Usai sholat Genta masih duduk bersimpuh. Matanya menatap ke depan tanpa berniat untuk bangkit. Suara Pedro yang masih menceritakan kisah mereka selama ini, terdengar dari tempat Genta berdoa. Badai masih berlangsung di luar. Tidak ada tanda-tanda berhenti. Dengan malas, akhirnya ia menggerakkan tubuhnya untuk bangun dari bersimpuh. Kakinya terasa berat untuk melangkah. Kamar yang ia gunakan sebagai tempat beribadah ini masih rapi dan bahkan selimut terlipat di atasnya. Sepertinya orang tua Alin cukup berada. Kabin yang mereka sewa ini memiliki interior yang mewah dan lengkap. Di bawah, ada ruang sauna dan jacuzi yang bersebelahan dengan gudang dan tempat laundry. Sayang, mereka datang hanya untuk mengantar nyawa. Genta kembali melangkah pelan. Hal yang ia tidak sukai berikutnya adalah

