awal dari kejujuran

1024 Kata

Andin duduk dengan punggung sedikit condong ke depan, kedua tangannya memeluk cangkir kopi yang sudah mulai dingin. Matanya tak sepenuhnya tertuju pada Arga yang duduk di depannya. Sesekali, pandangannya melirik ke arah jendela kaca besar Café Flow. Dari sudut itu, ia bisa melihat jelas mobil hitam yang terparkir tak jauh dari jendela, mobil yang sama sejak beberapa waktu lalu. Jack masih di sana. Dadanya terasa sesak, namun Andin memaksa dirinya untuk tetap tenang. Ia meneguk kopinya perlahan, lalu meletakkan cangkir itu kembali ke atas meja. “Sepertinya aman kalau kita membahas pertemuan kita yang sebenarnya sekarang,” ucap Andin akhirnya, suaranya direndahkan. “Aku rasa mata-mata itu tidak akan bisa mendengar percakapan kita.” Arga mengikuti arah pandangan Andin ke luar jendela. Ia

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN