Part 14

1505 Kata
"Eunghh...." suara lenguhan Raisa yang menandakan Ia mulai tersadar akhirnya terdengar. Arbi pun berdiri mendekat dengan wajah khawatir yang begitu jelas. Sudah lebih dari 4 jam Arbi menunggu dengan sangat cemas, dan ketika Raisa mulai sadar tentu Arbi merasa lega walau masih ada rasa takut dan khawatir. "Arini... Sayang..." Panggil Arbi pelan agar Raisa yang masih mengerjapkan matanya bisa fokus setelah mendengar panggilannya. Dan hal itu berhasil. Raisa kini menatap wajah Arbi lekat seolah memastikan apa ini mimpi atau tidak karena seingatnya Arbi masih pergi ke luar kota hingga 2 hari kedepan. "Ka..kaak..." Lirih Raisa sedikit terbata karena mulutnya kering. Arbi menghela nafas lega saat mendengar Raisa mengenalinya. Seolah mengerti jika mulut Raisa kering dan Ia butuh minum, maka tanpa Raisa memintanya, Arbi pun segera mengambilkan segelas air putih dan sedotan untuk ia berikan pada Raisa. Dengan penuh kelembutan Arbi membantu Raisa agar Raisa bisa minum dengan mudah. "Aku... baik-baik saja..." lirih Raisa saat Arbi terus menatapnya intens setelah Raisa selesai minum dan gelasnya sudah Arbi ambil dan kembali diletakkan di tempat semula. "Jangan berbohong..." Ucap Arbi tidak kalah lirih dan matanya mulai berair. Raisa tersenyum tipis sembari mengangkat tangannya untuk membelai rahang Arbi. Arbi pun memegang tangan Raisa dan semakin menempelkannya ke pipinya. "Aku tidak berbohong... Aku akan selalu baik-baik saja saat Kau bersamaku... " Ucap Raisa tersenyum tipis walau matanya sudah berkaca-kaca. "Apakah ada yang sakit?..." Ucap Arbi lirih. Saat ini hanya mereka berdua di ruangan itu dan dengan jarak yang sangat dekat jadi tidak masalah jika mereka berbicara seolah sambil berbisik. Mereka juga nyaman berbicara seperti itu karena lebih merasa romantis dan intim. "Tidak... Aku hanya luka ringan... kepala ku pun sudah lebih baik..." "Jadi... Aku boleh memeluk dan mencium mu?..." Tanya Arbi penuh harap. Raisa tersenyum dan mengangguk. Tanpa menunggu lama, Arbi pun menunduk untuk mencium lembut bibir Raisa. "Aku merindukanmu... " bisik Arbi setelah mencium Raisa walau kini bibirnya masih didepan bibir Raisa seolah menandakan jika Ia belum selesai mencium Raisa. "Aku juga sangat merindukanmu... jadi cepat cium dan peluk Aku lagi..." Ucap Raisa walau dengan wajah memerah malu. Arbi pun tersenyum dan kembali mencium dan sedikit melumat lembut bibir Raisa seolah menyampaikan perasaan rindu dan takut kehilangan. Setelah selesai dengan ciumannya, Arbi pun memeluk Raisa erat walau tetap berusaha tidak menyakiti Raisa. "Aku mencintaimu... maafkan Aku tidak bisa melepaskanmu walau Kau terluka karena Ku... tapi Aku berjanji akan lebih menjaga dan melindungimu setelah ini... tetaplah bersamaku... Ku mohon..." Bisik Arbi dengan suara tertahan agar tidak terdengar bergetar dan menahan tangis. Walau pada akhirnya airmatanya pun menetes dan Ia tetap memeluk Raisa agar Raisa tidak melihat betapa tersiksanya Arbi karena merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Raisa, namun Ia juga tidak bisa melepaskan Raisa. "Hmm... Aku mengerti Kaak... Bukankah kita sudah berjanji berjuang bersama... Kau sudah melewati banyak kesakitan karenaku... Dan mungkin ini giliranku... Dan Aku yakin akan mampu Aku lewati jika Kau selalu bersamaku...." Lirih Raisa terharu akan cinta Arbi yang begitu besar. Arbi sudah menunjukkan kekuatan cintanya. Dan sekarang giliran Raisa yang menunjukkan kekuatan cintanya. "Ya... kita berjuang bersama..." Ucap Arbi setelah melepas pelukannya