Part 11

1744 Kata
"Mengenai hubungan Raisa Arini dengan Arbi Yudha seperti yang diberitakan.... Saya tidak berhak ikut campur dan semua terserah mereka karena sesungguhnya Saya dan Raisa Arini sudah bercerai...." Ucapan Yoga berhasil membuat tubuh Arbi menegang sedangkan Raisa semakin terisak. Arbi terdiam dengan keterkejutannya dan berbagai pertanyaan. Namun perasaan yang lebih kuat adalah rasa marah karena Yoga menceraikan Raisa yang jelas mencintai Yoga bahkan rela di duakan. Namun pernyataan Yoga selanjutnya berhasil mengalihkan perhatian Arbi kepada Raisa. "Saya dengan Raisa Arini sudah bercerai hampir 5 tahun yang lalu... Dan setelahnya baru saya menikahi Shinta.... Sa-...." Arbi sudah tidak mendengar lagi apa yang Yoga jelaskan karena kini seluruh perhatiannya sudah tertuju pada Raisa yang mulai melepas pelukannya dari Arbi. "Kaak Arbi....A..Aku.... " Raisa masih sedikit terisak sehingga Ia sulit berkata-kata. Arbi memejamkan matanya berusaha meredam segala gejolak emosinya sebelum mengeluarkan beribu pertanyaannya untuk Raisa. "Kapan?...." Arbi bertanya lirih dengan nada datarnya. "Hampir 5 tahun yang lalu.... 6 bulan.... Setelah pernikahan...." Jawab Raisa gugup. Arbi kembali terdiam. Banyak pertanyaan yang ingin Ia lontarkan hingga Ia sendiri bingung mana yang terlebih dahulu. "Kenapa Kau menyembunyikannya?...." Raisa terdiam memikirkan bagaimana cara mulai menjelaskannya. "Kamu.... Sungguh-sungguh mencintai.... Yoga?.... " Diantara banyaknya pertanyaan yang berkecamuk di otaknya, Arbi lebih memilih pertanyaan ini untuk kembali memastikan perasaan Raisa. Fakta yang terungkap ini seolah mematahkan segala yang Raisa katakan tentang rasa cinta Raisa pada Yoga. Apalagi Arbi selalu merasa Raisa masih mencintainya walau Raisa selalu membantahnya. Raisa terdiam kemudian menatap intens Arbi. Ia mencoba memantapkan hatinya akan keputusannya kali ini. Ia tidak peduli jika Ia egois saat ini. Ia ingin bahagia.... Bersama orang yang Ia cintai juga sangat mencintainya. Sudah cukup penderitaan mereka karena berpisah dan kini saatnya mereka berjuang bersama untuk meraih kebahagiaan mereka. "Aku mencintaimu Kaak.... Masih mencintaimu.... Selalu mencintaimu.... Tidak pernah berubah...." Raisa berucap dengan nada bergetar menahan tangisnya sembari mengusap pipi Arbi. Ia sudah memutuskan untuk jujur akan perasaannya. Dan Raisa pun sudah berjanji pada dirinya bahwa Ia akan menjelaskannya dan membuktikannya jika Arbi tidak mempercayai pengakuan cintanya. Setetes airmata lolos dari mata Arbi disusul senyum Arbi sebelum Ia menarik Raisa ke dalam dekapannya. "Aku tahu perasaanku tidak salah.... Aku masih merasakannya.... Merasakan jika Kamu masih mencintaiku.... " Suara Arbi bergetar haru. Raisa pun tersenyum bahagia karena Arbi yang selalu mempercayainya. "Aku mencintaimu Kaak.... Maafkan atas kebohonganku yang menyakitimu....hikz.... " Ucap Raisa masih dalam dekapan Arbi. "Hmm.... Aku tidak peduli... Yang terpenting sekarang Kamu sudah kembali padaku.... Aku mencintaimu Arini.... Sangat mencintaimu.... " Ucap Arbi sesekali mencium pucuk kepala Raisa. Setelahnya tidak ada lagi kata-kata yang mereka ucapkan, mereka hanya menikmati kebahagian mereka dengan pelukan itu. Cup Setelah terdiam hampir 30 menit, Arbi kembali mencium kening Raisa sebelum tersenyum dan menatap intens Raisa. "Kamu kembali....." Lirih Arbi dengan nada dan senyum haru masih antara percaya dan tidak karena baru kemarin Ia merasakan seolah dunianya hancur, namun kini dunianya kembali bersamaan dengan kembalinya Raisa padanya. "Ya.... Aku kembali Kaak.... Arini mu kembali....hikz..." Raisa kembali menangis haru. Rasa bahagia yang benar-benar bahagia akhirnya Ia rasakan kembali. Rasa yang Ia pikir tidak akan pernah Ia dapatkan namun akhirnya Ia rasakan kembali. "Arini-Ku...." "Kak Arbi-Ku...." Setelahnya mereka berdua tertawa geli penuh kebahagiaan. Dulu mendengar sebutan itu (Arini-ku dan Kak Arbi-ku) terasa manis namun sekarang terselip rasa geli mengingat mereka yang sudah tidak lagi diusia remaja. "Aku lapar...." Ucap Arbi tiba-tiba sedangkan Raisa mengernyit heran karena mereka baru saja makan. "Tadi Aku tidak bernafsu dan hanya memasukkan makanan itu kemulutku tanpa merasakannya.... Ayolah...masakkan Aku makanan..." Ucap Arbi memeluk dan menciumi pipi Raisa. Raisa tersenyum kecil melihat sifat manja Arbi yang muncul. Selama memasak, Arbi tidak pernah melepaskan Raisa sedikit pun. Ia memeluk Raisa dari belakang dan sesekali menciumi leher dan rambut Raisa. Raisa hanya menikmatinya karena sudah lama sekali mereka tidak bermesraan seperti ini. Jika pasangan lain yang bertindak intim seperti inj, mungkin mereka langsung pindah ke ranjang karena gairahnya yang naik. Namun tidak bagi Arbi dan Raisa. Mereka hanya menikmati cinta dan kebersamaannya tanpa memikirkan nafsu atau gairah. "Apakah Nuri, anak Yoga dan Shinta itu?..." Gumam Arbi. "Hmm.... Karena mereka merasa Aku adalah penolong mereka maka mereka menambahkan namaku di nama Nuri... Nuri Arini..." Jawab Raisa. "Aku membenci Yoga.... Aku pikir Aku akan membenci anaknya juga... Apalagi kupikir Nuri anakmu dengannya.... Tapi Aku tidak bisa membenci Nuri..." Jujur Arbi sementara Raisa hanya tersenyum. "Kakaak orang yang sangat baik Kaak walau Kakaak nampak dingin... Walau mungkin Kakaak tidak menyukai Mas Yoga, Aku tahu Kakaak tidak membencinya... Kakaak orang yang sulit membenci dan mendendam... Apalagi membenci Nuri... Tidak akan ada yang bisa membenci Nuri... Cup..." Ucapan Raisa diakhir dengan kecupan yang Ia berikan di pipi Arbi yang sejajar dengan wajahnya karena Arbi yang menopangkan dagunya di bahu Raisa. "Hmm... Dia cantik dan menggemaskan... Cup..." Kim Bum balas mengecup pipi Raisa. "Setelah kelahiran Nuri, kami memutuskan untuk mengatakan kepada keluarga kami bahwa Nuri anak angkat kami... Selain karena tidak ingin Mas Yoga sulit menemui Nuri karena status rahasia pernikahan mereka, kami juga ingin Nuri dekat dengan kakek dan neneknya... Karena itu kami membawa mereka ke Jakarta dan Mbak Shinta tinggal di apartement sebelah.... Beruntung orangtua Mbak Shinta menerima keputusan mereka..." Jelas Raisa. "Kenapa Kamu tidak mengatakannya kepada kepada keluarga kalian?..." "Kesehatan