Setelah kepergian Samantha dari ruangan James, James menghampiri ruangan Anastasya di sebelahnya. Dia membungkuk menatap mata Anastasya dengan kedua tangan di letakan di atas meja. Berbagai pikiran negatif mengelilingi pikiran Anastasya mulai dari kemarahan James, hukuman yang akan James berikan atau hal lain yang lebih mengerikan yang mungkin tidak sanggup muncul di pikiran Anastasya.
“Sudah berapa lama kamu mengenal Suzanne?” tanya James dengan sorot mata dinginnya.
“Baru kemarin kok. Aku tidak...” wajah James semakin mendekat ke arahnya melenyapkan semua kosa kata Anastasya karena mata biru gelap James.
“Dia sudah tahu tentangmu?”
“Ya, dia tahu kalau aku asistenmu.”
“Apa lagi?” wajah James semakin dekat hingga Anastasya dapat merasakan embusan napas hangat pria itu.
“Tidak ada. Kenapa memangnya? Kenapa Anda begitu serius perihal seperti ini? bukankah ini bagus—maksudku, adik Anda tahu tentangku karena Anda akan membawaku ke rumah Anda bertemu adik Anda kan? Anda akan menyewaku sebagai kekasih pura-pura Anda agar Suzanne tidak khawatir akan orientasi seksual Anda kan.”
Dahi James mengernyit tebal. “Maksudmu?”
“Anda takut Suzanne mengira Anda penyuka sesama jenis. Aku hanya asal menebak. Aku tidak bermaksud apa-apa. Percayalah. Ini hanya tebakanku saja. Suzanne tidak bilang apa-apa padaku. Dia hanya bilang kalau mood Anda bisa lebih baik hanya dengan memberi perment mint. Hanya itu. Sungguh!” Anastasya keceplosan. Rahasia Suzanne terbongkar masalah perment mint itu.
James menatap intens Anastasya. “Kamu meragukan kejantananku? Kamu mengira aku gay?”
Anastasya melambaikan kedua tangannya. “Tidak. Astaga...” Anastasya berniat mengembuskan napasnya dengan kasar tapi James terlalu dekat dengan wajahnya dia takut kalau dia mengembuskan napasnya dengan kasar beberapa tetes air liurnya menodai wajah tampan James.
“Anda hanya salah paham. Maksudku, Anda takut kalau Suzanne mengira Anda gay. Begitu. Jadi, Anda menyewaku untuk berpura-pura jadi kekasih Anda.” Anastasya mencoba menjelaskan dengan gamblang.
James tidak meresponsnya tapi tatapan mata James menunjukkan sesuatu yang mampu membuat Anastasya mati seketika.
“Aku yakin Anda normal. Aku sangat yakin. Aku tidak meragukan kejantanan Anda. Sungguh! Ini hanya retorikaku. Aku—suka membaca buku dan menyukai teori konspirasi. Anastasya menoleh ke arah ruangan James.
“Lebih baik Anda segera ke ruangan Anda, Pak.” tambahnya.
Seumur hidup Anastasya tak pernah bertemu dengan pria semisterius dan seaneh James. Kalau melihat James di depannya saat ini, Anastasya sangat yakin kalau memang Jameslah yang menghapus pesan dari Noah. Tapi untuk apa pria ini melakukannya? Apakah ini hanya soal kerjaan ataukah dia iri karena dia tidak memiliki kekasih seperti Anastasya yang memiliki Noah?
“Lebih baik Anda ke ruangan Anda sekarang. Aku tidak nyaman melihat para barbie itu melihat kita.” Kata Anastasya menunjuk ruangan James dengan lirikan matanya.
James melihat ketiga karyawannya yang terobsesi dengan kecantikan menontonnya seakan sedang menonton film percintaan. Dan untungnya, pintu ruangan Anastasya tertutup sehingga mereka tidak dapat mendengar percakapan antara James dan Anastasya.
Ketika James mengalihkan tatapannya ke ruangannya para barbie itu membuang wajah takut tapi mereka sangat penasaran dengan James dan Anastasya. Cara mereka mengobrol tampak seperti dua orang yang berpacaran namun berselisih paham. James seakan menuntut jawaban pada Anastasya sedangkan Anastasya seakan bersalah dan kesalahannya semacam berselingkuh yang mengakibatkan James naik pitam.
“Akan kutunjukan pada mereka tentang sesuatu. Dan ingat, Tasya, aku tidak menyewamu.”
“Eh—sesuatu apa?” tanya Anastasya takut-takut.
“Jangan menolakku atau aku akan mempermalukanmu di depan mereka.” Ancam James.
Anastasya menganga.
Bibir James semakin dekat dengan bibirnya. James memiringkan kepalanya. Dia meraih bibir Anastasya yang terbuka seakan meresponsnya. Anastasya dapat merasakannya. Kelembutan bibir hangat James.
***
Anastasya mengenakan dress warna hitam selutut dengan cardigan warna cokelat muda. Rambutnya tergerai indah dengan membiarkan poninya menutupi kening. Dia dan James berada di dalam mobil. Sebenarnya Anastasya masih merasa canggung akibat ciumannya dengan James. Ini tidak adil! Dia hanya ingin berciuman dengan Noah tapi dia tidak bisa menolak James atau James akan mempermalukannya.
Anastasya merasa bersalah pada Noah. Bisa-bisanya dia mengkhianati Noah. Anastasya melirik ke arah James yang bahkan masih bersikap dingin padanya meskipun telah memberikan ruang pada James untuk menciumnya di depan ketiga karyawannya dan tentu saja gosip akan berembus cepat secepat embusan angin tanpa pemberhentian.
Sesampainya mereka di depan rumah James. James menatap Anastasya. “Jangan banyak bicara.”
Anastasya mengangguk. “Aku cuma bertemu dengan adikmu bukan dengan ibumu kan?”
James menatap tajam Anastasya.
“Ya, ya, ya. Pria ini selalu saja tersinggung.” Anastasya membuka pintu mobilnya.
Suzanne melihat Anastasya dengan tercengang. “Anas-tasya...” gumamnya.
“Hai, Suzanne.” Anastasya melambaikan tangan dengan ceria. “Kita bertemu lagi.”
“Kenalkan, Sayang. Ini Anastasya Sneden.” James menarik punggung Anastasya mendekati adiknya.
Suzanne masih tidak percaya kalau Anastasya yang dikenalnya adalah putri dari keluarga yang telah membuat ayahnya membunuh ibunya kemudian membunuh dirinya sendiri. Ini seperti mimpi. Dan James akan balas dendam pada Anastasya.
“Kamu... Anastasya Sneden?” tanya Suzanne dengan suara berat.
“Ya,” Anastasya tersenyum.
Secara perlahan Suzanne menguatkan hatinya untuk tersenyum. Dia menatap kakaknya yang tersenyum seakan menunjukan seseorang yang akan dipeliharanya sebagai kesenangan sekaligus siksaan mereka.
“Ayo, kita makan, Ana.” Ajak Suzanne.
Saat Anastasya masuk lebih dulu ke ruang makan sembari memperhatikan desain interior rumah yang mewah sekaligus elegan.
“Dia bilang kamu kenal dengannya.”
“Ya, kami pernah bertemu sekali. Tapi,” Suzanne menatap kakaknya. “Aku tidak tahu kalau dia...”
“Dia putri keluarga Sneden. Kita tidak perlu bersusah payah mencarinya. Dia datang dengan sendirinya di kantorku, Suzann.”
“Setelah ini, apa rencanamu?” tanya Suzanne berharap kakaknya tidak memiliki rencana apa pun.
“Membuatnya jatuh cinta padaku. Setelah melihat semua kemewahan yang kita miliki. Wanita itu pasti akan bertekuk lutut padaku.”
“Sepertinya Ana bukan wanita yang seperti itu.” terka Suzanne.
“Itu menurutmu. Kita lihat nanti.” Sebelah alis James terangkat tinggi.
“Kalian tidak berpacaran kan? Dia tidak mencintaimu dan begitupun sebaliknya.”
“Aku baru memulai aksiku dengan menciumnya di depan karyawanku. Aku akan membuatnya berpisah dengan kekasihnya.”
“Bagaiman kamu bisa menciumnya, Kak?”
“Apa kamu lupa, aku bisa mencium wanita manapun kalau aku mau, Suzann.”
Suzanne menelan ludah. Apalagi yang bisa diharapkannya selain membuat Anastasya tidak menyukainya dan kakaknya. Apakah dia perlu bersikap kasar pada Anastasya? Merendahkan wanita itu sehingga dia akan membenci dirinya dan kakaknya?
“Apa kamu yang memasak semuanya?” tanya Anastasya mencicipi setiap makanan yang dihidangkan.
“Aku selalu memasak untuk kakakku. Aku suka memasak dan berdiam diri di rumah.” Jawab Suzanne dengan wajah datar.
“Apa kamu sedang sakit, Suzanne?” tanya Anastasya khawatir karena wajah Suzanne yang memucat.
“Tidak.”
Anastasya menatap James dan berbicara tanpa suara seakan mengatakan “Suzanne sakit?”
James tidak mengerti sehingga dia hanya mengangkat bahu.
“Aku rasa kamu tidak cocok dengan kakakku, Ana.” Kata Suzanne akhirnya.
James menatap kecewa adiknya. “Apa yang kamu bicarakan?” tanya James dengan nada menegur.
“Kamu lihat, Kak, Anastasya tak seperti para wanita yang kamu bawa ke rumah. Anastasya jauh dari seleramu. Kamu hanya membawa w************n ke sini hanya untuk diperkenalkan kepadaku?!”
Hening.
Anastasya tak pernah menyangka kalau Suzanne menganggapnya sebagai wanita yang tak sepadan dengan James.
Dengan mata meremang karena air mata Suzanne berdiri dan pergi ke kamarnya. Ini pertama kalinya dia memarahi seorang wanita dan merendahkannya. Itu bukan kemauannya. Ini jelas sebagai bentuk perlindungannya pada Anastasya.
***