Tak bisa acu

1059 Kata
Davin duduk di kursi sofa yang menghadap jendela besar, meski matanya tak dapat melihat pemandangan di luar. Jemarinya meraba permukaan meja, mencari posisi gelas kopi yang tadi ia letakkan. Sore itu ia tengah menerima panggilan dari asistennya, Arga, yang selalu berbicara cepat dan padat. "Tuan, ada berkas kontrak yang harus Anda tanda tangani sebelum malam. Aku bisa bawa ke kantor, tapi lebih cepat jika aku antarkan ke apartemen Anda,” ucap Arga di seberang. “Bawa saja ke sini. Tapi jangan masuk, tunggu di lobi. Aku akan turun mengambilnya,” jawab Davin sambil menyesap kopi, nada suaranya datar seperti biasa. Setelah panggilan terputus, Davin meneguk sisa kopinya, lalu berdiri dan meraih tongkat lipatnya. Kebiasaannya selalu menghitung langkah dari sofa ke pintu membuat gerakannya cepat dan terukur. Tiga puluh menit kemudian, ponselnya bergetar—pesan suar dari Arga: “Aku sudah di lobi, Tuan.” Davin melangkah menuju lift. Di lorong, suara mesin pendingin udara dan dentingan pintu lift yang terbuka mengiringinya. Namun sebelum ia menekan tombol, sebuah aroma samar menelusup ke hidungnya, aroma lembut mawar bercampur dengan cherry blosom, entah mengapa terasa begitu familiar. Aroma yang membangkitkan memori singkat, seperti déjà vu yang mengusik. "Aroma itu… kenapa terasa sama seperti gadis itu?" Pikirnya kesal. Langkah Davin terhenti. Ujung tongkatnya menyentuh sesuatu yang tak seharusnya ada di lantai. Ia menunduk, meraba, dan jantungnya berdegup cepat saat mendapati jari-jari tangan seseorang. “Hei… apa ini?” gumamnya, lalu menelusuri dengan tangannya hingga meraba wajah yang dingin dan lembap. Tubuh itu lemas. Nafasnya berat. Keningnya panas saat disentuh. Davin mengernyit. “Gadis ini… Lexsa?” katanya pelan, seperti memastikan. Tidak ada jawaban. Davin menepuk pipi Lexsa pelan, mencoba membangunkan gadis itu. “HEY! Bangun! Dengar aku?” serunya, nada suaranya terdengar lebih panik dari yang ia inginkan. Berkali-kali Davin memanggil tetap tidak ada reaksi dari Lexsa. Davin menghela napas panjang, lalu memposisikan tubuh gadis itu di pelukannya. Meski matanya buta, otot-ototnya tetap terlatih dan kuat. Ia mengangkat Lexsa dengan teknik yang efisien, menyelipkan satu lengan di bawah lutut Lexsa dan satu lagi menyangga punggungnya. "Selalu saja merepotkan…” gumamnya lirih, tapi langkahnya tegas, Davin menggendong tubuh Lexsa tanpa rasa berat sedikitpun. Sambil menunggu pintu lift Davin menyerengit ia bergerak seperti sedang menimbang tubuh Lexsa. "Sebenarnya dia makan atau tidak, kenapa tubuhnya begitu ringan?" Pikir Davin. Ketika pintu lift terbuka, Davin masuk dan menekan tombol lobi. Sepanjang perjalanan turun, ia dapat merasakan tubuh Lexsa yang semakin panas. Suara napas gadis itu semakin berat, membuat Davin tak tenang. Pintu lift terbuka di lobi, dan Arga yang menunggu langsung berdiri dengan ekspresi kaget. "Tuan?" Arga bergumam lalu menghampiri Davin terburu, Arga menjulurkan tangannya hendak mengambil alih tubuh Lexsa namun Davin langsung memeluk tubuh Lexsa erat seakan tak membirkan Arga mengambil alih tubuh Lexsa yang ada dalam gendongannya. “Dia pingsan. Jangan tanya. Tunjukkan saja jalan ke mobil,” potong Davin cepat. Arga menatap gadis di gendongan Davin. Wajah Lexsa pucat, bibirnya sedikit bergetar sebelum ia mengangguk, lalu bergegas berjalan di depan. "Baik, Tuan. Mobil di sisi kiri teras.” Langkah Davin mantap mengikuti suara langkah Arga. Ia bisa merasakan tatapan orang-orang di lobi, bisik-bisik yang mengikuti setiap langkahnya meski ia tidak bisa melihat namun ia dapat merasakan. Begitu tiba di mobil, Arga membuka pintu belakang. “Letakkan dia di sini, Tuan.” Davin menunduk, meletakkan Lexsa dengan hati-hati di kursi. Saat jemarinya secara tak sengaja menyentuh jemari Lexsa, ia merasakan sesuatu—dingin, tapi samar bergetar, seperti gadis itu berusaha menggenggam sesuatu dalam tidurnya. *** Davin berjalan mondar-mandir di depan ruang UGD, suaranya bergema pelan di lantai rumah sakit yang licin. Sejak tadi, pikirannya penuh tanda tanya. Kenapa aku harus sekhawatir ini? batinnya. Dia bahkan tidak memiliki hubungan apapun dengan Lexsa—setidaknya, itulah yang ia yakini. Namun entah kenapa, rasa waswas itu terus mencengkeramnya. Arga, asistennya, duduk di kursi tunggu sambil memantau layar ponsel. Sesekali ia melirik Davin, khawatir bosnya yang terkenal tenang dan dingin itu terlihat gelisah seperti ini. "Tumben dia begitu khawatir pada seseorang?" Pikir Arga, sebelum beranjak dari duduknya lalu menghampiri Davin. “Tenang, Tuan. Dokternya pasti tahu yang terbaik,” ucap Arga mencoba menenangkan. Tak lama kemudian, pintu ruang UGD terbuka. Seorang dokter keluar sambil melepas sarung tangan medis. “Dokternya sudah keluar,” kata Arga, cepat lalu menuntun Davin untuk berhadapan dengan dokter tersebut. “Bagaimana kondisi pasien, Dok?” tanya Davin, nadanya tegas tapi terdengar sedikit tergesa. Dokter itu mengerutkan kening, matanya berpindah dari wajah Davin ke Arga, lalu kembali ke Davin. “Apa Anda suami pasien?” tanyanya hati-hati. Pertanyaan itu membuat Davin terbatuk kecil, sedikit salah tingkah. “Tidak, Dokter. Aku bukan suami pasien.” “Kalau begitu, apa hubungan Anda dengan pasien?” tanya dokter itu lagi. Davin terdiam sejenak, lalu menjawab datar, “Aku hanya tetangganya, Dokter.” Mendengar jawaban itu, dokter seperti ragu untuk mengungkapkan detail lebih jauh. Ia mengangguk pelan, lalu berkata, “Kondisinya sudah mendingan. Setelah obat bereaksi, pasien akan segera siuman." jawab dokter itu, lalu berlalu meninggalkan mereka. Arga menoleh ke Davin. “Tuan, sebaiknya aku kembali ke perusahaan untuk mengurus dokumen yang tadi sudah Anda tanda tangani. Klien sudah menunggu.” Davin mengangguk. “Pergilah. Pastikan dokumen itu sampai tepat waktu.” Setelah Arga pergi, suasana jadi lebih sepi. Hanya suara mesin monitor dari dalam UGD yang sesekali terdengar samar. Davin duduk di kursi tunggu, merasakan detak jantungnya yang sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia mencoba mengingat—ini bukan pertama kalinya ia bertemu Lexsa. Ada sesuatu pada gadis itu yang selalu membuatnya sulit bersikap acuh. Aroma parfumnya yang khas, nada suaranya, bahkan langkah kakinya… semua terekam jelas di memorinya tapi ia lupa dimana dia bertemu dengan Lexsa sebelumnya. Tak lama kemudian, seorang perawat keluar dari ruang UGD. "Tuan, pasien sudah dipindahkan ke ruang rawat sementara. Kalau mau, Anda bisa menunggunya di sana.” Davin mengangguk dan mengikuti arahan perawat itu. Meski matanya tak bisa melihat, ia berjalan mantap dibimbing perawat menuju ruang rawat yang tenang. Ketika masuk, ia bisa mendengar suara napas Lexsa yang teratur. Ia berdiri di tepi ranjang, mendengarkan keheningan di antara mereka. "Kenapa aku di sini?" pikirnya lagi. Ia bisa saja meninggalkan urusan ini dan kembali Menikmati waktu santainya di apartemennya, tapi… entah mengapa kakinya enggan melangkah pergi. Davin menarik kursi dan duduk di samping ranjang, tangannya tanpa sadar meraih ujung selimut, merapikannya di bahu Lexsa. “Kau benar-benar merepotkan, Lexsa,” gumamnya pelan. bersambung!...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN