Ruang tamu apartemen milik Andin malam itu terasa jauh lebih sempit dari biasanya. Udara seolah mengental, membuat siapa pun yang berada di dalamnya sulit bernapas dengan lega. Tuan William dan Nyonya Cellin duduk berdampingan di sofa panjang, sementara Andin dan Arga duduk berhadapan dengan mereka. Tidak ada satu pun yang bersuara selama beberapa detik, hanya detak jam dinding yang terdengar nyaring, seakan menghitung waktu menuju kebenaran yang tak bisa lagi dihindari. Wajah Nyonya Cellin tampak gelisah. Tangannya saling menggenggam erat di pangkuannya, sementara matanya berkali-kali berpindah dari Andin ke Arga. Ada kecemasan yang jelas di sana, kecemasan seorang ibu yang firasatnya mengatakan bahwa putrinya sedang berada dalam bahaya. Tuan William akhirnya tidak sanggup lagi menahan

