Pagi itu hujan semalam menyisakan udara dingin. Karin berdiri di dapur, menyiapkan sarapan sederhana: nasi goreng, telur mata sapi, dan segelas teh panas untuk Arga.
Ia belajar cepat. Walau sebelumnya jarang memasak, sekarang ia merasa harus. Menjadi “istri Arga” berarti bukan hanya tinggal serumah, tapi juga harus mengurus suami.
Arga turun dari tangga, masih mengenakan kemeja putih yang digosok Karin semalam. “Pagi,” sapanya singkat.
“Pagi, Mas… ini sarapan,” kata Karin, suaranya sedikit bergetar meski berusaha terdengar ceria.
Arga duduk, mencicipi nasi goreng itu. “Enak,” ucapnya singkat.
Karin terdiam, menahan senyum kecil. Pujian singkat itu cukup untuk menghangatkan hatinya di pagi yang dingin.
Tak lama, terdengar suara bel di depan.
Karin berjalan membuka pintu. Terkejut, ia melihat seorang wanita setengah baya, berdiri anggun tapi tatapannya tajam: Ibu Arga.
“Ibu… selamat pagi,” sapa Karin cepat-cepat, menunduk hormat.
Ibu Arga melangkah masuk, menatap ke sekeliling rumah. “Arga mana?”
“Di dalam, Bu. Sarapan…”
Ibu Arga melangkah ke ruang makan. Arga berdiri begitu melihat ibunya. “Bu… pagi.”
“Pagi,” jawab ibunya, suaranya datar. Matanya lalu beralih ke Karin yang berdiri canggung di samping meja.
Ibu Arga duduk.
“Aku dengar kamu sudah mulai memasak sendiri?” tanyanya, nadanya terdengar lebih seperti ujian.
“iya, Bu…” Karin mengangguk cepat.
“Bagus,” kata ibu itu, meski ekspresinya tetap dingin. “Kamu sekarang istri Arga. Kamu harus bisa mengurus rumah, jaga nama baik keluarga, dan… bersiap punya anak.”
Karin tertegun. Pipinya memanas. “Anak…?”
“Iya. Pernikahan kalian sudah menjadi pembicaraan keluarga besar. Jangan sampai mereka berpikir kalian hanya pura-pura menikah,” suara ibu Arga terdengar tegas.
Arga buru-buru menengahi.
“Bu, kami baru saja menikah…”
“Justru karena itu, Ga,” potong ibunya cepat. “Semakin cepat kalian tampak seperti suami istri sungguhan, semakin baik.”
Karin menunduk, jantungnya berdetak kencang. Kata “punya anak” terasa seperti beban yang sangat besar.
Setelah ibunya pulang, suasana jadi canggung.
Arga duduk di ruang tamu, mengusap wajahnya. Karin berdiri di samping, tak berani bicara dulu.
“Maaf…” kata Karin akhirnya, suaranya nyaris bisikan.
Arga mengangkat kepala, menatapnya. “Kenapa minta maaf?”
“Aku… aku tahu Mas juga tertekan. Dan sekarang Ibu minta kita… punya anak…” Karin menggigit bibirnya. “Aku… aku takut Mas merasa semakin terbebani.”
Arga berdiri, mendekat.
“Bukan salahmu, Karin. Ini salah keadaan,” katanya pelan. “Aku juga belum siap… dan aku tahu kamu juga belum.”
Karin menahan air mata. “Tapi kalau… Mas ingin, aku…” suaranya tercekat.
Arga langsung menggeleng cepat. “Tidak, Karin. Jangan pernah bicara seperti itu.”
Sejenak, mereka hanya saling menatap.
Arga menarik napas panjang. “Karin… aku tidak mau kita jalani pernikahan ini karena tekanan orang lain. Kita sudah cukup terluka. Aku tidak mau kamu terluka lebih dalam.”
Karin menutup mulutnya, menahan isak. “Terima kasih, Mas…”
Siang hari, Karin menelepon ibunya sendiri.
Suara ibunya terdengar pelan, lelah. “Nak… bagaimana di sana?”
“Baik, Ma…” jawab Karin pelan.
“Arga… baik padamu?”
“Iya, Ma… dia sangat baik.” Suara Karin bergetar. “Tapi… Ibu mertuaku bilang aku harus cepat punya anak…”
Hening beberapa detik di ujung telepon. Lalu ibunya berkata, “Nak… Mama tahu kamu takut. Tapi kamu sekarang istri orang. Kamu harus terima apa pun keadaannya.”
Malamnya, Karin tampak lebih murung.
Arga melihatnya duduk di tepi ranjang, memandangi lantai. “Ada apa?” tanyanya pelan.
Karin menggeleng, menahan air mata. “Nggak apa-apa, Mas…”
“Karin,” suara Arga sedikit tegas. “Bilang sama aku. Aku nggak mau kamu memendam semuanya sendiri.”
Karin menoleh, matanya basah. “Aku takut, Mas… aku takut nggak bisa jadi istri yang baik. Aku takut Mas malu karena aku. Aku takut keluarga Mas kecewa…”
Arga duduk di sampingnya.
“Karin… dengerin aku,” katanya pelan. “Kamu sudah melakukan lebih dari cukup. Kamu tidak harus berubah jadi orang lain hanya untuk menyenangkan mereka.”
“Tapi…”
Arga menyentuh bahunya, lembut. “Aku… nggak akan biarkan mereka menyakiti kamu. Percaya sama aku.”
Itu pertama kalinya Karin menangis di depan Arga.
Dan untuk pertama kalinya juga, Arga menghapus air matanya. Sentuhan tangannya hangat, meski canggung.
Beberapa hari berikutnya, tekanan semakin terasa.
Ibu Arga sering menelepon, menanyakan “kabar baik”
Keluarga besar mulai menanyakan kenapa Karin belum hamil
Gosip kecil muncul: “Katanya Arga terpaksa menikah… katanya mereka tidur di kamar terpisah…”
Karin mulai merasa dadanya sesak setiap bangun pagi.
Suatu malam, Karin jatuh sakit.
Demam tinggi, tubuhnya lemas. Arga yang baru pulang dari kantor kaget melihatnya terbaring di sofa, pipi memerah.
“Karin! Kenapa nggak bilang kalau sakit?” tanya Arga panik.
Karin membuka mata lemah. “Aku… nggak mau Mas khawatir…”
Arga mengangkat tubuhnya perlahan, membawanya ke kamar. Ia menyiapkan air hangat, mengganti handuk di kening Karin, dan duduk di sisi ranjang sambil memegang tangan Karin.
Malam itu, Arga nyaris tak tidur.
Ia menatap wajah Karin yang pucat, hatinya diliputi rasa bersalah. Aku harusnya bisa menjaganya lebih baik…
Menjelang subuh, Karin membuka mata.
Melihat Arga masih duduk di sampingnya, Karin berbisik lemah, “Mas… terima kasih…”
Arga tersenyum tipis, meski matanya merah. “Tidurlah lagi. Aku di sini.”
Penutup Bab 3
Pernikahan ini memang tak pernah mereka minta. Tapi di balik rasa bersalah, di balik tekanan keluarga, perlahan tumbuh rasa peduli… yang entah, bisa menjadi cinta, atau hanya luka yang semakin dalam.
Mereka masih belum tahu.
Tapi malam-malam yang sunyi itu perlahan mulai terisi oleh kehangatan baru.