Langit mulai meredup ketika Andin melangkah keluar dari gedung kantornya. Deretan lampu jalan mulai menyala satu per satu, memantulkan cahaya kekuningan di aspal yang sedikit lembap sisa hujan sore tadi. Ia menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa lelah setelah seharian bekerja. Namun langkahnya mendadak terhenti di tengah jalan menuju parkiran. Getaran dari dalam tasnya membuat Andin refleks berhenti. Alisnya berkerut. Ia membuka resleting tas dengan cepat, lalu mengeluarkan ponsel yang masih bergetar di tangannya. Detik berikutnya, matanya membelalak saat melihat nama yang tertera di layar. Om William. “Kenapa Om nelpon lagi?” gumam Andin pelan. Jantungnya berdetak lebih cepat. Sejak percakapan kemarin, ia berharap tak akan ada panggilan lanjutan. Ia pikir semuanya sudah cukup te

