Bab 1: Pernikahan yang Tak Pernah Kupilih
Langit siang itu mendung, persis seperti hatiku. Di hadapanku, ruangan tempat akad sudah penuh dengan keluarga besar, penghulu, dan beberapa tamu yang masih bergumam penasaran. Mereka semua menunggu satu hal: keputusanku.
Tangan ini berkeringat dingin. Punggung jas yang kupakai terasa sempit, menekan dadaku yang sesak.
Hari ini seharusnya aku menikahi Kania. Tunanganku. Gadis yang sudah kupilih dengan kesadaran penuh, meski hubungan kami jauh dari kata mesra. Tapi segalanya berantakan dalam hitungan jam.
Pagi tadi, Kania… kabur.
"Arga, tolong… demi kehormatan keluarga!"
Itulah kalimat yang terus terngiang di telingaku.
Papa Kania—calon mertuaku—menatapku dengan mata memohon bercampur ancaman. Wajah beliau pucat, gurat cemas terpampang jelas.
“Kania sudah tidak ada, Arga. Tapi keluarga kami… butuh kau menolong kami. Tolong…”
Aku diam, lidahku kelu. Bagaimana bisa aku menikahi adik Kania, Karin? Gadis yang selalu kuanggap ceria, lugu… dan kini harus kusapa sebagai “istri”?
Ibuku menggenggam tanganku keras.
“Arga… Kamu harus lakukan ini. Semua sudah terlanjur disiapkan. Undangan sudah tersebar. Jika kamu pergi sekarang, keluarga kita yang akan hancur.”
Pikiranku berputar. Aku ingin menolak. Ingin berteriak: “Tidak! Aku tidak mencintainya! Dia adik calon istriku!”
Tapi bibirku tak mampu bersuara.
Di sudut ruangan, aku melihat Karin. Gaun putih itu terlalu besar untuk tubuh mungilnya. Wajahnya sembab, matanya bengkak karena menangis. Tangannya gemetar memegang buket bunga.
Mataku dan matanya bertemu sesaat. Ada rasa kasihan, marah, dan hancur sekaligus. Tapi waktu tak memberiku kesempatan.
“Baiklah.”
Satu kata itu keluar dari mulutku, lebih terdengar seperti desahan putus asa.
Orang-orang di sekelilingku tampak lega. Ibuku menutup mata dan menghela napas panjang, sementara ayah Karin duduk lemas seolah beban terangkat.
Tapi untukku… beban justru baru saja dimulai.
Penghulu membuka acara.
Suaranya bergema di kepalaku, tak semua kata-katanya kutangkap. Jantungku berdetak begitu keras, sampai rasanya menggema ke telinga.
"Saudara Arga, apakah Anda bersedia menikahi Karin…?”
Sepersekian detik, kulihat Karin. Matanya merah, wajahnya menunduk, bahunya bergetar menahan tangis.
Dalam hatiku, suara kecil berteriak: Ini salah!
Tapi lidahku lebih cepat.
“Saya… bersedia.”
Tepuk tangan terdengar, tapi seperti jauh, samar.
Aku hanya menunduk. Jari tanganku mengepal erat hingga nyaris memutih. Pernikahan ini terjadi bukan karena cinta, tapi karena keharusan.
Gilirannya Karin.
Suaranya nyaris tak terdengar.
“Saya bersedia…”
Hanya itu. Tapi suaranya menamparku. Ada luka dalam suaranya, luka yang kubantu ciptakan.
Dan begitulah. Dalam hitungan menit, kami resmi suami istri.
Di kursi pelaminan.
Lampu kamera berkali-kali menyilaukan. Fotografer berteriak, “Sedikit lebih dekat, Pak Arga… Tangan di pundak Bu Karin…”
Tanganku terangkat ragu. Menyentuh pundak Karin seperti menyentuh duri. Dia gemetar, aku pun sama.
Karin menoleh, menahan air mata.
Aku memalingkan wajah. Tak sanggup menatapnya.
Bagaimana mungkin aku menguatkannya, kalau aku sendiri tak yakin bisa berdiri?
Malam pertama.
Kamar pengantin ini terasa seperti penjara. Hiasan kelopak mawar, lilin wangi, sprei putih—semua seperti mengejek.
Karin berdiri di sudut kamar, menunduk. Gaunnya masih utuh, wajahnya masih penuh sisa air mata.
Aku membuka jas, melemparkan dasi ke kursi. Napasku berat.
“Karin…” suaraku parau.
Ia mengangkat wajah, takut-takut. “I-iya, Mas…?”
Aku memejamkan mata. Mas. Kata itu terdengar aneh. Dia belum pernah memanggilku begitu.
“Kamu… tak perlu takut. Kita… kita tak harus apa-apa malam ini. Istirahatlah.”
Matanya langsung berkaca-kaca lagi. Ia mengangguk cepat, menunduk makin dalam.
“Terima kasih…”
Aku berbalik, berjalan ke balkon.
Dari sana, kulihat kota malam yang tak pernah tidur. Lampu-lampu gedung bersinar, tapi hati ini gelap gulita.
Kepalaku penuh tanya: Bagaimana bisa aku hidup dengannya? Bagaimana aku bisa menatapnya tiap hari, tanpa teringat Kania?
Tapi lebih dari itu, ada rasa bersalah yang lebih tajam: Bagaimana perasaannya? Dipaksa menikahi pria yang tak mencintainya, hanya demi menutupi aib keluarga?
Larut malam.
Aku kembali masuk kamar. Karin sudah berbaring, membelakangi sisi ranjangku. Selimutnya naik sampai ke pundak.
Aku tak tahu apakah ia terlelap, atau pura-pura tidur. Aku pun rebah di sisi lain, sengaja menyisakan jarak di antara kami.
Hening. Bahkan suara detak jam dinding terdengar jelas.
Dalam hatiku:
Apakah cinta bisa tumbuh dari pernikahan yang lahir karena keterpaksaan?
Atau ini hanya akan melahirkan luka demi luka?
Menjelang subuh.
Aku terjaga, memandangi langit-langit. Di sampingku, Karin terbangun perlahan. Matanya bengkak.
Ia menoleh ragu. Tatapan kami bertemu.
“Maaf…” bisiknya, lirih sekali.
Aku terkejut. “Kenapa kamu minta maaf?”
Ia menggigit bibir. “Karena… aku tahu Mas nggak menginginkan ini. Aku… cuma beban…”
Dadaku nyeri.
“Bukan… Ini bukan salahmu, Karin.”
Ia menahan tangis, hanya mengangguk kecil, lalu membalikkan badan.
Fajar datang.
Semburat oranye menembus tirai. Hari baru dimulai.
Tapi untukku, dan mungkin juga untuk Karin, malam yang panjang baru saja dimulai…
Malam-malam berikutnya, tak akan mudah.
Tapi kami sudah memilih orang lain memilih untuk kami.
Sekarang, kami hanya bisa menjalani.