Matahari sudah terbit sejak satu jam yang lalu, namun mendung menutup sinarnya pagi itu. Janur berdiri di dekat jendela dengan wajah termenung. Matanya menatap ayunan di taman tanpa fokus sedikit pun. Pikirannya melayang ke berbagai lompatan random. Tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini sementara semua hal-hal ganjil terus bermunculan di sekeliling mereka. Sejauh ia menimbang dan memikirkan keadaan di sini, Janur justru terhentak oleh keinginan untuk pulang. Tadi malam, Drajat dan Yani kembali membujuknya untuk kembali ke Semarang. Yani bahkan melontarkan kalimat yang menyakitkan, meski ada benarnya. “Untuk apa kamu ngurusin keluarga yang nggak mau ditolong? Kalo aja mereka mau tegas, Genta harus mengakui semua dan menebus sendiri dosa-dosanya! Mungkin bukan salah dia, tapi apa iya

