Tidak terlalu buruk

1027 Kata
Sebelumnya di Arogansi Cinta "Aaapa yang kau lakukan..." Puspa tergagap saat melihat seringai licik tersirat di wajah Devano. Devano terus saja mendekatinya dan memegang salah satu kaki Puspa. Puspa meronta - ronta tapi tangan Devano begitu kuat memegang kaki Puspa dan kini tidak hanya salah satu tapi kedua kakinya. Puspa teris saja meronta tapi pria itu tak bergeming. Devano menarik kedua kaki Puspa hingga membuat Puspa tergeletak dan dengan cepat Devano menindih tubuh Puspa dan mencengkeram ke dua tangan Puspa. " Jangan lakukan itu aku mohon... please... please ... please..." Ucap Puspa memejamkan mata sambil memalingkan wajahnya. Devano tersenyum dan berkata, " dasar gadis bodoh, siapa juga yang mau ituuuu.... bisakah kau menurut sebentaaaar saja, aku hanya ingin mengobati lukamu." " Tapi kau harus ingat kata - katamu tadi," jawab Puspa cepat. " Ahhh... sial, kenapa juga aku harus bilang gitu tadi," gumam Devano dalam batin nya. " Hem..." Jawab Devano mengangguk kan kepalanya. Devano pun segera memindahkan tubuhnya dari atas tubuh Puspa. Puspa segera bangkit dan merapihkan baju nya yang terangkat saat Devano menariknya tadi. Perlahan tapi pasti, Devano membuka salep pereda nyeri dan memar lalu mengoleskan nya dengan lembut ke pergelangan tangan Puspa. Lalu turun di kedua pergelangan kaki Puspa. " Sebenarnya dia tidak terlalu buruk," gumam Puspa dalam batinya saat memperhatikan wajah Devano yang nampak tulus. Setelah selesai Devano merapikan kembali obat nyeri dan memar ke dalam kotak. Saat dia akan beranjak pergi, dia mendengar sesuatu ucapan keluar dari bibir Puspa dengan lembut. " Terimakasih banyak." Mendengar itu Devano tersenyum dan beranjak keluar dari kamarnya. Dia duduk di ruang tengah. Menghadap ke jendela dengan pemandangan beberapa tanaman merambat yang menghiasi balkon apartemen nya. " Ehem..." Puspa berdehem. " Kembalilah ke dalam dan istirahat," ucap Devano saat menoleh kearah suara itu yang ternyata Puspa tengah berdiri di depan pintu kamar dengan ekspresi wajah yang sulit di tafsirkan. " Aku ingin pulang," ucap Puspa menunduk tak berani menatap lawan bicaranya. " Kau harus tinggal di sini sementara waktu sampai keadaan aman." " Mmmm.. tapiiii.... aku butuh baju ganti, rasanya lengket dan bajuku beraroma debu, kau tahukan bagaimana keadaan gudang itu tadi." Kata Puspa lagi tanpa menoleh ke arah Devano. Devano beranjak mendekati Puspa dan Puspa mengtahuinya saat ia sempat melihat sekilas ke arah pria itu. " Deg... deg...deg..." Jujur ada perasaan takut yang masih engan pergi dari dalam d**a Puspa. Mengingat perlakuan Devano yang baginya sangat menyakitkan waktu itu. " Jika kau berbicara tataplah mata lawan bicaramu.... apa kau mengerti...." Kata Devano seraya masuk ke dalam kamar meninggalkan Puspa yang masih mematung di tepi daun pintu kamar. Devano membuka lemari pakaian nya dengan isi dalam lemari yang nampak tertata dengan rapi. Devano memilih - milih lembaran pakaian dalam lemari itu dan mengambil satu helai berwarna hitam yang dia letakkan di atas tempat tidur. " Kau bisa memakainya sementara Edi belum kembali." Puspa meraih pakaian itu lalu membuka lipatan nya. Ya, baju kemeja lengan panjang berwarna hitam yang sudah pasti akan kedodoran saat ia memakainya. " Apa kau tidak punya yang lain?" " Itulah yang paling kecil, dan ingat jangan keluar kamar saat ada orang lain selain aku," jawab Devano seraya menutup pintu kamarnya yang sekarang di huni oleh Puspa. " Mana mungkin aku akan keluar dari kamar dengan baju seperti ini," sahut Puspa perlahan meski Devano masih bisa mendengarnya. Ada sekilas senyum terlukis di bibir Devano dan dia kembali duduk di tempatnya semula. Devano mengeluarkan handphone nya dan menghubungi seseorang. Dia terlihat sangat serius dengan apa yang ia ucapkan. Sementara itu di sebuah kamar nan mewah dengan segala barang yang terpampang bermerek terkenal. Nampak seorang wanita tengah duduk di depan meja rias sambil memoles - moles wajahnya. Kadang dia menghentikan kegiatan nya dan mengumam sendiri lalu melanjutkan nya lagi. " Kenapa Devano sebegitu perhatian dengan gadis itu," ucap Joana saat mengingat Devano melepaskan ikatan yang membelit kaki Puspa waktu itu. " Bahkan dia tak pernah setulus itu padaku," gumamnya lagi sembari menaburkan warna di kelopak matanya. " Ini tidak boleh terjadi, aku harus melakukan sesuatu, Devano harus menjadi milik ku." Tekad Joana yang begitu kuat menginginkan Devano membuatnya segera beranjak dari tempat duduknya. Dia menyambar tasnya dan bergegas melangkahkan kaki keluar dari sana. Sementara itu di apartement Devano. Sekertaris Edi baru saja tiba di apartemen tuan mudanya. Dengan beberapa paperbag di tangan nya. Sedang Devano berjalan menuju kamar. " Tok.... tok.... tok..." " Puspa.... Puspaaa...." " Kenapa tidak ada sahutan," gumam Devano. Devano mengetuk pintu itu beberapa kaki lagi. Namun karena tak ada jawaban dari dalam kamar, Devano memutuskan untuk melihat ke dalam kamar. Dia memegang handle pintu dan membukanya. " Tidak di kunci," lirihnya. Devano melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Di sana nampak gadis itu tengah merebahkan punggungnya pada bantak yang bertumpuk namun matanya terpejam. " Glek..." Berkali - kali Devano menelan salivabya saat ia mendekatinya Puspa. Terpampang jelas kulit kaki Puspa yang begitu mulus. Pemandangan itu hampir - hampir membuat pandangan Devano kabur dan lupa diri. Ada getaran rasa yang amat kuat dari dalam dirinya untuk menyentuh kaki itu. Tak hayal dia pun menggerak kan tangan nya mendekati kaki jenjang nan mulus itu, namun dia berusaha sekuat tenaga menyadarkan dirinya sendiri. Ia masih ingat betapa gadis itu sangat membencinya karena tindakan nya waktu itu. Jelas saja Devano tak ingin memperkeruh keadaan. " Bagaimana kalau orang lain yang masuk ke kamar ini, dia bisa di makan sampai habis." Devano segera menarik selimut yang masih terlipat dengan rapi di sebelah Puspa tertidur. Dia mengangkat kepala Puspa dengan satu tangan nya sambil menarik beberapa bantal yang menumpuk dan menyisakan satu. Dia segera meletak kan kepala Puspa kembali dab menyelimutkan nya. Saat Devano keluar dari kamar, sekertaris Edi menoleh padanya. Drngan tatapan seolah bertanya ," mana nona?" " Dia sudah tidur," jawab Devano cepat saat melihat tatapan sekertarisnya itu seakan mengetahui maksut dari tatapan nya. Devano melangkah menuju meja makan. Sekertaris Edi menarik kan kursi untuk sang tuan muda duduk. Devano nampak tak bersemangat makan siang kali ini. Namun dia ttap memaksakan agar kesehatan nya tetap terjaga. Sekertaris Edi yang memperhatikan tuan nya sejak tadi tersenyum simpul. Dia seakan mengetahui apa yang terjadi pda tuan muda di depan nya itu. Di tempat lain. " Tante..... tante..." " Ee....."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN