BAB 10

2185 Kata
“Aku mau kamu minta ma’af pada Tasya.” Kata James saat dia dan Suzanne menghabiskan makan malamnya. Suzanne menatap kakaknya dengan tatapan yang tak pernah ditunjukannya sebelumnya. “Aku tidak mau.” “Suzann, dia akan menjadi kakak iparmu.” James menegaskan. “Aku tidak ingin dia menjadi kakak iparku. Carilah wanita lain saja. Di luar sana wanita yang jauh lebih baik dari Anastasya dan mengantre menjadi istrimu tentulah tidak sedikit. Kenapa kakak malah mau menikahi Anastasya Sneden yang jelas-jelas—“ Suzanne menelan ludah. “musuh kita.” “Aku sudah bilang padamu kan, kita akan membalasnya. Dia akan memiliki anak dariku dan di saat itu aku akan—“ Suzanne menatap tajam James. “Kamu keterlaluan, Kak! Aku tidak akan membiarkan rencana busukmu berjalan. Dia sudah kehilangan orang tua dan kakaknya. Haruskah kita membuatnya menderita lagi?!” James tampak tenang. Menghadapi Suzann hanya diperlukan ketenangan dan semua akan baik-baik saja. “Aku melakukan ini untukmu, Suzann. Untuk keluarga kita.” “Untuk keegoisanmu, Kak. Kamu melakukan ini bukan untuk keluarga kita. Kamu memelihara dendammu, membuatnya semakin besar tanpa berpikir kesedihan Anastasya setelah kamu nikahi nanti. Aku tahu apa yang akan kamu lakukan pada wanita malang itu. Kamu pasti akan membuatnya mati secara perlahan. Carilah wanita yang membuatmu jatuh cinta untuk kamu nikahi bukan wanita yang membuat keegoisanmu semakin melonjak!” Suzann berdiri dan pergi masuk ke kamarnya. James tidak pernah melihat Suzann semarah itu padanya. James membenci kemarahan Suzann. Haruskah dia membuat Suzann percaya kalau dia benar-benar mencintai Anastasya dan tidak mengatakan apa pun tentang dendamnya pada Suzanne? Suzanne tak pernah tahu saat terakhir dia melihat wajah orang tuanya yang mati dengan wajah pucat keunguan dan busa yang keluar dari sudut-sudut bibirnya. James tidak akan pernah melupakan itu. James akan selalu mengingatnya. ***             Aku sudah lelah denganmu, Ana. Kamu sangat sulit dihubungi di saat aku merindukanmu. Lebih baik hubungan kita sampai di sini saja. Pesan itu membuat Anatasya sadar kalau Noah memang tidak layak menjadi kekasihnya. Pria itu bahkan tak lagi menghubunginya dan setelah sekian lama tidak mengabarinya dia memutuskan hubungan bengitu saja.             Oke.                                                        Hanya itu kalimat yang dapat diketik Anastasya.             Semoga kamu mendapatkan yang lebih baik dariku. Anastasya tidak punya waktu untuk membalas pesan dari Noah. Dia memilih memblokir Noah. Ini lebih baik daripada harus tetap berhubungan dengan pria yang bahkan tidak peduli dengannya. Yang bahkan ke Italia untuk menemui kekasihnya yang lain. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Berangkat ke kantor dan bersikap seakan semuanya tidak pernah terjadi apa-apa. Bel pintu rumahnya berbunyi. “Dari Tuan James MclLand.” Seorang pria mengenakan topi muncul dari balik pintu membawa buket bunga mawar merah yang besar. Sangat besar hingga Ana merasa keberatan dengan buket bunga itu. “Terima kasih.” Kata Ana buru-buru masuk untuk meletakan buket bunga mawar merah di atas sofa rumahnya. “Apa-apaan dia?!” Sejenak Anastasya terdiam. Menatap bunga-bunga mawar itu dengan perasaan yang entah bagaimana mulai menghangat. Dia teringat pertama kali melihat James saat dia berkata di kantin. Dia membicarakan James dengan Emma lewat telepon sambil mengerjakan sesuatu di laptopnya lalu tiba-tiba dia menjadi asisten James di kantor dari seorang staf keuangan baru. “Ma’af, Nona,” kurir itu masuk ke rumah. “Tuan James juga menitipkan ini pada Anda.” Pria itu memberikan kado yang entah berisi apa. “Oh ya, terima kasih.” Pria itu keluar dari rumah Anastasya. Anastasya membuka kado yang berisi box sebuah cincin. Cincin dengan kelopak mata bunga yang menghiasi bagian tengahnya. Di sana ada kertas berwarna merah muda dengan tulisan.             Will you marry me? ***             Will you marry me? Adalah kalimat pertanyaan yang membuat Anastasya benar-benar bimbang. Di satu sisi dia memang menyukai James bahkan dia seakan memang menginginkan James tapi di sisi lain dia merasa takut menikah dengan James.             Siapa James sebenarnya? Dan malam ini disinilah dia berada di mansion James dengan membawa Emma. James memintanya datang ke mansion untuk membicarakan masalah pekerjaannya. Anastaysa tidak ingin sendirian menghadapi James. Dia membawa serta Emma. Emma menenggak sampanye hingga empat kali. Ana memperingatkannya dengan menyenggol lengan Emma. Namun, Emma tidak mempedulikan Anastasya. Berbeda dari kedatangannya yang pertama, Anastasya hanya mengenakan celana jeans dan kemeja polos berwarna camel. Dia tidak ingin membuat James menginginkannya lagi seperti malam itu. Malam yang membuat pikirannya dipenuhi bayangan dan perkataan James. Saat James ke dapur untuk mengambil camilan menemani sampanye yang ditenggak Emma terus menerus, Anastasya mengkutinya. “Aku ingin mengembalikan ini, James.” Anastasya menyerahkan box cincin yang di terimanya kemarin. Dahi James mengernyit. “Itu untukmu.” “Aku rasa...” James membungkam Anastasya dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir Ana. James menggeleng. “Aku tidak menyuapmu agar kamu menerima permintaanku. Aku tulus membeli cincin itu untukmu. Kalau kamu menolakku tak masalah. Cincin itu tetap milikmu.” Anastasya menelan ludah. “Apa kamu pikir aku percaya begitu saja padamu?” “Itu hakmu. Kamu boleh percaya atau tidak padaku.” “Aku resign dari pekerjaanku, James. Aku harap kita—“ “Aku sudah mendapatkan asisten baru.” James tersenyum. Tangannya kembali mencari camilan untuk Emma. “Aku akan memperkenalkanmu padanya. Dia akan datang ke mansion kita—“ jeda sejenak. “Mansion-ku. Maksudku.” Entah kenapa Anastasya merasa kecewa mendengar James meralat mansion kita menjadi mansionku. Dan juga untuk apa James memperkenalkan asisten barunya pada Anastasya? Itu makin membuat Ana kecewa. “Jadi, kamu mengundangku untuk bertemu dengan asisten barumu itu?” tanya Ana yang berusaha menutupi kekecewaannya. “Ya.” “James...” sebuah suara anggun memanggil nama James. Ana dan James menatap ke arah suara itu. Seorang wanita cantik dengan rambut pirang menyala dan dress ketat pendek menghampiri James dan Ana. “Ini asisten baruku. Namanya Laura.” “Hai,” Laura melambaikan tangannya pada Anastasya. “Hai,” Anastasya bersusah payah tersenyum pada Laura. Ada yang ganjil di sini. James sudah menemukan penggantinya sebagai asisten tapi wanita ini bahkan seperti teman kencan James. Anastasya ingin segera menyingkir dari sana. Ada perasaan terbakar yang menyakitkan di dadanya melihat James dekat dengan Laura. Mereka duduk di sofa sambil menikmati sampanye. Emma kini mabuk karena dia sudah lama tidak mencicipi sampanye sehingga merasa perlu menghabiskan sampanyenya. James memilih duduk di samping Laura dibandingkan di samping Anastasya. Laura dan James bersulang. Anastasya tidak yakin apakah dia cemburu tapi sejujurnya dia merasa benci harus melihat James dekat dengan wanita lain. “Aku rasa aku harus pulang.” Anastasya berdiri bersiap meninggalkan mansion. “Heiii, aku belum menghabiskan sampanye sebotol lagi.” Kata Emma mencegah kepergian Anastasya. “Emma, aku harus pulang.” “Kenapa? Habiskan dulu sampanyenya, Ana.” Emma tampak benar-benar mabuk. “Tinggalkan saja Emma di sini. Aku akan mengantarnya pulang. Kamu bisa pulang sekarang.” Kata James datar. Anastasya tidak menyangka akan perkataan James. James bahkan menyuruhnya pulang untuk menikmati malamnya dengan Laura. James mempermainkannya. James sengaja melakukan ini padanya. Anastasya menatap Emma. Yang ditatap mengangguk seakan setuju dengan perkataan James. “Baiklah.” Anastasya menatap James dan Laura secara bergantian sebelum dia meninggalkan mansion. Saat sampai di depan mobilnya, James memanggilnya. “Anastasya Sneden!” ana menoleh ke arah James. James menghampirinya. Dia tersenyum miring seakan sedang mencemooh kekalahan Ana. “Cemburu?” Anastasya menggeleng. “Tidak. Aku hanya merasa tidak nyaman. Kita sudah tidak punya urusan apa-apa lagi. Box cincinnya aku tinggalkan di dapur.” “Kamu tidak bisa membohongiku, Tasya. Kamu cemburu.” Kata James menegaskan. “Terserah.” Ana meraih pintu mobilnya namun James mencegahnya. “Tatap mataku dan katakan kamu tidak mencintaiku.” Anastasya menatap mata James dan seketika dia merasa takut kehilangan pria pemilik mata biru gelap segelap samudera itu. Dia tidak berkata apa pun selain memeluk James dan mengakui bahwa dia memang menginginkan James. James membalas pelukan Anastasya dengan sebelah sudut bibir tertarik ke atas. Dia membelai rambut Anastasya. “Aku mencintaimu, Tasya. Anastasya Sneden.” Ucapnya. Emma bersorak riang di sana. Dia berdiri dengan Laura yang ikut tersenyum. Anastasya melepas pelukannya dan melihat sahabatnya dengan Luara berdiri sambil bersorak. “Apa ini ide Emma?” tanya Ana pada James. “Aku menghubunginya sebelum menyuruhmu ke sini.” “Lalu Laura siapa?” “Dia teman Emma.” “Sialan!” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN