Bab 2: Malam-Malam yang Sunyi

977 Kata
Malam pertama berlalu tanpa kata, hanya suara detak jam dan napas yang saling berkejaran. Karin berbaring di sisi ranjang, membelakangi Arga. Sementara Arga sendiri lebih banyak memandangi langit-langit, mengutuki keadaan yang memaksanya menikahi adik calon istrinya. Pagi datang terlalu cepat. Sinar matahari menyelinap masuk melalui sela tirai, membangunkan Karin yang semalaman nyaris tak tidur. Ia membuka mata perlahan, mendapati ruang kamar pengantin yang tampak mewah namun terasa dingin dan asing. Di sebelahnya, Arga sudah bangun lebih dulu. Pria itu duduk di tepi ranjang, wajahnya lelah. Rambutnya sedikit berantakan, dan tatapannya kosong ke arah lantai. “Pagi…” Karin mencoba membuka pembicaraan, suaranya serak. Arga terkejut sesaat, lalu menoleh. “Pagi,” jawabnya pelan, hampir seperti gumaman. Lalu sunyi lagi. Hanya suara burung di luar jendela dan detak jantung mereka masing-masing. Mereka sarapan bersama di ruang makan. Meja panjang itu tampak terlalu besar untuk hanya dua orang. Karin berusaha terlihat tenang meski tangannya gemetar memegang sendok. “Aku… sudah buatkan teh,” katanya sambil mendorong cangkir ke arah Arga. Arga menoleh, sempat terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk. “Terima kasih.” Ia menyesap teh itu perlahan. “Kamu tidur nyenyak?” tanyanya, meski suaranya terdengar datar. Karin menggeleng. “Nggak terlalu. Mas Arga sendiri?” “Tidak juga,” jawab Arga singkat. Karin menunduk lagi, menyembunyikan rasa kikuk yang menyesakkan d**a. Setelah sarapan, Arga bersiap pergi ke kantor. Di depan pintu, ia ragu sesaat. “Karin… kalau ada apa-apa, telepon aku. Nomorku sudah kamu simpan, kan?” “Iya, Mas,” jawab Karin pelan. “Hati-hati di jalan…” Arga mengangguk, lalu pergi. Karin menatap pintu yang menutup, perasaannya campur aduk. Bagian dari dirinya lega karena Arga bersikap baik, meski tetap dingin. Tapi bagian lain… merasa semakin kesepian. Sepeninggal Arga, rumah terasa hampa. Karin berjalan mengelilingi ruangan yang dulu hanya ia kunjungi sesekali saat Kania dan Arga masih bertunangan. Foto-foto Arga bersama keluarganya terpajang rapi. Di sudut meja, ada foto Arga dan Kania saat tunangan. Karin memandangi foto itu lama sekali. Air matanya menggenang, lalu jatuh perlahan. “Maaf, Kak…” bisiknya. Siang hari, Karin membereskan kamar. Ia membuka lemari Arga, berniat merapikan jas dan kemeja yang tampak terlipat asal. Tangannya ragu-ragu, tapi ia tetap melanjutkan. Saat itulah ia menemukan sebuah kotak kecil. Penasaran, Karin membukanya. Di dalamnya ada cincin berlian yang indah, tampak baru, dan secarik kertas kecil dengan tulisan: “Untuk hari kita, Kania.” Tangan Karin gemetar. Cincin itu pasti untuk kakaknya… yang sekarang kabur meninggalkan semua. Karin buru-buru menutup kotak itu, air matanya jatuh tak tertahankan. Apa Mas Arga masih mencintai Kak Kania? pertanyaan itu menghantui pikirannya. Sore hari, Arga pulang. Langkah kakinya pelan, tampak lelah. Karin menyambutnya di ruang tamu, meski degup jantungnya tak karuan. “Mas… sudah pulang. Mau makan sekarang?” Arga mengangguk pelan. “Boleh.” Mereka makan malam bersama, lagi-lagi dalam diam. Sesekali Karin mencuri pandang ke arah Arga. Pria itu menunduk, tampak memikirkan sesuatu. Setelah makan, Arga duduk di ruang tamu. Karin memberanikan diri duduk di sofa seberangnya. “Mas…” panggilnya pelan. Arga menoleh, matanya sedikit terkejut. “Iya?” “Maaf… soal cincin itu. Aku nggak sengaja lihat,” Karin menunduk, tangannya menggenggam rok putih yang ia kenakan. Arga terdiam beberapa detik. “Tidak apa-apa,” ucapnya pelan. “Kak Kania… dia kabur… karena aku, ya?” suara Karin bergetar, hampir pecah. “Karena dia tahu Mas lebih baik sama aku…” Arga menghela napas panjang. “Jangan pikir begitu, Karin. Ini bukan salahmu. Dan juga… aku dan Kania memang sudah sering bertengkar akhir-akhir ini.” Karin mengangkat wajah, matanya basah. “Tapi Mas masih mencintai Kak Kania, kan?” Arga terdiam cukup lama. Lalu ia berkata lirih, “Entahlah… Mungkin.” Malam itu, mereka kembali tidur sekamar, tapi tetap berjauhan. Karin memandangi punggung Arga. Apa aku hanya pengganti? pikirnya. Air mata kembali menetes, membasahi bantal. Di sisi lain, Arga menutup mata erat-erat, hatinya juga penuh kegelisahan. Apakah aku sedang menyakiti gadis ini? batinnya. Hari-hari berikutnya serupa: Arga berangkat pagi, pulang malam Karin menyiapkan sarapan, menunggu, menata rumah Hampir tak ada obrolan, hanya kata-kata pendek seperti “Sudah makan?” “Hati-hati di jalan.” Namun, di tengah kesunyian itu, ada momen-momen kecil: Suatu pagi, Karin menyetrika kemeja Arga, dan Arga bilang, “Terima kasih.” Suatu malam, Arga pulang larut, mendapati Karin tertidur di sofa sambil menunggu. Ia menutupi tubuh Karin dengan selimut. Momen kecil yang mungkin tak berarti bagi dunia, tapi berarti bagi hati mereka. Suatu sore, hujan turun deras. Arga pulang lebih cepat. Karin terkejut melihatnya. “Mas… kenapa cepat?” “Aku… rapat dibatalkan.” Arga menggantung jasnya, bajunya basah. “Kau kehujanan… tunggu, aku ambilkan handuk,” kata Karin buru-buru. Arga duduk di sofa, sedikit tersenyum tipis saat Karin kembali dengan handuk. “Terima kasih…” katanya pelan. Karin menunduk, wajahnya memanas. Itu kali pertama ia melihat senyum tulus dari Arga, meski hanya sebentar. Malamnya, hujan belum reda. Mereka duduk di ruang tamu, menatap jendela. Arga membuka percakapan. “Karin…” “Iya, Mas?” “Kamu… betah di sini?” Karin mengerjap. “Aku… masih beradaptasi. Tapi aku akan coba, Mas.” Arga mengangguk pelan. “Aku juga… masih belajar. Jadi, kalau ada yang buatmu tak nyaman, bilang.” “Iya…” Karin menggenggam tangannya erat. Setidaknya, Mas Arga peduli… meski sedikit. Menjelang tengah malam, Arga bicara lagi. “Aku tidak tahu… apakah cinta bisa tumbuh di antara kita. Tapi… kalau pun bisa, mungkin perlu waktu.” Karin menoleh, menahan air mata. “Aku… juga tak tahu, Mas. Tapi… aku akan berusaha.” Arga tersenyum tipis, senyum yang hanya terlihat sekali dan cepat menghilang. “Terima kasih… sudah mau berusaha.” Penutup Bab 2 Malam masih panjang, hujan turun perlahan. Dua hati yang awalnya terpisah, kini mulai membuka sedikit celah. Tak ada yang tahu ke mana rasa ini akan berlabuh. Tapi untuk pertama kalinya, mereka tak lagi merasa sepenuhnya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN