pingsan

1197 Kata
Beberapa saat kemudian, Davin tiba di ruang pengajar. Suara lantai yang berbunyi pelan akibat tongkat di tangan Davin seperti mengumumkan kehadirannya. Lexsa yang saat itu tengah duduk bersandar di kursi menikmati waktu santainya sontak tegak, punggungnya lurus seperti papan. Jemarinya yang sedari tadi menggenggam gelas air kini sedikit bergetar. Matanya membelalak begitu melihat sosok lelaki itu masuk, sosok yang sama yang ia temui di apartemen, lalu di tangga, dan ternyata itu idolanya. Davin berhenti sejenak di ambang pintu. Tatapannya memang kosong, tapi arah wajahnya tepat mengarah ke tempat Lexsa duduk. Bukan kebetulan, ia tahu posisi Lexsa dari aroma parfum Lexsa yang khas. Tanpa mengucap sepatah kata pun, Davin melangkah pelan menghampiri meja Lexsa. Langkahnya tenang, namun setiap derapnya membuat detak jantung Lexsa semakin tak terkendali. Gadis itu hanya bisa duduk terpaku, matanya mengikuti setiap gerakan lelaki itu dengan perasaan yang bercampur aduk antara kagum, gugup, dan… sedikit kesal. Davin berhenti tepat di depan meja Lexsa. Tangan kanannya terulur, meletakkan sebuah kotak kecil berwarna putih di atas meja. Kotak P3K mini. "Obati lukamu." Ucapannya singkat, dingin, dan tegas—seolah tak memberi ruang untuk penolakan. Lexsa tertegun, matanya membesar sempurna. "Luka?" Ia refleks melirik ke lututnya yang memang sedikit lecet akibat jatuh saat tabrakan di tangga tadi. Namun yang membuatnya heran adalah… "Dari mana dia tahu aku terluka? Bukankah dia… tidak bisa melihat?" pikir Lexsa, bingung. Davin tidak menunggu jawaban. Ia hanya berdiri beberapa detik di sana, kemudian melangkah ke meja kerjanya sendiri. Gerakannya efisien, seolah ia sudah menghafal letak setiap benda di ruangan itu. Sementara itu, Lexsa masih memandangi kotak P3K di hadapannya. Hatinya berdebat sendiri. Ia mengagumi lelaki ini selama bertahun-tahun, mengikuti karya musiknya, membaca tulisannya, bahkan membayangkan suatu saat bisa berbicara dengannya. Tapi kenyataan hari ini begitu berbeda dari bayangan itu. Alih-alih ramah dan penuh senyum, Davin yang ia temui justru dingin, sulit ditebak, dan—kalau boleh jujur—cukup menyeramkan dalam diamnya. Namun, ada sesuatu yang membuat Lexsa tak bisa begitu saja membencinya. Lelaki itu memperhatikannya… bahkan dalam keterbatasannya. Lexsa menghela napas, membuka kotak P3K, dan mulai mengobati lukanya. Sesekali ia melirik ke arah Davin yang tampak sibuk dengan berkas-berkas di mejanya. Tidak ada interaksi lagi di antara mereka, hanya keheningan yang diisi suara jarum jam di dinding. Namun di balik ketenangan itu, masing-masing dari mereka memendam rasa penasaran yang tak terucap. Bagi Lexsa, Davin adalah teka-teki besar—idola yang selama ini ia kagumi ternyata memiliki sisi yang sama sekali tak ia bayangkan. Bagi Davin, Lexsa adalah misteri yang tak diundang—gadis asing yang dua kali bertemu dengannya secara tidak sengaja, namun entah kenapa, selalu meninggalkan jejak di pikirannya. Davin harus berhati-hati pada Lexsa kehadiran gadis itu bisa membuat pertahanan Davin yang tidak ingin berinteraksi pada siapapun akan runtuh. Lexsa masih terpaku memandangi kotak P3K di tangannya. “Bagaimana dia tahu aku terluka? Dia bahkan tidak melihatku…” batinnya berkecamuk, sebelum kemudian Lexsa berdiri membuka sepatunya agar saat ia berjalan sepatu itu tidak menimbulkan suara. Lexsa berjalan jinjit menuju meja Davin yang saat itu masih terduduk meminum minuman yang ada di botolnya. Lexsa berhenti tepat di depan Davin, Lexsa menjulurkan tangannya mengibas-ibaskan tangan itu ingin melihat respon yang di tunjukan oleh Davin, namu meski ia melambaikan tangannya di depan Davin lelaki itu tetap tidak merespon pergerakannya. "Dia benar-benar buta, lalu dari mana dia tahu aku luka?" Pikir Lexsa sebelum Lexsa di kagetkan karena tiba-tiba saja Davin berdiri tegak di depannya, wajahnya datar, tanpa senyum. “Kau pikir aku tidak bisa tahu?” suaranya rendah namun tajam, seakan menembus dan dapat melihat pikiran serta isi hati Lexsa. Lexsa terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat, entah karena takut atau… gugup. Davin lalu menarik lengan Lexsa sediki kasar membuat Lexsa langsung terhuyun kearahnya, Davin membungkuk sedikit, mendekat ke arah Lexsa hingga aroma segar dari parfumnya menyatu dengan wangi parfum mawar bloosom milik Lexsa “Aku mengenali langkahmu, menghafal betul aroma parfummu bahkan aku mengetahui intonasi nada suaramu." Ucap Davin, ia meremas lengan Lexsa membuat Lexsa meringis merasa kesakitan "Siapa sebenarnya dirimu?" Tanya Davin. Lexsa menelan ludah, merasa semakin tidak mengerti akan tindakan Davin "Lepas kau menyakitiku." Rengek Lexsa membuat Davin berlahan melepas genggamannya. "Aku yakin kita perna bertemu jauh sebelum pertemuan kita di lift." Ucap Davin lagi namun Lexsa masih bingung akan ucapan Davin, karena setahunya ia tidak perna bertemu dengan Davin sebelumnya. Davin terhenyak begitu menyadari tindakannya pada Lexsa sudah sangat kasar dengan cepat Davin meraih tongkatnya yang ada di samping meja lalu melangkah pergi meninggalkan Lexsa. "Yeah Tuhan, apa yang sedang ku lakukan? Bisa-bisanya aku terbawa perasaan emosional seperti itu." Gumam Davin seraya terus melangkah meninggalkan panti rehab itu. *** Suara deru mesin taksi bercampur dengan klakson kendaraan lain terdengar samar di telinga Lexsa. Ia duduk di kursi belakang, kepala bersandar pada kaca jendela yang terasa dingin, mencoba meredam denyut yang menusuk di pelipisnya. Tangannya bergerak pelan, memijit-mijit sisi kepalanya. Napasnya terputus-putus, dadanya naik-turun tak beraturan. Kulit wajahnya sudah memucat, seperti darah perlahan meninggalkan permukaannya. "Jika mama tahu… dia pasti langsung menjemputku. Membawaku pulang… dan memarahiku habis-habisan," pikir Lexsa, bibirnya bergerak tanpa suara. Ingatan pagi tadi kembali berkelebat. Ia bangun terlambat, panik karena jam di dinding menunjukkan ia hampir telat dalam kekalutan, ia langsung menyambar tas, mengunci pintu apartemen, dan berlari keluar. Ia bahkan tidak sempat memeriksa meja kecil di dekat pintu—tempat ia selalu meletakkan obat-obatannya. Dan sekarang, ia harus menanggung akibatnya. Sakit di kepalanya bukan lagi sekadar pusing. Rasanya seperti ada sesuatu yang memukul-mukul dari dalam, setiap detaknya membuat pandangannya sedikit bergetar. "Berhenti di depan apartemen Green Valley, ya," ucap Lexsa pelan pada sopir. Suaranya serak, hampir tenggelam oleh suara bising lalu lintas. Sopir itu melirik lewat kaca spion, matanya penuh rasa ingin tahu tapi tidak bertanya apa-apa. Ia hanya mengangguk. "Baik Nona." Beberapa menit kemudian, taksi itu melambat, berhenti di tepi jalan. "Sudah sampai." Lexsa merogoh dompetnya dengan tangan gemetar, menyerahkan sejumlah uang, lalu membuka pintu. Udara sore yang lembab langsung menyambutnya, bercampur bau aspal panas dan aroma makanan dari kedai di seberang jalan. Ia menegakkan punggung, memaksa langkahnya tegap meskipun tubuhnya mulai terasa ringan, seperti melayang. Lobi apartemen berada hanya beberapa meter di depannya, tapi entah kenapa jarak itu terasa jauh sekali. Begitu masuk ke dalam gedung, pendingin ruangan langsung menyapu kulitnya, membuat tubuhnya sedikit menggigil. Pandangannya langsung tertuju pada lift di ujung lobi. Ia menekan tombolnya, dan menunggu sambil memejamkan mata, mencoba mengatur napas. "Bertahan sedikit lagi… sampai di kamar, minum obat… semuanya akan baik-baik saja," ia meyakinkan dirinya. Denting halus menandakan lift tiba. Pintu terbuka, dan Lexsa melangkah masuk. Di dalamnya hanya ada dirinya dan bayangannya di dinding stainless steel yang berkilap. Lift bergerak naik, setiap lantai yang dilewati terasa lebih lama dari biasanya. Sampai akhirnya—ting!—pintu terbuka di lantai tempat apartemennya berada. Lexsa melangkah keluar, tapi baru dua langkah, lututnya terasa kehilangan tenaga. Pandangannya berkunang, garis-garis cahaya di lorong memanjang dan melengkung aneh. Ia meraih dinding, jemarinya mencari pegangan, tapi tubuhnya sudah tak mau bekerja sama. Sebuah denyut kuat menghantam kepala bagian belakangnya, dan dunia seketika menjadi gelap. Tubuhnya jatuh dengan bunyi thud pelan di karpet lorong. Tasnya terlepas, isinya berhamburan—ponsel, dompet, kunci, dan lipstik yang berguling jauh ke ujung lorong. Sunyi. Hanya suara dengung AC lorong yang terdengar. bersambung.....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN