Kedatangan Mama

1166 Kata
Sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan gerbang rumah berlantai dua yang megah nan mewah. Joana menyusuri jalan menuju pintu utama. Nampak taman dengan bunga - bunga yang indah dan tertata rapi. Tanpa mengetuk pintu atau pun mengucapkan salam, Joana langsung saja masuk ke dalam rumah itu. " Tante..... tante..." Ucap Joana dengan suaranya yang lantang. " Ee..... Joana..." Sahut seorang wanita paruh baya yang masih sangat cantik sambil menuruni anak tangga dari lantai dua. " Tanteee..... tante terlihat sangaaat cantiik..." " Kau bisa saja Joana, tante tidak mau menyaingi Joana ...." Ucapnya lagi tersenyum. " Tanteeee......" Jawab Joana dengan rona merah di pipinya. " Sepertinya Joana sibuk akhir - akhir ini?" " Joana baru pulang dari Eropa tante....." Mereka melanjutkan perbincangan di ruang tengah. " O.... ya tante, kemaren aku sempet lihat Devano jalan bareng cewek kampung tante...." Mendengar ucapan Joana, wanita itu tersenyum lalu menyesap secangkir teh yang tersaji di depan nya lalu berkata , " Joana.... bukankah kamu harusnya sudah faham perilaku anak bujang tante itu?" " Iya sih tante.... tapi aku takut kalau perempuan itu akan mempengaruhi Devan tante..." Ucap Joana mendesak wanita dengan style kekinian namun tak menutup aura keibuan nya. " Sudahlah Joana... tante tahu betul sifat anak tante... ayo di minum tehnya," pinta mamanya Devano. Malam hari di tempat Devano. Nampak Devano dan Puspa sedang duduk menikmati makan malam mereka. Suasana di antara mereka sangatlah hening. Bahkan dentingan dari benturan sendok dan piring mereka pun jarang terdengar. Hanya Devano sesekali menatap Puspa yang sedang sibuk dengan makanan nya. Padahal dia sedang sibuk merencanakan untuk bisa pergi dari tempat yang membosankan itu. " Emmm...." Kata itu keluar dari bibir Puspa dan menoleh ke arah Devano, tapi hanya tatapan dingin yang ia dapatkan. " Apa aku bisa pulang???" Lanjut Puspa dengan memasang wajah memelas nya. " Tidak," sahut Devano " Kalau besok?" " Sampai keadaan aman," jawab Devano lagi. Tiba - tiba mereka mendengar ketukan di pintu apartement Devano. Devano membuka pintu itu dan betapa terkejutnya dia saat mengetahui mamanya datang ke sana. " Deg...." " Mama...." " Apa kau tega membiarkan kaki mamamu ini jadi pegal Devan?" Kalimat itu sungguh mengejutkan Devano yang belum siap menerima kedatangan mamanya ke apartement nya secara mendadak dan jelas saja Devano bingung jika mamanya tahu ada seorang gadis di dalam sana dengan pakaian yang tak pantas karena sekertarisnya yang tak kunjung datang. " Oh... masuk ma...." Wanita bernama Diah Ayu itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartement. Dia melewati ruang tamu dan akan masuk ke ruang tengah. Devano mencoba mencegah mamanya tapi wanita dengan gaya rambut pendek sebahu itu tak menghiraukan apa yang Devano katakan. " Apa kau tadi sedang makan Devan?" " iya ma...." Jawab Devano sedikit lega mengetahui Puspa tak lagi berada di sana dan hanya tersisa makanan dengan satu piring yang tadi Devano gunakan dan belum menghabiskan isi di dalamnya. Mamanya duduk tepat di kursi yang tadi Puspa duduki lalu berkata," kenapa kau tidak menghabiskan makanan mu Devan?" " Emm.... aku sudah tak berselera ma...." Jawab Devan menutupi kegugupannya. Mamanya berdiri dan beranjak menuju kamar Devano tapi Devano berusaha mencegahnya. " Ma.... mama sebenarnya ada perlu apa datang tiba - tiba tanpa memberi tahu Devano lebih dulu?" " Apa mama tidak boleh mengunjungi anak mama sendiri?" Jawab sang mama sambil membuka pintu kamarnya. Tak ada siapa - siapa di sana namun kamar itu begitu wangi dan harumnya begitu lembut jauh dari parfum yang sering Devano gunakan. " Hah.... untunglah...." Dalam batin Devano seraya mengelus d**a. " Tapi kemana gadis itu? Ah sudahlah yang penting mama tidak melihatnya ada di sini." Fikir Devano. " Ayo ma.... kita duduk di ruang tamu saja," ajak Devan. " Brak..." Mama devano terkejut mendengar suara itu lalu menoleh ke arah anak lelaki tertua nya itu seakan bertanya tentang apa yang baru saja dia dengar. Devano mengangkat pundaknya lalu berkata," mungkin sabun yang aku letakkan tadi terlalu minggir jadi jatuh karena tiupan angin mungkin ma..." " Apa kamu mengganti parfum mu? " Tanya wanita itu kembali saat merasa ada yang aneh dengan putranya. " Iya.... ma... Edi membelikan parfum baru tapi aku kurang suka karena terlalu lembut seperti parfum wanita," ucapnya berkelit. Mendengar penjelasan Devano itu mamanya hanya menangkat alisnya lalu mengikuti anaknya menuju ruang tamu. " Sebenarnya ada apa mama ke sini, kenapa tidak memberi tahu Devano?" " Devan, meski kamu sudah besar tapi mama masih saja merasa gusar dengan pemberitaan di media tentang kedekatan mu dengan seorang gadis." " Devan... kau harus berhati - hati dan melihat lebih jeli apa yang sebenarnya gadis - gadis itu inginkan..." Lanjut mamanya. " Mama... Devan tahu betul wanita seperti apa yang Devan inginkan." " Baiklah kalau begitu, mama pulang dulu, kau harus ingat pesan mama." " Apa perlu Devan meminta Edi untuk mengantarkan mama?" " Tidak perlu, supir mama sudah menunggu di bawah. O...ya Devan besok atau lusa adikmu akan pulang kalau bisa kau jemputlah dia di bandara..." " Iya ma..." Devano mengantarkan mamanya sampai ke depan pintu apartement nya. Dia merasa lega wanita yang melahirkan nya itu kini telah pergi tanpa tahu kebenaran yang sesungguhnya. Dia segera menutup pintu dan kembali masuk ke apartement nya. Rasa lega kini berganti dengan penasaran. " Sebenarnya di mana gadis itu berada?" Devano mengerutkan keningnya. Dia melangkahkan kaki menuju kamarnya dan membuka pintu. Nampak gadis dengan kimono mandi sedang sibuk memilih lembaran - lembaran kain yang mungkin bisa ia gunakan. " Ehem.... " Devano berdehem. " Aaa... mengagetkan saja, apa kau tidak bisa mengetuk pintunya," Puspa menunjuk ke arah pintu. " Ini kamarku..." Jawab Devano sementara Puspa terdiam mendengar itu. " Sebenarnya apa yang kau cari?" Lanjut Devano. " Apa kau tidak lihat kalau aku tidak punya baju," jawab Puspa kesal. " Kemana kemeja yang tadi kau gunakan?" " Basah terkena air saat aku mandi." Devano membuka daun pintu lemari di sebelah yang Puspa buka. Ada banyak lembaran kemeja berwarna gelap tersusun rapi di sana. " Nah.... kau bisa memilihnya sendiri...." Puspa sibuk memilih kemeja mana yang kiranya ingin dia pakai. Sambil memilih dia bertanya pada Devano. " Apa sekertarismu belum kembali juga?" " Belum memangnya ada apa?" " Kenapa lama sekali? Apa terjadi sesuatu padanya? Aku risih memakai baju seperti ini terus... rasanya agak aneh...harusnya kau antarkan saja aku pulang..." Keluh Puspa. Tak berkata apapun Devano mengambil benda pipih penghantar informasi dengan cepat itu dari kantong celananya. Dia menekan tombol memanggil pada nomor yang di berinama sekertaris Edi. " Tuuuttt....Tuuut....." Hanya suara itu yang dapat Devano dengar dari panggilan nya. Beberapa kali sudah Devano melakukan panggilan ulang namun tak kunjung ada jawaban. Devano mematikan handphone nya dan memasukan lagi ke dalam sakunya. Dia menoleh ke arah Puspa yang telah selesai memilih kemeja dan berdiri ikut mendengarkan suara panggilan telfon itu. " Apaaa... ada yang aneh? Sudah sana keluar aku mau ganti baju." Ucap Puspa ketus. Devano pun segera keluar dari sana tanpa berkata apapun. " Tutup pintunya dengan benar..." Kata Puspa lagi tanpa melihat ke arah pintu. " Dasar pelit," gumam Devano pelan seraya menutup pintu itu dan melangkah pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN