5 Tahun Kemudian
Brakk.....
Sebuah pintu terbuka secara kasar membuat sang pemilik kamar mengerjapkan mata, namun hanya sesaat. Setelahnya Ia kembali bergulat dengan selimutnya.
"Yak......apalagi yang Kamu lakukan hingga Kamu terlibat skandal lagi?....." Tanya pria berusia 30 tahun geram kepada artis asuhannya.
"Kau mengganggu tidurku ...." Gerutu sang artis, lebih tepatnya penyanyi, sembari menutup kepalanya dengan bantal.
"Huft.....Kau tidak lelah selalu membuat skandal Bi?....." Tanya Arkan sang manager.
"Aku tidak pernah membuatnya.....netizen saja yang selalu mencari beritaku...." Sangkal namja bernama Arbi Yudha.
"Tapi netizen tidak akan membuatnya jika Kamu tidak memancingnya...." Balas Arkan geram karena artisnya itu selalu menjawab ucapannya.
"Sudahlah....bukannya bagus netizen memberitakan Aku....setidaknya orang-orang akan selalu mengetahui tentangku...." Ucap Arbi bersandar pada kepala ranjang. Arbi terlihat tetap tampan walau kini Ia baru bangun tidur juga dengan rambut yang masih berantakan. Tinggi Arbi sekitar 170 dan tidak setinggi Arkan ataupun seputih Arkan. Kulit Arbi sedikit cokelat namun tampak bersih. Hidung mancung, rahang tajam, bibir tipis dan dilengkapi lesung pipi saat tersenyum menjadi pemikat tersendiri baginya. Selain suara dan lagunya, tentu wajah dan proporsi tubuh Arbi menjadi penambah nilai jualnya sehingga Arbi memiliki banyak penggemar.
"Semua orang atau 'seseorang' ?...." Cibir Arkan tanpa tanggapan Arbi.
"Sudahlah.....sekarang yang Aku tanyakan apa benar Kau berkencan dengan Celine?..." Tanya Arkan kembali membahas skandal yang langsung panas walau baru tersebar tadi malam.
"Kalau tanpa sengaja kami bertemu lalu saling menyapa dan tersenyum disebut kencan....maka Aku juga berkencan dengan semua fansku...." Jelas Arbi. Arbi malas menanggapi berbagai gosip tentangnya dengan beberapa wanita karena merasa percuma karena netizen tetap berspekulasi sendiri. Apalagi di negaranya ini memang penikmat berita lebih suka berita yang sedikit diberi bumbu daripada berita biasa saja.
"Tapi kenapa Celine hanya tersenyum saat ditanya seolah membenarkan berita itu?..." Heran Arkan.
"Kalau itu tanyakan sendiri padanya...." Jawab Arbu acuh sembari memejamkan mata masih dengan bersandar di dashboard ranjang.
" Baiklah..... Aku akan mengklarifikasinya.... Sekarang bersiaplah....kita akan ke bandara menemui rombongan 'Jejak Petualang'..."
"Hmmm.....5 menit lagi...." Arkan hanya mengangguk lalu keluar kamar dan menyiapkan makanan cepat saji yang sudah Ia bawa untuk sarapan mereka.
Arbi, lebih jelasnya Arbi Yudha Pratama merupakan artis atau penyanyi beraliran rock yang sedang naik daun. Ia memulai kariernya sejak 5 tahun yang lalu dan 2 tahun terakhir namanya semakin melambung. Suara yang bagus, wajah yang rupawan, senyum memukau, sudah pasti akan memiliki banyak penggemar terlebih Ia menciptakan hampir semua lagunya sendiri. Dia memang seorang rocker namun penampilannya tidaklah urakan. Berpisah dengan kekasih karena merasa masa depannya tidak terjamin membuat Arbi bertekad membuktikannya. Walaupun tidak sebagai orang kantoran namun Ia akan menunjukkan jika hidupnya mapan.
~o0O0o~
Tap....tap....tap...
Suara hentakan kaki yang terdengar cepat bersautan menandakan jika sang pemilik kaki sedang berlari.
"Pasien atas nama Arbi Yudha Pratama....hhh" ucapnya terengah di meja informasi rumah sakit. Setelah mendengar jawaban perawat itu Arkan pun kembali bergegas menuju ruang rawat. Dalam hatinya Ia mendumel sekaligus khawatir dengan keadaan artisnya itu. Baru tadi pagi Ia berdebat dengan Arbi mengenai skandalnya dengan Celine, siang ini dia menerima telpon yang memberitahukan jika Arbi kecelakaan lalu lintas. Sedangkan Dia baru saja menandatangani perjanjian jika Arbi akan ikut serta sebagai bintang tamu acara 'Jejak Petualang'. Melihat keadaan Arbi saat ini tentunya sudah pasti acara itu dibatalkan.
Saat memasuki ruang rawat itu terlihat Arbi berbaring masih belum sadarkan diri.
"Hhhh......bekerja denganmu selalu membuat jantung dan otakku bekerja ekstra....." Gerutu Arkan setelah memeriksa Arbi dan melihat Arbi hanya luka ringan. Hanya tangan kanannya yang diperban.
"Kalau begitu cari artis lain saja...." Lirih Arbi yang ternyata sudah sadar. Arbi tahu Arkan tidak akan melakukan itu karena mereka sudah bersahabat sejak lama dan Arkan bagai kakak bagi Arbi. Arkan sudah siap menjitak gemas kepala pria yang Ia anggap adik itu saat pintu terbuka.
Cklek
Pintu terbuka dan masuklah seorang dokter perempuan diikuti dua perawat pria dan wanita. Arkan menatap sang dokter terpaku hingga tanpa sadar mulutnya sedikit terbuka. Arbi masih menutup matanya tanpa peduli apa yang terjadi.
"Rai....sa? " Minho berucap tergagap.
"Kak Arkan....lama tidak bertemu bagaimana kabarmu?...." Sapa Dokter yang ternyata Raisa. Wanita yang berusia 27 tahun bertubuh ramping dengan tinggi 160 membuatnya terlihat mungil. Mata yang bersinar, pipi yang sedikit chubby, dan senyuman manis melengkapi kecantikannya. Rambut hitam sepunggung hanya diikat seadanya agar tidak berantakan
"Jika kalian ingin berbincang sebaiknya pergi...." Sinis Arbi masih memejamkan matanya. Raisa terkesiap kemudian menarik nafasnya mencoba menenangkan diri.
"Maaf Kaa.... Tuan Arbi...." Arbi diam tidak menjawab.
Raisa pov
Saat ini Aku sedang memeriksa pasienku, tepatnya Kak Arbi, cinta pertamaku. Sebelum memasuki ruangan ini Aku sudah berusaha menenangkan jantungku saat salah satu pasienku ternyata Kak Arbi. Sudah lima tahun berlalu dan kami tidak pernah saling bertegur sapa. Itulah yang membuatku gugup, apakah Dia akan bersikap biasa atau bersikap cuek karena membenciku. Dan semua terjawab saat ini...Dia membenciku....
"Apa yang Anda rasakan?...." Aku berusaha bersikap tenang.
"Tidak ada...." Jawabnya datar masih memejamkan mata.
"Kepala Anda sakit?...." Tanyaku lagi agar dia bersuara. Jujur Aku merindukan suaranya yang datar namun terdengar lembut. Bolehkah disaat Aku sudah....menyakitinya.
"Tidak...." Kembali suara datar yang terdengar. Entah kenapa Raisa ingin menangis saat ini. Bertemu dengan cinta pertama yang Ia sakiti setelah 5 tahun lebih sungguh pertemuan yang emosional.
"Bisa Anda buka mata Anda .... Saya harus memeriksanya...." Ujarku. Setelah 5 detik yang terasa sangat lama bagiku akhirnya mata tajam itu terbuka dan menatapku dengan tatapan tajam tak bisa terbaca..... Aku berusaha tenang dengan mencoba memeriksa matanya menggunakan senter kedokteran. Aku berharap dengan penerangan senter Aku dapat melihat arti tatapannya namun sepertinya tidak.
Setelah memeriksa matanya Aku pun mencoba memeriksa tangannya yang diperban. Tangan yang dulu selalu menggandengku, mengusap kepalaku, menarikku kepelukannya.
"Mungkin perban ini sudah bisa dilepas dalam 3 hari...." Ucapku menatapnya, Dia tidak menjawab namun tetap menatapku.
"Kaki Anda juga hanya cidera ringan.... Akan segera pulih...." Ucapku lagi. Aku pun kemudian menginterupsikan apa saja yang harus dilakukan perawat dan kapan saja harus mengontrol Kak Arbi. Kak Arbi....Sudah lama Aku tidak menyebut nama itu. Aku hanya memanggilnya seperti itu saat awal kami kenal. Namun setelah dekat, Aku tidak pernah memanggilnya seperti itu lagi. Entah kenapa berubah dengan sendirinya.
Dulu Dia kakak kelasku, karena itu Aku memanggilnya Kakak. Begitu juga dengan Kak Arkan. Namun Kak Arkan 2 tingkat diatasku. Dulu Aku tidak pernah bisa menyebut namanya. Aku hanya memanggilnya Kakak. Walau mungkin itu panggilan umum, namun Dia dan juga orang terdekatku, termasuk Kak Arkan akan tahu ada nada berbeda dalam panggilan 'Kakak' itu.
Tidak lama kemudian Aku pun pamit masih dengan tatapannya yang mengikutiku. Dia tidak berubah, matanya bisa terbuka sangat lama untuk mengikuti setiap pergerakanku, dan tatapannya yang seperti itu selalu membuatku gugup. Dulu Dia melakukan itu jika berfikir Aku membohonginya atau menyembunyikan sesuatu darinya. Dia akan menatapku terus hingga Aku menyerah dan mengatakan yang sebenarnya. Dan jangan lupakan jika Aku memeluknya terlebih dahulu untuk menutupi rasa maluku ketika Dia menatapku intens. Oh...Aku merindukan itu....Tapi bolehkah?....Aku wanita yang berstatus sudah menikah.....
Raisa Pov End
~oO0Oo~
"Wowww....." Setelah Raisa keluar dari kamar inap Arbi, hanya satu kata itu yang bisa Arkan ucapkan. Kemudian Ia pun menyipitkan matanya yang sudah sipit dan menatap tajam Arbi yang kini lebih memilih kembali memejamkan matanya.
"Apa ini rencanamu?...." Tanya Arkan menyelidik.
"Apa Kau gila?....Untuk apa Aku merencanakan kecelakaan beruntun yang melibatkan 5 mobil dan mungkin saja ada yang meninggal...." Ujar Arbi datar. Arkan mengangguk-angguk namun masih berfikir.
"Lukamu sepertinya tidak terlalu parah sehingga harus dirujuk dari Klinik....Dan Kau juga tidak terkejut saat Raisa masuk ruangan ini...." Ujar Arkan masih berusaha menggali informasi. Memang tempat kejadian kecelakaan itu jauh dari rumah sakit ini sehingga semua pasien awalnya dibawa ke Klinik terdekat dan hanya pasien yang lumayan parah saja yang dirujuk ke rumah sakit besar.
"Diamlah....Aku mau istirahat....." Arbi hanya mencibir.
"Sudahlah.....Aku harus pergi untuk mengurus schedule mu yang berantakan karena kecelakaan ini.... istirahatlah...." Arkan mengusap gemas kepala Arbi. Setelah kepergian Arkan, Arbi pun membuka matanya dan kembali mengingat bagaimana Ia bisa mengalami kecelakaan. Semua karena sesuatu hal yang Ia lihat mengacaukan konsentrasinya menyetir dan disaat bersamaan beberapa mobil di depannya berhenti mendadak. Ia yang tidak konsentrasi pun terlambat menginjak rem sehingga Ia menjadi mobil ketiga dalam kecelakaan beruntun itu.
Hal yang Ia lihat itu jugalah yang membuat Ia meminta di rawat di rumah sakit ini, Ia ingin memastikan sesuatu.