Ayah Mas Yoga sedang buruk... Dan juga..." "Dan juga?..." "Aku ingin terbebas dari Ibuku..." "......" "Mungkin setelah Ibu tahu, Ia akan meminta ku bercerai dengan Mas Yoga... Setelahnya Ia pasti akan menjodohkanku lagi... Aku tidak mau itu.... Setidaknya dengan status ku sebagai isteri Mas Yoga, Aku terbebas dari perjodohan Ibu...." Ujar Raisa sendu. Arbi mematikan kompor sebelum membalik Raisa agar menghadapnya. "Kenapa Kamu tidak mengatakannya padaku.... Setidaknya Kamu tidak sendiri... Dan Aku bersedia menjalani hubungan rahasia seperti Yoga dan Shinta asal bersamamu..." Ucap Arbi lembut mengusap wajah sendu Raisa. "Saat itu Aku tahu Kakaak sedang merintis karier... Dan Aku tidak mungkin menjadi penghambat..." "Kamu tidak...." "Dan Aku tidak mungkin menggantungmu dengan hubungan yang tidak pasti..... Mengingat... Ibu yang tidak pernah merestui kita...." Setetes airmata lolos dari mata Raisa mengingat sang Ibu yang selalu menentang hubungannya dengan Arbi membuat Raisa kembali memikirkan bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Arbi. Arbi menghela nafas sebelum menarik Raisa ke dalam pelukannya. "Secepatnya Aku akan menemui Orangtuamu...." Yakin Arbi. Kali ini Arbi tidak akan menyerah. Dulu Ibu Raisa, Prastiwi, menolaknya dengan alasan tidak yakin Arbi mampu menghidupi Raisa dengan penghasilannya yang tidak pasti. Namun kini Arbi sudah memiliki segalanya jadi Prastiwi tidak akan memiliki alasan untuk menolaknya lagi. "Aku akan bersama Kakaak.... " Ucap Raisa menunjukkan bahwa kali ini Raisa akan berjuang bersamanya. ~oO0Oo~ Ting...tong....ting...tong Bell terdengar berbunyi di rumah yang Arbi tempati dan Arbi dengan malas-malasan membukanya mengingat Ia tidak mau diganggu ketika Ia sedang bersama Raisa. "Hai...." Sapa Yoga dengan santainya dan senyum sok akrabnya. Arbi mengernyit heran karena kedatangan Yoga dan juga sikap Yoga yang tidak sedingin biasanya. Yoga yang ini adalah Yoga yang santai dan ramah, sikap yang biasanya hanya Yoga tunjukkan pada orang terdekatnya. "Raisa..." Sapa Yoga pada Raisa yang baru keluar dari dapur. "Mas Yoga...." Sahut Raisa ceria dan berniat memeluk Yoga, begitu pun dengan Yoga. Namun hal itu tidak terlaksana saat Yoga terhenti karena ada yang menarik kerah belakang kemeja-nya. "Kamu fikir apa yang akan Kamu lakukan?...." Tanya Arbi geram sembari terus menarik belakang kerah kemeja Yoga layaknya kucing, hingga Yoga berdiri di sebelah Shinta. Sementara Raisa hanya terkekeh geli melihat sifat posesif Arbi. "Hei.... Aku hanya ingin memeluk adik sekaligus malaikatku...." Protes Yoga namun diabaikan oleh Arbi yang lebih memilih merangkul pinggang Raisa dan membawanya menduduki sofa disusul Shinta. "Arbi, seharusnya Kamu berterima kasih kepadaku karena membuat rencana Kamu yang seolah bunuh diri....hingga akhirnya Raisa kembali padamu.... kalau tidak, mungkin saat ini Raisa masih menangis di kamarnya.... " Protes Yoga yang berhasil membuat Arbi menatapnya dan berfikir Arbi akan berterima kasih dan bersikap baik padanya. Namun,.... "Jangan sok akrab denganku...." Ujar Arbi dingin dan menatap tajam Yoga. "Dan jika Kamu ingin Aku berterima kasih seharusnya Kamu mengatakan semuanya pada ku sejak 5 tahun yang lalu..." Ucap Arbi lagi dan kali ini dengan tatapan membunuhnya. Yoga pun terdiam merasa bersalah karena saat itu yang Ia fikirkan hanya kebahagiaannya dengan Shinta dan juga calon anak mereka. "Kaak...." Raisa menegur Arbi agar Arbi tidak terlalu keras pada Yoga melihat wajah Yoga yang merasa bersalah. Namun Arbi hanya menatap tajam Raisa pertanda tidak ingin dibantah. Suasana pun tiba-tiba hening. "Arbi Yudha.... Kamu tampan sekali...." Suara Shinta yang terdiam dari tadi akhirnya berhasil memecah keheningan. Raisa, Arbi dan Yoga menatap Shinta terkejut. "Aku mengidolakanmu...." Lanjut Shinta. "Shinta...." Desis Yoga yang semula sendu menjadi penuh emosi. "Bolehkah Aku memelukmu?..." Ucap Shinta mengabaikan Yoga. "SHINTA...." Teriak Yoga membuat Shinta berjengit kaget. Melihat Shinta yang kaget juga nampak sedikit takut membuat Yoga yang ingin memarahi Shinta pun tidak bisa melakukan apa-apa sehingga Yoga memilih bangkit dan keluar menuju mobilnya. "Apa Dia benar-benar terpesona padanya?..." Batin Yoga kesal sembari terus melangkah. Tanpa sadar Yoga teringat Shinta yang sejak tiba tadi menatap Arbu dan tersenyum tipis bahkan mengikuti Arbi dan duduk disebelahnya. Yoga tadi tidak mempedulikannya karena sibuk berdebat dengan Arbi. Yoga tahu sejak dulu Shinta memang mengidolakan Arbi namun tidak pernah membahasnya karena Ia tahu Yoga pencemburu. Dan Yoga cukup senang ketika Shinta bercerita jika Ia membenci Arbi yang meremehkannya dan meminta Shinta menjauhi Yoga. Namun sepertinya pesona Arbi mampu meluluhkan kebencian Shinta. "Dasar Pria sempurna menyebalkan...." Gerutu Yoga setelah tiba di mobilnya sembari menjedutkan keningnya ke setir seolah ingin menghilangkan pikiran buruknya. Sementara Shinta yang melihat kepergian Yoga justru hanya tersenyum dan menggendikkan bahu cuek. "Mbak..." Raisa berucap heran penuh tanda tanya. "Bukankah lucu...kemarin kita berada disekeliling Yoga seolah memperebutkannya dan Arbi sendiri... Tapi sekarang Yoga sendiri.....dan kita disini seolah memperebutkan Arbi..." Ucap Shinta santai namun berhasil membuat perhatian Raisa dan Arbi tertuju padanya. Arbi dan Raisa tahu ada maksud lain dari semua yang Shinta ucapkan atau pun yang akan Shinta ucapkan. "Arbi, Kau berkata Yoga pria mempesona... Tapi menurutku Kamu juga mempesona... Bahkan mendapat julukan The Perfect Star..." Ucap Shinta sembari menyentuhkan ujung telunjuknya di pipi Arbi. "Semua wanita pasti bahagia dan ingin memilikimu...." Shinta berbisik dengan nada menggoda dan semakin mencondongkan tubuhnya ke Arah Arbi. Arbi terus menatap intens Shinta sementara Raisa hanya bisa mengalihkan matanya merasa sakit dengan apa yang Ia lihat. Wanita yang Ia sayangi seperti kakak sendiri sedang menggoda kekasihnya. "Seperti Yoga....Apa Kau bersedia berbagi Arbi dengan Mbak-mu ini Raisa?..." Tanya Shinta santai dan menatapnya penuh senyum seringai. Raiaa bagai tersambar petir dan terdiam menatap Shinta intens.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN