Hari-hari berlalu dan bagi Raisa kehidupan berubah menjadi sangat menyenangkan. Senyum tak henti terbit di bibir Raisa mau pun Arbi. Selama beberapa hari ini Raisa cuti bekerja untuk merawat Arbi hingga sembuh. Mereka masih tinggal di rumah Arya yang di Bandung karena lebih aman untuk mereka terhindar dari wartawan atau paparazi. Sementara Yoga untuk sementara tinggal di rumah orangtuanya bersama Shinta dan Nuri untuk mencoba mendekati keluarga Yoga.
2 minggu berlalu dan Arbi memutuskan untuk kembali ke Jakarta mengingat Raisa sudah terlalu lama cuti. Sedangkan Arbi juga akan menghadiri beberapa acara yang mulai kembali Ia terima untuk secara perlahan menjelaskan kisahnya bersama Raisa agar diterima masyarakat terutama penggemarnya.
"Aku sudah merindukanmu..." Raisa tersenyum membaca pesan singkat dari Arbi. Baru saja mereka berpisah karena Raisa harus bekerja dan Arbi masih di apartement Raisa walau nanti siang Ia juga harus bekerja.
"Kakaak bermain dengan Nuri saja...??..." Raisa membalas pesan singkat Arbi sedikit menggoda sebelum akhirnya turun dari taxi dan memasuki rumah sakit.
Ketika akan memasuki rumah sakit, tiba-tiba seorang siswi SMP memberikannya sebuah balon udara. Raisa mengernyit heran. Namun sebelum sempat bertanya, siswi tersebut sudah pergi. Raisa pun hanya tersenyum karena dia terkadang memang mendapatkan hadiah tidak terduga dari pasiennya.
"Pagi dokter Raisa..." sapa Pak Sukamto salah seorang security.
"Pagi Pak Sukamto...." Balas Raisa ramah. Tepat ketika memasuki pintu geser rumah sakit, balon yang Raisa bawa pun pecah dan mengeluarkan taburan tepung yang membuat kepala dan tubuh Raisa tertutupi tepung. Seluruh yang pagi itu sudah berada di rumah sakit nampak terkejut.
Pak Sukamto dan beberapa suster datang mendekati Raisa untuk membantu Raisa membersihkan tepung dari tubuhnya.
"Apa yang terjadi dokter Raisa?..." Tanya suster Mira.
"Kenapa bisa ada tepung di dalam balon itu?..." Suster Rali menimpali.
"Entahlah..." Gumam Raisa.
"Seorang siswi tadi yang memberikan balon kepada dokter Raisa..." jelas Pak Sukamto.
"Sudahlah... Sebaiknya anda membersihkan diri ke kamar mandi... Apa perlu saya mengambilkan pakaian ganti dokter Raisa?..." ucap Suster Mira mengikuti langkah Raisa yang menuju ke ruangannya yang memang dekat dengan kamar mandi khusus dokter.
"Hmm Mira... tolong ambilkan di ruangan saya... saya ingin langsung ke kamar mandi karena mata saya pedih..." ucap Raisa mengedipkan matanya yang terkena tepung.
"Baik Dokter Raisa..." Sahut Suster Mira yang merupakan salah seorang suster kepercayaannya.
Setelah bersih dan berganti pakaian, Raisa pun kembali ke ruangannya masih di temani Mira karena sebentar lagi waktu praktek Raisa akan di buka.
"Dokter Raisa... tadi pagi ada yang mengirim hadiah ini melalui resepsionis..." ucap Mira sembari menunjuk sebuah kotak hadiah yang berada di meja kerja Raisa.
" Dari siapa?..." Tanya Raisa mendekati hadiah itu.
"Entahlah... tidak ada nama pengirim... Mungkin kejutan dari kekasih Dokter Raisa..." Ucap Mira menggoda Raisa yang ditanggapi dengan senyuman. Walau Raisa sedikit ragu mengingat Arbi yang seharian bersamanya dan tidak terlihat sedang menyiapkan kejutan untuknya.
"Aakhk...." Raisa terkejut ketika melihat isi dari kotak hadiah itu.
"Ada apa dokter Raisa?..." Tanya Mira melihat wajah syok dan ketakutan Raisa.
" Astaga..." Mira tak kalah syok melihat isi kotak itu yang berupa tikus mati yang perutnya dibedah dan masih banyak darah yang keluar.
"Mengapa ada orang yang memberikan ini kepada Dokter Raisa?..." Ucap Mira sedikit bergetar sembari kembali menutup kotak itu dan segera membuangnya ke kotak samapah setelah dilihat tidak ada surat atau keterangan pengirim.
"Tadi balon berisi tepung... sekarang kotak berisi tikus mati... siapa yang mengirimkan semua ini kepada anda Dokter Raisa?.... " tanya suster Sello yang baru datang membawa beberapa berkas pasien Raisa yang akan kontrol hari ini.
"Apa ini berhubungan dengan berita tentang hubungan Anda dengan Tuan Arbi?..." Ucap Mira teringat sesuatu. Raisa mengernyit bingung.
"Mungkin saja... Tuan Arbi kan penyanyi terkenal... " Sahut suster Selli.
"Kalau memang seperti itu, Anda harus menyampaikan pada Tuan Arbi, agar Tuan Arbi bisa bertindak..." Ucap Mira khawatir mengingat jika Fans Fanatik bisa sangat berbahaya.
"Mira benar Dokter Raisa...." Ucap Selli. Raisa terdiam sesaat sebelum akhirnya mencoba menanggapi apa yang terjadi dengan santai.
"Sudahlah... Mungkin ini hanya pekerjaan orang iseng... Nanti juga akan lelah... sekarang kita kembali ke pekerjaan kita... Kita sudah harus menerima pasien...." Ucap Raisa sembari menenangkan kedua suster yang sudah seperti adiknya itu. Mira dan Selli saling bertatapan sebelum akhirnya dengan terpaksa mengikuti kemauan Raisa walau masih ada sedikit rasa khawatir dalam pikiran mereka.
~oO0Oo~
2 minggu berlalu dan Raisa masih mendapat teror baik berupa paket menyeramkan atau berbagai surat ancaman. Raisa berusaha tidak menanggapinya dan mencoba tetap tenang walau sedikit banyak itu mempengaruhinya baik dalam bekerja maupun saat Ia sendiri di apartementnya. Ia sudah tinggal sendiri di apartementnya sementara Arbi sudah kembali ke apartementnya dan mulai kembali sibuk dengan bisnis. Walau sesekali mereka menyempatkan diri bertemu.
"Hai Sayang...." Ucap Arbi ketika menghubungi Raisa lewat video call.
" Hai...Kakaak baru pulang?... Sudah makan?..." Tanya Raisa tersenyum.
"Hmm.... Aku belum makan... Beberapa hari bersamamu, sekarang Aku merasa aneh melakukan semua sendiri..." Keluh Arbi.
"Benarkah?...." Raisa menganggapi dengan tersenyum tipis.
"Apa yang Kamu lakukan hari ini?... Kamu belum ingin tidur?..." Tanya Arbi setelah menghela nafas karena tidak bisa melakukan apapun selain ber-video call walau sejujurnya Ia sangat ingin menemui Raisa. Namun kini Ia sedang berada di luar kota untuk membuka cabang kafe yang sekaligus memiliki tempat karaokenya.
"Hanya di apartment saja..."
"Kamu tidak bekerja?... Ku kira Kamu banyak libur sebelumnya hingga sekarang Kamu akan sibuk... Jika tahu Kamu bisa libur, maka Aku pasti mangajakmu menemaniku kesini..."
"Selesaikan saja pekerjaan Kakaak dengan cepat..." Raisa berusaha tersenyum menutupi alasan liburnya hari ini.
Sesungguhnya Raisa memang seharusnya sibuk. Namun karena banyaknya teror yang datang untuk Raisa di Rumah Sakit sudah mulai mengganggu pekerjaan Raisa. Bahkan mengganggu kegiatan di rumah sakit. Kemarin ketika Raisa berjaga di UGD, ada seorang pasien yang Ia periksa karena mengeluh sakit perut. Namun ketika Raisa lengah, gadis itu mengambil sebuah pisau kecil yang Ia sembunyikan kemudian berusaha menusuk Raisa. Beruntung ada seorang perawat pria yang melihatnya dan menarik Raiaa menjauh sehingga Raisa berhasil menghindar walau masih terkena sedikit di lengan bawahnya.
Setelah kejadian itu, beberapa perawat menangkap gadis yang masih berusia 17 tahun itu. Pihak rumah sakit dan So Eun memutuskan untuk menyelesaikan masalah itu secara kekeluargaan mengingat pelaku masih bersekolah. Dan juga Ia tidak ingin nama Rumah Sakit tercemar. Terlebih Ia tidak ingin Arbi mengetahui masalah itu yang pasti membuat Arbi sangat khawatir.
"Kau menyembunyikan sesuatu?..." Arbi berucap serius saat melihat ekspresi Raisa yang nampak memikirkan sesuatu.
"Setelah Kakaak pulang kesini Aku akan menceritakan semuanya..." Hibur Raisa tidak mau menyembunyikan apapun namun juga tidak mengatakan sekarang karena tidak mau mengganggu konsentrasi Arbi. Arbi terdiam sesaat dengan masih menatap Raisa intens membuat Raisa gugup.
"Kakaak... jangan menatapku seperti itu.." Ucap Raisa mencoba merajuk.
"Kau tidak berniat meninggalkanku lagi kan?..." Gumam Arbi ragu dan cemas walau berusaha menunjukkan wajah tenangnya. Raisa terdiam sesaat kemudian tersenyum menenangkan.
"Aku sudah berkata akan berjuang bersama Kakaak... Jadi Aku akan menepatinya... Aku akan tetap berada disini saat Kakaak kembali..." Ucap Raisa yakin. Arbi pun kembali tersenyum dan mereka mulai kembali saling bercerita dengan semangat apa yang mereka lakukan hari ini.
~o0O0o~
Arbi berlari dengan tergesa keluar dari bandara meninggalkan Arkan yang harus menunggu koper mereka dari ruang bagasi. Arkan memakluminya namun Arkan hanya berharap Arbi berhati-hati walau ingin cepat sampai ke rumah sakit tempat Raisa berada. Bukan sebagai dokter, namun sebagai pasien.
Semalam tanpa sengaja Ia melihat berita dimana seorang wanita tertabrak motor. Biasanya Ia akan cuek melihat berita seperti itu, namun yang menarik perhatiannya adalah bahwa kecelakaan itu terjadi diduga dilakukan oleh salah seorang Fans Fanatik. Arbi langsung teringat Raisa dan menghubunginya namun tidak terhubung hingga akhirnya Ia menghubungi Yoga dan memintanya mencari tahu mengenai Raisa. Dan benar saja, ternyata yang menjadi korban di berita itu adalah Raisa.
Tidak peduli lagi dengan acara pembukaan kafe-nya yang mungkin akan tertunda, Arbi langsung meminta Arkan memesankan tiket pesawat yang baru tersedia pagi ini.
Cklekk
Pintu berhasil Arbi buka setelah menghela nafas sebentar agar tidak membuka pintu secara kasar karena yang Ia tahu dari Yoga jika Raisa masih tertidur.
"Kau sudah datang?!...." Ucap Shinta menyapa. Arbi tidak menanggapi karena langsung terfokus pada wanitanya yang masih terbaring dengan perban di kepala dan di tangannya.
"Tadi dia sudah bangun namun tertidur lagi karena obat dari dokter... keadaannya sudah baik-baik saja... beruntung kecelakaan itu tidak terlalu fatal..." lanjut Shinta menjelaskan sembari mendekati Arbi yang kini sedang menatap lekat Raisa seolah meneliti seberapa banyak luka di tubuh Raisa. Ia merasa sakit dan bersalah akan apa yang terjadi pada Raisa. Seharusnya Ia menyelesaikan masalahnya yang berhubungan dengan Raisa dan memastikan keamanan Raisa sebelum Ia pergi mengurus hal lain.
"Maafkan Aku..." bisik Arbi di telinga Raisa dengan suara bergetar penuh rasa bersalah. Kemudian Ia mengecup lembut kening Raisa. Sejujurnya Arbi ingin mencium dan memeluk Raisa lagi namun Ia tidak ingin membangunkan Raisa yang mungkin akan kembali merasa sakit saat terbangun.
Cklekk
"Owh... Kau sudah datang?!..." Ucap Yoga yang baru datang membawa sarapan untuk mereka.
"Sebenarnya apa yang terjadi?... Benarkah itu karena 'Fans fanatik' ku?..." Tanya Arbi dengan nada datar tanpa menatap Yoga dan hanya menatap Raisa sembari menggenggam tangannya. Yoga terdiam sesaat ragu untuk menceritakan sebenarnya karena mungkin Arbi akan merasa bersalah. Dan Dia takut Arbi akan berubah fikiran mengenai hubungannya dengan Raisa karena tidak ingin Raisa tersakiti.
"Apa Aku terlalu egois?... Walau Aku tahu kemungkinan nanti Raisa akan mengalami banyak hal yang membuatnya terluka atau tersakiti... tapi Aku tetap ingin Ia berada disampingku..." Ucap Arbi seolah tahu keraguan Yoga.
"Tidak apa-apa... Karena ku tahu saat ini juga Raisa tetap ingin bersamamu.. sudah saatnya kalian egois... Kamu hanya harus lebih menjaganya... " Ucap Yoga menepuk pundak Arbi menguatkan.
"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?..." Tanya Arbi kini menatap Yoga walau tangannya masih menggenggam tangan Raisa.
"Seorang wanita berusaha menabrak Raisa... beruntung ada yang menolongnya... Dia mendorong Raisa sehingga Raisa tidak tertabrak motor... namun karena dorongan itu, kepala Raisa terbentur dan tangan kanannya memar dan lecet karena beradu dengan aspal..." Terang Yoga.
"Lalu dimana sekarang penabrak dan yang menolong Raisa?..." Tanya Shinta yang juga tidak mengetahui lengkap karena Dia hanya menjaga Raisa di rumah sakit, sementara Yoga yang mencari tahu semuanya.
"Penabrak sudah di kantor polisi untuk ditangani... sementara yang menolong Raisa, Dia juga dirawat di rumah sakit... kondisinya tidak beda jauh dengan Raisa... " Ucap Yoga mulai membuka makanan yang Ia bawa.
"Makanlah... Aku juga lapar sekali..." Lanjut Yoga. Yoga dan Sinta memang menjaga Raisa sejak semalam, kemudian sibuk menindaklanjuti masalah itu sehingga belum sempat sarapan padahal sekarang sudah pukul 10 pagi.
"Arbi, makanlah..." Ucap Shinta.
"Nanti saja... setelah Arini sadar..." Ucap Arbi kembali menatap Raisa dan mulai berkelana dengan pikirannya cara mengatasi masalah ini agar tidak ada lagi yang ingin melukai Raisa.