Di sudut kedatangan bandara, Nyonya Cellin berdiri dengan kedua tangan terlipat di d**a. Langkahnya mondar-mandir tak beraturan, seperti seterika yang tak pernah menemukan ujung kainnya. Wajahnya tampak gelisah, matanya sesekali melirik jam tangan di pergelangan tangannya, lalu menatap lurus ke arah pintu keluar penumpang. “Kenapa lama sekali, ya?” gumamnya pelan, namun cukup jelas terdengar oleh sang suami. Tuan William yang berdiri di sampingnya menghela napas pendek. Ia bisa merasakan kegelisahan istrinya bahkan sebelum mereka berangkat dari rumah, perasaan itu sudah menggelayut tanpa sebab yang jelas. “Sabar, Cellin,” ucap Tuan William lembut. “Mungkin Andin terjebak macet. Jalanan kota memang tidak bisa ditebak berbed dengan jalanan di desa.” Namun Nyonya Cellin menggeleng pelan.

