Tumor ganas

834 Kata

Arga memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Malam itu terasa begitu panjang, detik-detik seperti berubah lambat ketika ia menoleh ke bangku belakang. Tubuh Lexsa terbaring lemah, wajahnya pucat pasi, keringat dingin membasahi pelipis, sementara napasnya tersengal-sengal, gadia itu tak sadarkan diri ia seperti berada diantara hidup dan mati. Begitu tiba di pelataran rumah sakit, Arga segera menghentikan mobil. Ban mobil berdecit ketika direm mendadak. Dengan gerakan panik ia membuka sabuk pengamannya, lalu berlari menuju pintu belakang. “Nona Lexsa…” panggilnya dengan suara tercekat. Ia membuka pintu, lalu meraih tubuh lemah Lexsa ke dalam gendongannya. Sekali sentakan, tubuh Lexsa berpindah ke dalam dekapannya. Arga bisa merasakan betapa ringkih tubuh gadis itu, seolah tulangnya tak l

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN