Malam telah benar-benar turun ketika mobil Arga berhenti di area parkiran apartemen Andin. Tidak ada lagi warna jingga senja yang menghiasi langit, yang tersisa hanyalah gelap dengan lampu-lampu kota yang berkelip dingin. Udara malam terasa lebih berat, seolah ikut memikul beban yang kini ada di d**a Andin dan Arga. Keduanya keluar dari dalam mobil hampir bersamaan. Arga secara refleks meraih lengan Andin, menggenggamnya erat. Dengan gerakan yang dibuat senatural mungkin, ia menundukkan kepalanya dan mengecup pucuk kepala Andin dengan lembut. Dari luar, mereka tampak seperti sepasang kekasih yang baru saja melalui pertengkaran kecil dan akhirnya berdamai terlihat mesra, akrab, dan tanpa jarak. Namun di balik itu, jantung Andin berdegup kencang. Ia tahu mereka sedang dipantau namun perl