kemudian menatap Raisa lembut. Cklekkk Pintu ruang rawat Raisa terbuka membuat tatapan mereka kini fokus untuk melihat siapa yang datang. "Mama... Papa...." Gumam Raisa tersenyum. Papa Raisa pun membalas senyum Raisa dengan senyuman, berbeda dengan sang Mama yang justru menatap Arbi sinis. "Kau lihat... Baru beberapa saat bersamamu Raisa sudah menderita... Apa yang sebenarnya Kau lakukan?... Tidak bisakah Kau menjaga dan melindunginya?..." Mama Raisa meluapkan emosinya. "Mama..." "Sayang...." Raisa dan Papanya berusaha mencegah Mama Raisa mengeluarkan berbagai luapan emosi lagi yang mungkin akan semakin menyakiti Arbi. "Saya minta maaf Tante... Setelah ini saya berjanji akan lebih menjaga dan melindunginya lagi..." Ucap Arbi berusaha tegas walau tatapannya menunjukkan rasa bersalah yang kuat. "Sekali lagi ku lihat Raisa menderita... maka Aku tidak akan pernah merestui hubungan kalian..." Ancam Mama Raisa. Raisa pun menggenggam tangan Arbi agar Arbi kuat menghadapi Mamanya. "Saya akan berusaha sebaik mungkin..." Janji Arbi. Setelah terjadi keheningan beberapa saat, Papa Raisa pun mencoba mencairkan suasana dengan bertanya mengenai kondisi Raisa. Cklekk "Mama... Papa... " Suara riang Nuri langsung terdengar setelah pintu kembali terbuka. Raisa dan Arbi tersenyum menyambut Nuri. Begitu pun dengan Papa Raisa Namun Mama Raisa justru kembali memasang wajah datar mengingat jika Nuri pasti datang bersama kedua orang tuanya yaitu Yoga dan Shinta. Yoga dan Shinta yang menyusul masuk dengan senyuman dan sembari berangkulan otomatis terdiam sesaat ketika melihat adanya Mama dan Papa Raisa. Terlihat jelas jika Mama Raisa menatap penuh benci pada Yoga dan Shinta. "Mama..." " Tante..." Sapaan kaku Yoga dan Shinta di abaikan olah Mama Raisa yang justru mendengus sinis dan memalingkan wajahnya. "Sebaiknya Kami pergi... Hawa di sini sudah tidak nyaman bagi Mama..." Ucap Mama Raisa sinis. Tanpa menunggu tanggapan yang lain, Mama Raisa langsung berlalu keluar ruang rawat Raisa. Bahkan Mama Raisa pun meninggalkan suaminya begitu saja. "Hhh... Dimaklumi saja... Jangan terlalu difikirkan... Nuri, lain kali bermain bersama Kakek lagi ya..." Papa Raisa menghela nafas dan berusaha menenangkan wajah-wajah yang nampak tegang itu. Bahkan Nuri pun nampak mengernyit takut digendongan Arbi. "Oke Kakek... " Ucap Nuri tersenyum. Selama ini Kakeknya itu memang menyayanginya, berbeda dengan neneknya yang nampak cuek padanya. "Kis kis..." Ucap Papa Raisa menunjuk pipi kanan dan kirinya pertanda meminta ciuman dari cucunya itu. Nuri pun langsung menurutinya dengan tersenyum riang dan semangat. Papa Raisa pun kemudian keluar dari ruang rawat Raisa setelah mengusap kepala Raisa dan memberikan tepukan pelan di bahu Arbi. "Hhhaahhh...." Terdengar helaan nafas panjang dari Yoga dan Shinta setelah Mama Raisa pergi. "Raisa... sebaiknya Kau harus selalu bersikap baik pada Arbi karena Dia sudah mau bersusah payah menghadapi Mamamu yang sangat menyeramkan..." Ucap Shinta berbisik walau tentu masih bisa didengar ketiga orang lainnya. Raisa tersenyum tipis sembari menatap Arbi merasa bersalah. Arbi yang mengerti maksud tatapan Raisa hanya tersenyum menenangkan dan berusaha meyakinkan kalau Ia baik-baik saja dan tidak akan menyerah. "Sikap Mamamu langsung berubah setelah kejadian semua ini... padahal Aku sudah menemuinya untuk meminta maaf secara langsung... bahkan Aku sudah menjelaskan alasanmu agar Mamamu merasa bersalah dan mau mengerti perasaanmu... tapi sepertinya tidak berhasil ya...." Keluh Yoga. "Mungkin Tante merasa bersalah atas Raisa... tapi tetap saja Ego dan harga diri sebagai orang tua tidak mengizinkannya meminta maaf..." Ucap Shinta. "Sudahlah... Tidak perlu dibahas lagi... " Arbi menghentikan pembicaraan mengenai Ibunya Raisa karena tidak ingin Raisa semakin tertekan. "Bagaimana dengan orang yang menolong Arini dan yang ingin mencelakai Arini?...." Lanjut Arbi menatap Yoga serius. Yoga terdiam sesaat berfikir siapa 'Arini' itu dan kenapa bertanya padanya. Namun akhirnya Ia sadar bahwa Arini adalah nama tengah Raisa yang dijadikan panggilan sayang oleh Arbi. "Orang yang mencelakai Raisa sudah ditangani... Dia sudah ditahan... namun kemungkinan akan segera bebas dengan jaminan karena keluarganya termasuk keluarga kalangan atas... mungkin akan sulit menghadapi nantinya jika Kau ingin menuntutnya...." Jelas Yoga. "Sebaiknya tidak perlu diperpanjang..." Ucap Raisa. "Tapi jika tidak ditindak tegas Aku khawatir Dia akan kembali mencoba mencelakaimu..." Bantah Shinta. "Shinta benar..." Setuju Yoga sementara Arbi masih diam berfikir. Arbi juga khawatir seperti Shinta, namun Arbi juga tahu jika Raisa tidak ingin penggemar Arbi itu membenci Arbi jika Arbi menindak tegas perbuatannya. "Bagaimana menurutmu Bi?..." Tanya Yoga. "Nanti Aku akan membahasnya bersama Arkan... Lalu bagaimana dengan yang menyelamatkan Arini?.... Aku bisa bertemu dengannya?... Bukankah Dia di rumah sakit ini?..." Ucap Arbi. "Hmm... Kau sudah bisa menemuinya... Dia sudah sadar...." Jawab Yoga. "Aku juga ingin ikut...." Sahut Raisa. "Kamu mengenalnya?... Apakah Dia pria?..." Tanya Shinta menggoda yang langsung mendapat lirikan tajam dari Arbi. "Aku tidak tahu... Aku tidak sempat melihatnya kemarin..." Sahut Raisa santai disertai senyuman tipis melihat tanggapan Arbi. "Apa Kau sudah baik-baik saja?.... Jika belum pulih sebaiknya tidak perlu menemuinya dulu..." Tanya Arbi lembut sembari mengusap kepala Raisa. "Aku sudah baik-baik saja... Tidak enak jika Aku tidak menemuinya untuk mengucapkan terima kasih..." Jelas Raisa menatap Arbi lembut. "Baiklah... Aku akan membantumu...." Arbi pun membantu Raisa kemudian menggendong Raisa untuk didudukkan di kursi roda. Infus pun dipindahkan di tiang yang ada di kursi roda. "Kami juga akan ikut..." Ucap Shinta menyusul Arbi dan Raisa yang sudah akan keluar ruang rawat Raisa. Selama perjalanan menuju ruang rawat penolong Raisa, beberapa perawat dan dokter menyapa Raisa dan Arbi karena kebetulan Raisa dirawat di rumah sakit tempatnya bekerja. Beruntung rumah sakit itu cukup ketat pengawasannya jadi tidak sembarang orang bisa masuk jika tidak ada keperluan. "Di sini ruangannya..." Ucap Yoga kemudian mengetuk pintunya. Tidak lama seorang wanita paruh baya membuka pintu kemudian mempersilakan mereka masuk. Sepertinya wanita itu sudah mengetahui siapa Raisa karena melihat Raisa berada di kursi roda. "Kamu...." Raisa nampak terkejut melihat seseorang yang berada di atas ranjang pasien. Seperti dugaan Shinta bahwa Raisa dan sang penolong saling mengenal. Orang itu pun melambaikan tangan dan tersenyum manis kepada Raisa membuat Arbi mengernyit heran begitu juga Yoga dan Shinta. "Anda mengenal Raisa?..." Tanya Shinta. "Iya... Aku penggemarnya..." yakin orang itu. Arbi menatap Raisa yang nampak terkejut dengan jawaban itu. "Tapi.... Kau....itu...Arbi-...." Raisa tergagap dalam berucap semakin membuat Arbi mengernyit dalam. "Kenapa Dia di sini?.... Dia penggemar Arini?..." Arbi menatap tajam orang itu penuh curiga. To Be Continue
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN