Begitu mobil berhenti sempurna di area parkiran apartemennya, Andin langsung mematikan mesin. Dadanya naik turun tak beraturan, seolah paru-parunya bekerja dua kali lebih keras dari biasanya. Ia segera membuka pintu dan turun, lalu bergegas membuka bagasi untuk mengeluarkan koper-koper milik Tuan William dan Nyonya Cellin. “Ayo, Tante,” ucap Andin seraya menarik satu koper dengan tangan kanannya. “Hati-hati jalannya.” Tuan William mengangguk sambil ikut menarik koper lainnya. Nyonya Cellin berjalan di samping mereka, matanya sibuk memperhatikan sekitar gedung apartemen, suasana parkiran, dan lorong yang akan mereka lalui. Setiap langkah menuju lift terasa seperti langkah menuju hukuman mati bagi Andin. Jantungnya berdetak sepuluh kali lebih cepat dari biasanya. Tangannya sedikit gemetar

