru nampak sudah bahagia dengan keluarga kecilnya. "Namun di balik kebahagiaan itu masih ada celah untuk membuatnya kembali padaku kan?..." Lirih Arbi penuh tekad. Cklek Pintu terbuka dan masuklah Raisa dan perawat untuk memeriksa Arbi. "Bagaimana keadaan anda Tuan Arbi?....." Tanya Raisa sembari memeriksa tangan dan kaki Arbi. "Biasa saja....." Datar Arbi. "Oke.....kaki anda sudah membaik....besok sebelum pulang gipsnya sudah bisa dilepas..." Jelas Raisa. "Anda hanya sendiri Tuan Arbi?...." "Hmmm...." "Baiklah....jika ada yang Anda butuhkan silahkan tekan tombol merah itu....setelah ini perawat pria akan membersihkan tubuh Anda.....Saya per-...." Ucapan Raisa terhenti saat seorang perawat mencolek punggungnya kemudian berbisik. "Eum....Tuan Arbi ...Perawat-perawat ini mengidolakan Anda...dan mereka ingin berfoto dengan Anda jika tidak mengganggu...." Ujar Raisa dengan suara lembut dilengkapi senyum simpulnya membuat Arbi harus kuat menahan gejolak untuk memeluk wanita yang Ia cintai itu. "Boleh...." ujar Arbi berusaha menunjukkan senyumnya ditengah usaha kerasnya bersikap dingin di depan Raisa. Setelah berfoto dan selesai dengan pemeriksaan Arbi, Raisa dan perawat pun bersiap pergi meninggalkan ruang rawat Arbi. Arbi menatap punggung Raisa dengan segala pikirannya. "Kurasa inilah takdirku.... Mengalami kecelakaan dan dipertemukan lagi denganmu.... Ini seperti pertanda bahwa Aku harus memperjuangkanmu kali ini...." Bathin Arbi berujar yakin. ~o0O0o~ Ketika malam tiba, Raisa kembali mendatangi kamar Arbi untuk menemani Arbi. Ia sadar apa yang Ia lakukan mungkin suatu kesalahan karena statusnya Ia telah bersuami dan tidak seharusnya Ia menemani Arbi ketika malam dimana Arbi merupakan mantan kekasihnya. Namun hatinya tidak bisa tenang memikirkan jika Arbi sakit namun tanpa orang yang menemani. Lagipula tidak ada salahnya kan menemani teman yang sedang sakit, pikiran Raisa lagi untuk pembelaan atas apa yang Ia lakukan. Ruangan sudah gelap dan hanya cahaya lampu taman yang masuk lewat jendala lah yang menerangi kamar inap Arbi. Arbi nampak berdiri di depan jendela yang terbuka lebar sehingga angin malam masuk ke ruangan ini. "Sebaiknya Anda istirahat Tuan Arbi...ini sudah larut...." Ujar Raisa sudah memegang lengan kiri Arbi untuk membantu memapah Arbi ke ranjang. "Panggilanmu padaku seolah menunjukkan jika Aku orang asing....namun sikapmu masih sama seperti saat Kamu menjadi kekasihku....." Gumam Arbi menatap Raisa membuat Raisa terkesiap melepaskan tangannya yang memegang lengan Arbi. Ia merasa tidak siap akan kalimat Arbi. "Kenapa?.....Kau masih mencintaiku?...." Arbi bertanya lirih dengan tangan kiri yang bergerak mengusap kepala Raisa, turun ke wajah Raisa dan berhenti di tengkuk leher Raisa. Raisa masih terdiam terkejut dan gugup atas ucapan dan juga sentuhan Arbi. Perlahan wajah Arbi mendekati wajah Raisa. Raisa otomatis memejamkan matanya ketika bibir Raisa menyentuh keningnya kemudian kedua matanya, hidungnya dan kedua pipinya. "Aku merindukan mu....." Bisik Arbi sebelum mencium bibir Raisa lembut dan perlahan. Sedangkan Raisa hanya bisa terdiam dengan kedua tangan mengepal bingung akan apa yang harus Ia lakukan. Arbi yang sedang sakit dengan tangan kanan di perban tentu akan mudah bagi mendorongnya namun Raisa masih terdiam meresapi lembutnya bibir Arbi yang perlahan melumat bibirnya. Bayangan tentang pernikahannya dengaYoga tiba-tiba muncul dan membuat Raisa tersadar lalu mendorong Arbi hingga ciuman mereka terlepas. "Ini salah....." Lirih Raisa sebelum berjalan cepat keluar dari ruangan itu dengan mata berkaca-kaca dan penuh kebimbangan. "Ya....ini salah....namun Aku menikmatinya.... Dan Aku akan berusaha untuk mendapatkannya lagi.... Mungkin Kau sudah mencintai suamimu namun Aku yakin masih ada cinta untukku walau sedikit.... Dan Aku akan membuat cinta itu kembali utuh untukku....." Batin Arbi tersenyum sinis. ~o0O0o~ Keesokan harinya saat pukul 9 pagi, Raisa kembali ke ruang rawat Arbi untuk pengecekan akhir sebelum Arbi pulang dan melepas gips di tangan dan kakinya. Namun yang akan diperiksa justru masih terlelap. "Dia sulit sekali dibangunkan...." Ucap Arkan yang sudah tiba 30 menit yang lalu. "Pasti Dia baru tertidur setelah matahari terbit...." Ujar Raisa berusaha santai. Ada sedikit perasaan bersalah di hati Raisa mengingat Arbi mungkin tidak bisa tidur karena tidak ada yang menemani. Ciuman semalam juga sejujurnya masih terasa di bibirnya dan Ia merasa tidak seharusnya Ia masih menemui Arbi setelah kesalahan mereka semalam. Namun bagaimana pun juga Arbi adalah pasiennya karena itu Ia berusaha profesional. Walaupun alasan lainnya Ia ingin bertemu Arbi karena mungkin setelah ini Ia hanya bisa melihat Arbi di layar televisi. "Dia sudah biasa kurang tidur karena kesibukannnya...jadi Kau tidak perlu khawatir...." Ujar Arkan seolah tahu Raisa sedang khawatir dan merasa bersalah atas kondisi Arbi. Arkan sudah bersahabat lama dengan Arbi jadi Ia pun sudah sangat mengenal Raisa sejak Raisa menjadi kekasih Arbi. "Hmm.... Aku pergi dulu Kak Arkan....Aku harus memeriksa pasien yang lain....Kak Arkan bisa segera mengurus administrasi untuk kepulangan Kak Arbi... jadi nanti hanya perlu membuka gips-nya saja.... " "Baiklah...." Raisa pun tersenyum dan langsung beranjak setelah mendengar jawaban Arkan. ~o0O0o~ "Kita harus segera pergi....." Arkan berucap kesal. "Sebentar lagi....." Jawab Arbi sembari melihat jam kemudian melihat pintu kamar inapnya menunjukkan Dia menunggu seseorang. "Kau sudah mengatakan itu sejak satu jam yang lalu...." "Kau bisa menunggu satu jam yang lalu....jadi kau juga pasti bisa menunggu satu jam lagi...." Santai Arbi. Arkan yang mulai geram pun mengambil tas Arbi dengan tangan kanannya kemudian menarik kerah bagian belakang Arbi dan memaksa Arbi pergi. "Aku memang bisa menunggumu....tapi jadwalmu tidak.....dasar bodoh...." "Arkan, jangan mempermalukanku....atau Aku akan memecatmu...." Protes Arbi namun diabaikan oleh Arkan. "Sebelum Kau memecatku jadi managermu....Aku yang akan memecatmu jadi Artisku...." "Aku merindukannya....." Lirih Arbi ketika tiba di parkiran. "Wanita yang Kau rindukan itu Isteri Pria lain Arbi..... Jangan mencari masalah Bi.... Atau Kau akan kehilangan karier yang sudah susah payah Kau dapat...." Arkan berujar serius. "Dan Dialah alasanku berjuang untuk mencapai semua ini...." "Hhh..... Tidak bisakah Kau move on?... Kau bisa mendapatkan wanita lain...." "Aku tidak bisa....karena sejak bertemu dengannya, Aku sudah memantapkan dan meyakinkan hatiku bahwa Dia adalah takdirku...." "Dan itu tidak mungkin karena Ia sudah menjadi takdir Yoga, suaminya...." "Itu bukan takdirnya....itu baru pemberhentian sebelum Raisa mencapai takdirnya...yaitu bersamaku...." "Hhh....Baiklah.... Aku hanya akan mengingatkan....jika sampai skandal ini tersebar maka bukan hanya Kau yang hancur...tapi juga Raisa...." "Aku tidak akan menyakitinya...." "Oke....tapi untuk sekarang Kau tetap harus menyelesaikan jadwalmu...." Ucap Arkan memaksa Arbi masuk mobil. Tanpa mereka sadari seseorang menyeringai mendengar perbincangan artis dan mangernya itu. ~o0O0o~ "Aku akan pergi ke luar kota selama seminggu.... Setelah kembali, Aku akan menemuimu...." Raisa tersenyum membaca pesan singkat dari Arbi. Sejak sebulan yang lalu, tepatnya sejak Arbi keluar dari rumah sakit, hampir tiap hari Arbi mengirim pesan singkat pada Raisa. Arbi dan Raisa kembali bertukar kabar dan cerita melalui pesan singkat seperti tidak pernah terjadi apapun pada hubungan mereka. Pesan singkat mereka berisi pesan singkat biasa tanpa rayuan, atau kata-kata romantis. Namun hal itu tetap membuat Raisa mengingat masalalunya. Arbi memang tidak pernah memberikan pesan singkat yang manis atau romantis walau mereka sudah menjadi sepasang kekasih. Arbi tetap pada gayanya berkirim pesan yaitu kaku dan singkat tanpa tambahan pemanis (ungkapan sayang atau rayuan), layaknya teman. Namun tentu rasanya berbeda bagi Raisa karena rasa yang Ia miliki pun lebih dari sekedar teman. Dan akhirnya Ia mengetahui jika Arbi hanya berkirim pesan padanya. Arbi seringkali tidak membalas atau bahkan membaca pesan singkat dari teman lain jika itu tidak penting menurutnya. Tanpa bisa dicegah, kenangan Ia bersama Arbi pun kembali terbayang olehnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN