“Suzanne tidak mungkin seperti itu.” kata Emma lemas mendengar cerita Anastasya.
“Kamu meragukanku?”
“Bukan. Tapi, rasanya tidak mungkin dia berkata seperti itu. Orang licik pun bisa berpikir ulang untuk membicarakan keburukan seseorang di depan orangnya langsung.”
Anastasya menggeser-geser menu di ponselnya. Semalam rasanya seperti ditelanjangi oleh orang yang berkuasa. Ucapan pedas Suzanne membuatnya percaya bahwa dia memang tidak layak bersanding dengan James. James terlalu sempurna untuk dirinya yang bahkan harus bekerja keras untuk membiayai kehidupannya sehari-hari.
“Apa kamu dan Suzanne sudah sangat dekat sebagai sahabat?”
Emma menggeleng.
“Ya! Kamu harusnya percaya padaku.”
“Aku percaya padamu, Ana. Aku sangat percaya aku hanya merasa Suzanne aneh. Dia tidak mungkin berkata sekotor itu pada orang lain.” Emma masih belum yakin kalau Suzanne seperti yang diceritakan Anastasya.
“Kenapa kamu mau pergi ke rumah James?” tanya Emma berusaha mengulik lebih dalam hubungan sebenarnya James dan Anastasya.
“James yang memintaku.”
“Kenapa kamu mengiyakan?” Emma menatap penasaran sahabatnya.
“James mengancamku!” Anastasya melotot.
“A-apa? Mengancam bagaimana?”
Anastasya menarik napas sebelum dia mengembuskannya dengan kasar. Dia menceritakan awal kejadian yang membuatnya menurut pada James.
“Hanya masalah itu? Apa mungkin James naksir kamu?”
“Itu pasti! Dia memang menyukaiku. Dia bahkan berani menciumku di depan karyawannya dan sekarang gosip ciuman itu beredar luas. Bahkan salah satu barbie k*****t itu memotret adegan ciumanku dengan James. Semua orang di kantor membicarakanku.”
“Astaga!” mendadak Emma merasa sesak napas. “Berarti James juga yang membaca dan menghapus pesan dari Noah.”
“Ya!” Anastasya tampak kesal.
“Dia menggunakan cara licik untuk mendapatkanmu.”
“Dan aku sedang memikirkan cara agar aku lepas dari James. Apakah aku harus resign dan kembali mencari pekerjaan?”
Emma menatap sahabatnya sedih. “Apa kamu tidak menyukai James?”
Anastasya membisu beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Emma. “Aku milik Noah.”
“Noah belum memperkenalkanmu dengan keluarganya tapi James sudah mengenalkanmu pada Suzanne meskipun berakhir buruk.”
“Suzanne tidak menyukaiku dan aku tidak menyukai James.”
“Tapi, sepertinya kamu menyukai ciumanmu dengan James.” Emma tersenyum menggoda.
“Berengsek!” umpat Anastasya ngeri. “Membayangkannya saja membuatku mual.” Oke, Ana munafik. Dia berbohong soal rasa mual itu karena sejujurnya dia menyukai cara James menciumnya.
“Kamu mau kerja apa memangnya kalau keluar dari kerjaanmu sekarang.”
“Entahlah.” Anastasya mengangkat bahu.
“Menikah dengan James bukan ide buruk, Ana. Dia akan memenuhi semua kebutuhan dan keinginanmu. Kamu memiliki segalanya. Uang, kenyamanan dan kebahagiaan.”
Anastasya menoleh tajam pada Emma.
“Oke, James tidak cocok denganmu. Tapi, kurasa dia akan melakukan apa pun untuk mendapatkanmu”
“Aku akan sengsara kalau hidup bersama James dan Suzanne.”
“Kamu bisa meminta untuk tinggal terpisah dengan Suzanne.”
“James terlalu menyayangi Suzanne.”
“Dia akan memilihmu setelah menikah denganmu.” kata Emma dengan kedipan menggoda.
“Bagaimana dengan Noah?”
“Hahaha,” Emma terbahak.
“Kenapa kamu tertawa, berengsek!” Anastasya menepuk kasar lengan Emma.
“Aku hanya bercanda, Ana. Sekarang, aku tahu kamu memang menginginkan James juga, haha!”
***
“Aku merindukanmu,” Anastasya mematikan ponselnya setelah James masuk ke ruangannya. Dia tidak ingin terlihat sebagai karyawan yang selalu mengabari kekasihnya di tempat kerja. James akan semakin menuntutnya.
“Setidaknya dengan Suzanne merendahkanku, James tidak punya kesempatan untuk menjadikanku umpan sebagai kekasihnya kan.” Gumam Anastasya gembira.
Tapi di sisi lain dia merasa kasihan pada James. Anastasya menatap James dari balik kaca pembatas ruangannya. James tampak membolak-balik berkas yang baru diletakan Samantha beberapa saat lalu. James memiliki segalanya. Ketampanan, kekayaan dan segala hal yang mungkin tidak dimiliki pria lain termasuk kemisteriusannya yang terkadang membuat Anastasya penasaran.
Setiap wanita yang melihat pesona James pasti akan menawarkan diri sebagai kekasih James bahkan Ana yakin hampir 80% wanita di kantornya menyukai James meskipun pria itu sangat dingin dan acuh tak acuh. James bisa memilih wanita mana saja yang diinginkannya tanpa takut akan penolakan. Tapi, pria itu memilih menghabiskan waktunya dengan pekerjaannya mengabaikan cinta yang bisa diberikan dan didapatkannya dari seorang wanita.
Anastasya bertopang dagu sembari memperhatikan keseriusan James menatap berkas berkas di atas meja. Ana tidak akan lupa cara James menciumnya di depan ketiga karyawan yang selalu penasaran padanya.
“Dia hanya pria kesepian yang mendedikasikan hidupnya untuk bekerja demi kebahagiaan Suzanne.” Gumamnya.
“Tasya...” James menoleh ke arah Anastasya yang membeku karena ketahuan menatap James.
Anastasya membuang wajah tidak mengerti lagi harus bagaimana. Dia merasa seperti seorang pencuri yang menikmati pemandangan yang indah dari dalam ruang private seseorang.
“Ya,” Anastasya keluar dari ruangannya. Dia duduk berhadapan dengan James.
“Aku minta ma’af atas sikap Suzanne.” James berkata lembut. “Dia... aku tidak pernah melihatnya seperti itu. Dia hanya khawatir kalau kehilangan aku. Dia sangat menyayangiku. Dia tidak ingin kehilangan kasih sayang dariku.” James berkata serius sehingga Anastasya berprasangka baik padanya.
“Ya, aku mengerti. Suzanne tidak memiliki siapa pun selain dirimu, James.” Nama itu keluar begitu saja dari kedua daun bibirnya tanpa Ana sadari hingga dia buru-buru membenarkan panggilannya. “Maksudku, Pak James.” Ana tidak tahu kenapa dia keceplosan seperti itu. Dia ingin sekali menampar mulutnya sendiri.
“Aku juga minta ma’af kalau selama ini sikapku keterlaluan.”
Apa?! James meminta ma’af padaku? Apakah aku sedang bermimpi?
Anastasya mencubit lengannya sendiri untuk memastikan kalau dirinya tidak sedang bermimpi.
Sorot mata James penuh ketulusan. Dia menampakan diri dengan begitu hangat hingga Ana yakin James memang memiliki masalah yang mengakibatkan dirinya mengasingkan diri dari sosialisasi dan cinta.
“Kamu mau mema’afkanku? Dan soal ciuman itu... kamu sudah dengar kan gosip yang beredar?”
“Ya, Samantha sudah memberitahuku. Poto kita tersebar di semua karyawan.”
“Tasya, ma’afkan aku.”
“Ya, tidak apa.”
“Karena ulahku namamu menjadi buruk di kantor ini.”
“Tidak masalah.”
“Aku ingin membersihkan namamu. Aku akan beritahu Samantha kalau kamu adalah kekasihku dan aku akan bilang kalau adikku sudah mengenalmu.” Kata James menatap Ana tanpa berkedip.
Anastasya membeku. Dia mencoba mencerna perkataan James. “Aku takut ini malah memperburuk keadaan.”
“Ini demi namamu. Mereka menganggapmu menggodaku. Apa kamu tidak membaca isi chat mereka?” James tampak marah. “Mereka harus tahu—“ jeda sejenak. “kalau kamu kekasihku.”
Anastasya tidak memungkiri ketakutan yang tiba-tiba muncul dalam dirinya. James berubah. James kenapa? Apa dia belum minum obat atau bagaimana? Siapa yang bisa merubahnya seperti ini? Sikap James yang seperti ini lebih mengerikan dari sikapnya yang sebelumnya.
“Tapi, aku bukan kekasihmu.” Kata Ana takut-takut.
James tersenyum kecil. “Ya. Ini hanya demi menyelamatkan namamu. Aku tidak ingin namamu menjadi jelek di kantor ini.”
“Tapi, mereka akan menganggap kita semakin tidak profesional dengan mengira kalau kita menjalin hubungan.”
“Tak masalah. Ini kantorku kan.” James mengedipkan sebelah mata dengan begitu mempesona hingga detak jantung Ana seakan melompat-lompat.
“Sebagai permintaan ma’afku, maukah kamu datang ke mansionku? Di sana tidak ada siapa pun. Hanya ada kita. Kita akan merayakan hubungan baik.” James tersenyum.
Anastasya tidak bisa bilang tidak. Dia hanya ingin mengenal lebih jauh James yang tiba-tiba berubah sedemikian rupa. Tapi apakah ini semacam jebakan James mengingat James yang pernah menghapus pesannya dengan Noah hingga dia dan Noah mengabaikannya sampai sekarang. Hingga pesan suara kerinduannya itu diabaikan Noah.
***