"Ini rencanamu?....." Tanya Shinta menatap Yoga menyelidik. Yoga hanya tersenyum sembari fokus pada kemudinya.
Flashback
"Lakukan dan katakan apapun di konferensi pers yang bisa melindungi Arini... Walaupun Kamu sudah menduakan Arini, tapi... Entahlah... Aku masih percaya dan yakin jika Kamu akan melakukan apapun untuk Arini...." Suara Arbi terdengar datar.
"Lalu bagaimana dengan kariermu?.... Raisa mengkhawatirkan kariermu di dunia entertaintment...." Ucap Yoga.
"Kamu tidak perlu memikirkanku.... Karena Aku memang sudah ingin pergi dari dunia ini...." Ucap Arbi sedih. Jadi sebenarnya maksudnya Arbi meninggalkan dunia ini adalah dunia entertainment, bukan dunia sesungguhnya. Dan beruntung Arbi mengucapkan kalimat itu dengan nada yang benar-benar sedih jadi bisa mendukung rencana Yoga menipu Raisa.
Walau tujuan awalnya masuk dunia entertainment hanya untuk menunjukkan bahwa walau Ia hanya bisa bernyanyi namun Ia bisa menjadi pria mapan. Dan sekarang Ia sudah mendapat banyak hasil dari pekerjaannya sebagai penyanyi dan membuat usaha dengan uang itu. Jadi tidak ada masalahnya jika Ia mundur dari dunia entertainment. Namun Arbi tetap sedih karena saat Ia menjadi Idola, Ia merasa dicintai oleh penggemarnya. Cinta yang sulit Ia dapat dari orangtua ataupun lingkungannya. Hanya Raisa, Arkan dan Arya yang benar-benar tulus menerimanya.
Flashback End
"Akhirnya Kau sadar juga dari kebodohanmu...." Cibir Shinta kembali menatap ke depan. Yoga mencebik kemudian mencubit pelan pipi Shinta merasa gemas dengan cibiran Shinta.
"Aku hanya merasa Raisa sudah memutuskan maka Aku hanya harus menurutinya.... " Bela Yoga.
"Ya... Itu karena Kau bodoh.... "
"Aish.... Sudahlah.... Yang penting sekarang Aku sudah melakukan sesuatu.... "
"Ya.... Ya.... Ya... Walau terlalu lama..."
"Ck... Mulutmu itu.... Aku benar-benar ingin menciumnya...." Yoga berucap kesal sekaligus gemas dengan mulut Shinta yang suka sekali membantahnya.
"Coba saja..... Wekkk...." Shinta menjulurkan lidahnya mengejek Yoga karena Yoga tidak akan bisa melakukan ancamannya disaat Ia sedang mengemudi. Yoga mengusap gemas kepala Shinta kemudian menariknya dan membawanya kepelukannya. Shinta pun dengan senang hati menurutinya bahkan Ia langsung memeluk Yoga dari samping.
"Selanjutnya apa yang akan terjadi?.... " Gumam Shinta mulai serius.
"Selanjutnya.... Kita akan berjuang bersama.... Sudah saatnya kita menghadapi semuanya.... Menghadapi segala konsekuensi atas apa yang kita lakukan...." Jawab Yoga.
"Semoga perjuangan dan pengorbanan Raisa tidak sia-sia.... " Ucap Shinta.
"Hmm.... Mudah-mudahan..... " Ucap Yoga sedikit ragu.
"Asal Arbi bersamanya.... Kurasa Raisa akan baik-baik saja....." Ucap Shinta lagi.
"Yah.... Semoga Raisa bisa bersikap egois untuk kali ini.... Kalau tidak, percuma kita meninggalkannya bersama Arbi....." Lanjut Shinta.
"Hmm...." Yoga membalas singkat nampak tidak fokus dengan apa yang Shinta ucapkan sehingga membuat Shinta curiga.
"Apa yang Kau fikirkan?...." Tanya Shinta melepas pelukannya dan kembali keposisi semula. Yoga menghela nafas keras.
"Yoga..... Kau menyesal melakukan ini?.... Kau menyesal mengembalikan Raisa pada Arbi.... Kau mencin-....Aww....." Belum selesai Shinta mengucapkan kalimatnya, Yoga sudah terlebih dahulu menjitak kepala Shinta. Shinta meringis sementara Yoga membelokkan mobilnya memasuki parkiran sebuah kafe.
Yoga menghela nafas sebelum menghadapkan tubuhnya pada Shinta yang masih meringis dengan mata berkaca-kaca. Yoga tahu itu bukan karena jitakannya melainkan karena pikiran bodohnya.
"Aku mencintai Raisa...." Tubuh Shinta menegang.
"Hanya sebagai adik.... Dan sebagai malaikat penolongku... Bukankah Aku sudah sering mengatakannya.... Sedangkan cinta sejatiku hanya Kamu... Shinta, Isteriku...." Ucap Yoga lembut sembari mengusap kepala Shinta yang Ia jitak. Shinta langsung memeluk Yoga menyembunyikan wajahnya yang sudah basah.
"Aku tadi memikirkanmu.... Mungkin setelah ini Kamu akan menghadapi banyak hal buruk.... Aku mengkhawatirkanmu...." Ucap Yoga.
"Aku bisa menghadapinya.... Asal Kamu selalu bersamaku....Raisa punya Arbi untuk berjuang bersamanya.... Dan Aku mempunyaimu untuk berjuang bersamaku.... " Shinta mengucapkannya sembari mendongakkan wajahnya untuk melihat wajah Yoga. Yoga tersenyum kemudian langsung memagut bibir Shinta yang begitu dekat dengan wajahnya. Shinta terkesiap sesaat namun pada akhirnya Ia pun membalasnya.
~oO0Oo~
Cklekk
Suara pintu terbuka dan Raisa muncul melalui celah pintu untuk melihat penghuni kamar. Sejak Arbi memasuki kamar, Raisa hanya terdiam di ruang tamu dengan banyak pikirannya. Bahkan saat Yoga dan Ara pergi pun Ia tidak terlalu mempedulikannya. Hingga pukul 5 sore Arbi belum juga keluar kamar dan Raisa berinisiatif memasak mengingat sebentar lagi waktunya makan malam.
Setelah menyiapkan makan malam Raisa mengetuk pintu kamar Arbi berulang kali namun tidak mendapat jawaban membuat Raisa khawatir mengingat wajah pucat Arbi tadi. Seperti dugaan Raisa, Arbi sedang bergerak gelisah diranjangnya dengan keringat yang mengucur.
"Arini?!...." Lirih Arbi ketika menyadari kehadiran Raisa.
"Kaak...." Raisa menatap Arbi panik kemudian mendekati Arbi untuk memeriksanya. Arbi mengalami gangguan lambung karena makan yang tidak teratur juga kelelahan serta stress.
Dengan sigap Raisa membuka pakaian Arbi untuk membersihkan tubuh Arbi dari keringat dan mengganti pakaiannya. Kemudian Raisa menyuapi Arbi bubur dan memberi obat yang kebetulan tersedia di tas Raisa.
" Arini...." Arbi memanggil Raisa saat Raisa akan beranjak dari kamar Arbi untuk membawa piring kotor ke dapur.
"Ada apa Kaak?..." Tanya Raisa heran.
"Kamu akan kembali kan?...." Arbi berucap lirih dan ragu. Raisa tersenyum tipis dan mengangguk kemudian langsung beranjak. Arbi sendiri langsung memejamkan mata berfikir.
"Apa Kamu mengerti maksud 'kembali' yang ku maksud?..." Batin Arbi. Arbi takut Raisa mengira maksud 'kembali' itu adalah pulang ke tempat suaminya berada. Cukup lama Arbi menunggu namun Raisa tidak juga kembali membuat tanpa sadar airmata menetes dari pelupuk mata Arbi.
"Kamu pergi?!...." Arbi berucap sedih.
Cklekk
Pintu terbuka dan akhirnya muncullah Raisa.
"Maaf Kaak, Kamu lama menunggu... Aku makan dulu... Aku bener-benar lapar..." Raisa berucap santai belum menyadari ekspresi terkejut Arbi.
"Ka...Kaak....maksudmu 'kembali' ke sini kan?... Ke sisimu?...." Kali ini Raisa yang ragu dengan pemikirannya akan kalimat Arbi karena Arbi menatapnya seolah tak percaya. Arbi memejamkan mata dan menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Raisa.
"Aku mengantuk... Temani Aku...." Ujar Arbi sembari menepuk ranjang kosong sebelahnya meminta Raisa berbaring di dekatnya. Canggung dan gugup namun Raisa tetap menuruti Arbi. Setelah berbaring, Raisa langsung menggenggam tangan kiri Arbi dengan tangan kanannya seperti dulu yang Ia lakukan ketika Arbi sakit.
Arbi membalas genggaman tangan Raisa kemudian membawanya ke atas dadanya. Agar lebih nyaman, Raisa pun mengubah posisinya menjadi miring menghadap Arbi. Raisa tersenyum melihat wajah damai Arbi yang entah sejak kapan sudah terlelap. Mungkin karena sudah lama Arbi tidak bisa tidur nyenyak sehingga saat Raisa berada di dekatnya, Ia bisa mudah terlelap.
"Apa salah jika Aku egois saat ini Kaak?.... Maaf membuatmu menderita karena keputusanku...." Lirih Raisa sebelum memejamkan mata ikut terlelap.
~oO0Oo~
Pagi hari akhirya tiba, perlahan mata Arbi mulai mengerjap dan akhirnya terbuka. Beberapa saat Arbk menerawang mengingat apa yang terjadi dan mencoba meyakini bahwa Arini-nya benar-benar menemaninya semalam. Belum sempat Arbi menerawang lebih jauh, Arbi mencium wangi rambut yang Ia sukai disusul dengan sebuah pergerakan. Menunduk sedikit akhirnya Arbi melihat wajah Raisa menempel didadanya dengan tangan Raisa memeluk pinggangnya.
Arbi sedikit tidak yakin apakah ini mimpi atau kenyataan hingga mata Raisa terbuka menatapnya kemudian senyum manis Raisa berikan untuknya. Arbi ingat semalam Ia hanya memeluk tangan Raisa dan kini Ia terbangun dengan posisi yang tidak terduga, Ia terbangun dengan Raisa yang memeluknya dan tentunya Ia juga memeluk Raisa.
"Pagi...." Sapa Raisa dan berhasil menyadarkan Arbi. Raisa memilih Yoga, Arbi ingat pasti itu. Seharusnya Arbi mengusir Raisa saat ini agar Ia tidak merasakan sakit yang lebih dalam. Tapi Arbi merasa tidak ingin melewatkan hal ini mengingat sudah lama sekali Ia tidak mengalami hal ini, terbangun dan langsung melihat senyum dari wanita yang Ia cintai.
"Pagi...." Ucap Arbi tersenyum sembari merapikan sedikit rambut Raisa yang menutupi wajah Raisa.
" Cup....cup....cup....cup...muachh...."
Secara perlahan dan lama Kim Bum mengecup kening Raisa, disusul kedua mata Raisa dan hidungnya. Raisa hanya tersenyum seolah menikmati kegiatan yang dulu sering Arbi lakukan ketika terbangun melihat Raisa karena dulu hampir setiap pagi Raisa mendatangi rumah atap Arbi untuk membangunkan Arbi.
Terakhir Arbi mencium bibir Raisa dan memagut dengan lembut bibir mungil Raisa dan Raisa pun membalasnya. Ciuman mereka terhenti ketika merasa mereka sudah membutuhkan oksigen.
"Kenapa Aku tetap merasa jika Kamu.... Masih mencintaiku... " Lirih Arbi menatap intens Raisa sembari mengusap bibir Raisa berusaha menghapus saliva yang sedikit membasahi sekitaran bibir Raisa. Raisa kembali tersenyum walau kali ini terselip senyuman miris yang menunjukkan perasaan bersalahnya.
"Kaak.... Aku.... " Arbi menunggu apa yang ingin Raisa ucapkan. Sedangkan Raisa menghela nafas dan nampak bingung dengan apa yang akan Ia ucapkan.
"Kaak.... Mas Yog-...."
"Sudahlah.... Aku mengerti.... Sekarang Kamu boleh pergi.... Ku rasa Aku sudah lebih baik.... " Ucap Arbi sembari membalikkan tubuhnya kesal mendengar Raisa mengucapkan nama pria lain disaat mereka bersama. Raisa tersenyum kecil sebelum memeluk Arbi dari belakang masih dengan posisi berbaring di ranjang.
"Kaak, sejak kapan Kakaak tidak mau mendengar ucapanku hingga selesai?..." Tanya Raisa.
"Sejak Kamu lebih sering mengucapkan kalimat yang menyakitiku...." Perasaan bersalah kembali muncul membuat d**a Raisa kembali sesak.
"Maaf...." Suara Raisa bergetar membuat perasaan bersalah kini muncul di hati Arbi. Arbi menghela nafas.
"Tidak .... Itu bukan salahmu... Tidak ada yang bisa memaksakan perasaan.... Dan Kamu hanya mengungkapkan perasaanmu...." Hibur Arbi. Ya, bagaimana perasaanmu, sakit atau senang bukan karena orang lain tapi karena diri sendiri yang terlalu berharap.
Hening, itulah yang terjadi selama 30 menit hingga Raisa melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 10.30 wib.
"Kaak, konferensi pers akan dimulai... Kakaak tidak ingin melihatnya?..." Tanya Raisa memecah keheningan.
"Tidak.... " yakin Arbi.
"Bagaimana jika Aku ingin Kakaak melihatnya?!..." Tanya Raisa gugup. Arbi terdiam dengan sedikit rasa heran karena Ia tahu dalam konferensi pers itu hanya Akan menjelaskan bagaimana Arbi mengejar dan memaksa Raisa, itulah kesepakatan yang Ia ucapkan pada Arkan yang kini ikut dalam konferensi pers itu.
"Aku ... Akan menjelaskan semuanya setelah kita menonton konferensi pers itu...." Ucap Raisa lagi.
Setelah membersihkan diri dan sarapan atau makan siang karena kini sudah pukul 11.20, akhirnya Arbi dan Raisa sudah duduk di depan televisi menunggu acara konferensi pers yang akan dimulai pukul 11.30 wib.
"Sebenarnya apa yang akan pria itu katakan sehingga Aku harus menonton konferensi pers ini?..." Tanya Arbi sedikit geram dan seolah tidak sudi menyebut nama suami Raisa, Yoga. Raisa yang duduk di sebelah Arbi walau berjarak hanya bisa terdiam gugup.
"Lagi pula, penjelasan apa yang ingin Kamu katakan?... Bagiku, karena Kamu mencintainya itu sudah cukup sebagai alasan Kamu memilihnya walau Dia menduakanmu...." Ucap Arbi datar berusaha meredam emosi yang selalu ingin meledak jika mengingat Yoga yang menduakan Raisa.
"Kaak.... Mas Yoga tidak.... "
"Cukup... "
"Kakaak... Dengarkan dulu... Jangan menuduh Mas Yoga seperti itu... "
"Sudah cukup... Walau Kamu tidak mencintaiku... Tapi bisakah Kamu tidak selalu membelanya di depanku... Jika tidak ingin Aku menghinanya, maka jangan pernah membahasnya di depanku..." Ucap Arbi kini menatap Raisa sendu penuh luka. Raisa terdiam seolah sadar Ia kembali melukai Arbi.
Acara konferensi pers sudah akan dimulai dan sudah terlihat di tayangn televisi jika Arkan, Yoga, Shinta dan Pengacara Yoga sudah duduk menghadap pers seolah siap menjelaskan semuanya pada pers.
Arbi memejamkan matanya ketika melihat interaksi Yoga dan Shinta yang begitu dekat. Arbi tidak ingin Ia kembali menghina Yoga yang berakhir dengan pembelaan Raisa akan Yoga dan tentunya akan kembali menyakiti Arbi.
"Untuk apa Wanita itu berada di sana?" Pertanyaan itu muncul di pikiran Arbi. Berbagai spekulasi muncul namun terhenti ketika Ia merasakan tangannya digenggam seseorang yang ternyata Raisa.
"Saya Yoga Chandra akan menjelaskan mengenai pemberitaan tentang affair antara isteri Saya dengan Arbi Yudha... " Suara Yoga berhasil mengalihkan Arbi dari Raisa namun tangan Raisa masih menggenggam tangan Arbi erat.
"Tidak benar bahwa Isteri Saya menjalin affair dengan Arbi Yudha... Saya percaya Isteri Saya sangat mencintai Saya.... " Arbi kembali memejamkan mata merasa sakit mendengar kalimat Yoga walau mungkin itu faktanya.
"Saya juga sangat mencintai isteri Saya, Shinta...." Kalimat Yoga yang kali ini berhasil membuat Arbi membuka matanya juga membuatnya emosi ditambah Yoga yang menggenggam juga menatap Shinta penuh cinta.
"Dia...." Arbi benar-benar ingin meledak saat ini melihat Yoga yang mulai menunjukkan hubungannya dengan Shinta di depan umum yang pastinya menyakiti Raisa.
Seharusnya saat ini Arbi yang menenangkan Raisa. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Nampak Raisa yang memeluk Arbi dari samping sembari mengusap punggung Arbi seolah berharap Arbi lebih tenang walau Ia juga menangis saat ini.
Terdengar kasak kusuk diacara konferensi pers yang mempertanyakan tentang Raisa yang mereka ketahui sebagai isteri Yoga.
"Mengenai hubungan Raisa Arini dengan Arbi Yudha seperti yang diberitakan.... Saya tidak berhak ikut campur dan semua terserah mereka karena sesungguhnya Saya dan Raisa Arini sudah bercerai...." Ucapan Yoga berhasil membuat tubuh Arbi menegang sedangkan Raisa semakin terisak.
To Be Continue