Jack duduk di balik kemudi mobilnya dengan mesin yang masih menyala. Tangannya mencengkeram setir erat, sementara pikirannya berputar liar. Ingatan yang sejak tadi mengusiknya kini kembali muncul dengan jelas, seperti potongan puzzle yang akhirnya menemukan tempatnya. “Tiga minggu lalu…” gumam Jack pelan, matanya menatap kosong ke arah depan. Ia mengingat malam itu dengan sangat jelas. Andin keluar dari gedung apartemen dengan tergesa tangannya membawa koper sementara satu tangannya lagi menggandeng erat tangan seorang lelaki muda menggunakan seragam SMA yang nampak selalu menundukan kepalanya. Saat itu Jack mengira mereka hanya keluarga atau sepasang adik kakak yang tinggal di apartemet dan tak ada yang mencurigakan. Namun kini semuanya terasa begitu jelas. “Gadis itu… Andin,” lanjutn

