Suzanne mendengar kabar kakaknya yang sering mengajak Anastasya ke mansionnya. Ini jelas termasuk siasat James. Anastasya hamil dan James akan menikahinya—seperti itu kan skenarionya? Tapi, Suzanne tidak yakin kalau James sering mengajak Ana ke mansion. James mungkin akan menikahi Anastasya dan mansion itu adalah tempat tinggal Anastasya. Suzanne harus menggagalkan rencana James sebelum semuanya terjadi. Dia tidak bisa membayangkan akan bagaimana nasib Ana nanti. Suzann tidak membenci Anastasya, dia jelas berusaha menyelamatkan Ana hanya saja, dia tidak punya cara lain selain menggagalkan pernikahan James dan Anastasya.
Dia menelpon seseorang yang sekarang tinggal di London. Seorang wanita yang pernah singgah di hati James. Suzanne tidak tahu siapa lagi selain Evelyn yang menjadi kekasih James. Yang jelas, Evelyn masih mengharapkan James.
“Halo,” sahut suara lembut di sana.
“Evelyn?”
Evelyn tertawa kecil sebelum menjawab teleponnya. “Ya, tahu dari mana nomerku, Suzanne?”
Suzanne tersenyum seakan melihat sesuatu yang lebih baik dibandingkan harus melihat James menyiksa Anastasya nanti. “Aku bisa mencari nomer telepon siapa saja dengan caraku. Aku bisa mendapatkan nomer telepon Bradd Pitt juga.”
“Hahaha! Kamu selalu seperti itu, Suzanne, dan bodohnya aku pasti percaya pada omong kosongmu. Well, apa kabar?”
“Baik. Bagaimana denganmu?”
“Hmmm—lebih baik dari sebelumnya.” Terdengar helaan napas Evelyn di sana. “Aku butuh pekerjaan. Di sini aku benar-benar seperti gelandangan. Untuk makan aku meminta kepada teman-temanku. Astaga!” Evelyn seakan kaget dengan kehidupannya sendiri.
“Kamu pasti memiliki hutang banyak untuk membiayai hidupmu yang serba mahal itu.” terka Suzanne.
“Ah, kamu tahu. Dulu, aku tidak perlu bersusah payah bekerja di restoran, bar, toko bunga, toko bunga karena kakakmu. Sekarang, aku harus memutar otak agar kehidupanku tetap nyaman. Aku bekerja di tiga tempat sehari, Suzann. Pagi menjelang siang aku bekerja di kedai kopi. Siang sampai malam aku bekerja di supermarket dan pada malam harinya aku bekerja menulis artikel. Aku sungguh lelah.”
Suzanne suka sikap kerja keras Evelyn meskipun dia juga sering mengeluh. Setidaknya, Evelyn lebih baik daripada wanita-wanita yang tak dikenalnya yang dia temui di jalanan atau dimana pun. Evelyn bisa bekerja sama dengannya untuk membuat James melepas Anastasya.
Ma’afkan aku tapi aku harus melakukan ini.
“Aku ada pekerjaan untukmu.”
“Wow! Apa itu?”
“Oke, kakakku butuh seorang asisten di kantornya. Kamu bisa bekerja di sana.”
“Bekerja dengan James?” tanya Evelyn tidak percaya dengan tawaran pekerjaan dari Suzanne.
“Ya, dan akan ada uang tambahan dariku kalau kamu dan kakakku bisa kembali. Tenang saja setiap bulan aku akan menambahkan gajimu tanpa sepengetahuan James. Kalau sampai kamu dan James kembali lagi, aku akan melunasi hutang gaun, tas dan sepatumu itu.”
“Hahaha! Jangan bercanda, Suzanne.”
“Aku tidak bercanda. Cepatlah pulang. Aku akan menceritakan semuanya. Kamu akan mendapatkan uang yang banyak. Aku tahu, Evelyn, kamu masih sendiri kan?”
“Ya, tentu saja.”
“Aku akan membiayai kepulanganmu.”
“Suzanne, kamu baik sekali. Well, apakah James masih sendiri juga dan kamu mengkhawatirkan kakakmu itu?”
“Tidak. Dia sudah memiliki kekasih. Kakakku berniat menikahinya tapi aku tidak suka dengan wanita itu.”
“Benarkah?”
“Evelyn, aku mohon kepadamu buat kakakku kembali padamu. Kita harus menggagalkan pernikahan kakakku.”
“Kalau aku tidak berhasil?”
“Kamu pasti berhasil. Tapi kalau kemungkinan buruknya begitu aku tidak bisa berbuat apa-apa selain mempersilakan wanita itu menjadi istri kakakku. Oh ya, kalau kamu menjadi istri kakakku dia akan memberikanmu mansion mewah yang sekarang akan dimiliki wanita itu.”
“Ya Tuhan, James selalu begitu. Kenapa kamu tidak menyukainya, Suzanne?”
***
“Bagaimana kamu bisa meyakinkan adikmu, James?” Anastasya menyentuh d**a James. Mereka berdua berada di atas ranjang hanya dengan mengenakan selimut untuk menutupi tubuh.
James melingkarkan lengannya di bahu Anastasya sebagai penyangga kepala Ana. “Aku yakin dia akan menyerah, Ana.” Ini pertama kalinya James memanggil Anastasya dengan panggilan Ana.
Anastasya tertawa.
“Apa yang lucu?” tanya James dengan dahi mengernyit.
“Kamu memanggilku Ana setelah sekian lama selalu memanggilku dengan Tasya. Itu terdengar lucu, James.” Ana menyeringai nakal sambil mempermainkan bulu-bulu halus di d**a James.
“Menurutku itu biasa saja. Tidak lucu sama sekali.”
“Hei, menurutku itu lucu.” Protes Anastasya.
James tersenyum sinis.
“Kamu tahu, aku sangat bahagia karena memilikimu.”
Pernyataan Anastasya seakan menusuk d**a James. Dia menatap Ana dengan tatapan yang kosong karena pikirannya dipenuhi oleh berbagai emosi aneh. Satu sisi dia senang karena Anastasya sudah jatuh dalam pelukannya tapi di sisi lain dia benci karena harus melakukan apa yang memang sudah direncanakannya.
“Aku tidak memiliki siapa-siapa lagi selain Emma. Kamu hadir menawarkan kehidupan yang dipenuhi cinta. Noah memang bukan pria yang tepat untukku. Kamu yang tepat untukku, James.”
“Aku ingin kita segera menikah. Aku ingin menyatu denganmu.” lanjutnya.
James menelan ludah.
“Ya, kita akan segera menikah.” James memeluk Anastasya. “Memiliki anak-anak dan hidup bahagia.”
“Bagaimana dengan Suzanne?”
“Dia akan menyerah. Lihat saja nanti.”
“Tapi, dia tidak menyukaiku, James.”
“Dia menyukaimu. Hanya saja dia takut kehilangan aku. Dia sangat manja padaku.”
Anastasya melepas pelukan James. “Kamu harus ke kantor. Aku tidak mau hanya gara-gara aku kamu jadi malas ke kantor.”
James menyeringai. “Ya, aku memang malas ke kantor. Aku ingin tetap di sini bersamamu, Ana.” James meraih kedua pipi Anastasya.
“Apa sudah ada penggantiku?”
James menggeleng. “Aku berniat mengembalikan asistenku yang dulu aku tukar denganmu.”
“Dia pasti sangat membenciku.”
“Ya, pastinya. Tapi, Samantha bilang sudah ada penggantimu.”
“Jangan, James. Kembalikan saja asisten yang dulu itu. Kasihan.”
“Kita lihat dulu cara kerja asisten yang baru ini. Kalau dia kerjanya buruk sepertimu aku akan menggantinya.”
Anastasya mencubit d**a James hingga James mengaduh kesakitan.
Beberapa saat kemudian saat James tiba di kantornya, dia berpapasan dengan Samantha. “Pak, asistennya sudah masuk mulai hari ini. Dia sedang mengerjakan tugas. Dia datang atas rekomendasi dari Bu Suzanne.”
James menoleh tajam pada Samantha. “Rekomendasi Suzanne?”
Samantha mengangguk sopan. “Iya, Pak.”
James terdiam sesaat. Suzanne merekomendasikan seorang asisten di kantor. Anak itu biasanya tidak peduli dengan apa pun. Apakah Suzanne merekomendasikan temannya yang butuh pekerjaan?
“Oke, aku akan langsung masuk.” Kata James.
James membuka pintu ruangannya dan mendapati seorang wanita cantik dengan rambut hitam panjang lurus tanpa poni berdiri sambil bersandar di mejanya. Kedua tangannya dilipat di atas perut. Dia mengenakan kemeja berwarna merah dengan dua kancing terbuka di atasnya dan rok di atas lutut.
“Evelyn...”
“Halo, James.” Evelyn melambaikan tangan. Dia menghampiri James dengan senyuman yang dulu pernah memikat James.
Evelyn membenarkan dasi James seraya berkata. “Lama kita tidak berjumpa.” Matanya bersitatap dengan James.
***