Awal Perselingkuhan
Efita sudah bersiap-siap berangkat kerja. Di bekerja diperusahan terbesar dinegara ini. Sebagai office girl,Efita selalu berangkat pagi. Sebenarnya dia tak perlu bekerja dengan menjadi pegai rendahan,karna uang sang suami sudah lebih dari cukup untuk menghidupinya.
Dzaki suami Efita bekerja sebagai pelayar diluar negeri. Dia pulang ke indonesia setiap 1tahun sekali. Sesekali mereka berkirim kabar. Efita merasa kesepian,ia tak tahan dengan gairah jiwa yang harus ia tahan selama ini. Pernah terfikir oleh Efita untuk mencari lelaki bayaran ,tapi ia takut ketagihan dan tidak bisa berganti rasa.
"Mama berangkat dulu ya dek,sebentar lagi mang Ujang jemput ya dek,ini uang sakunya,"ucap Efita sambil menyerahkan uang 20ribuan kepada Ulil,anak semata wayangnya.
"Makasih mama sayang,mama hati-hati ya. Jangan lupa makan siang,"sahut Ulil sambil mencium tangan sang mama dengan tahmid.
Efita keluar dari gerbang rumahnya mengendari motor matic menuju kantor tempat bekerjanya. Perjalanan yang dilalui hanya membutuhkan sekitar 10menit dari perumahan tempat tinggalnya. Lalu lalang kendaraan sudah semakin semrawut dijam kerja sepert ini.
Setelah memakirkan motor, Efita berjalan menuju ruangan OB,dipintu masuk ia disapa oleh mang Doni,security muda yang sudah lama tergoda dengan tubuh body goals nya Efita. Meski sudah bronjol 1 anak,body masih sangat bagus.
"Pagi mbak Fita,mbak hari ini ada direktur muda datang mbak,cepetan mbk sebelum nanti kena tegur!"nasehat mang Doni.
"Pagi mang,thanks ya mang,aku kedalam dulu."
Mang Doni tersenyum dan mengganggul pelan. Pikirannya masih terbayang bodi Efita yang tercetak jelas dengan baju yang seragam yang ketat.
Dimasukkannya tas dan jaket kedalam loker. Efita berlalu menyambar peralatan OB untuk membersihkan ruang direktur muda. Mulutnya tak berhenti bersenandung setiap kali membersihkan ruangan. Richard yang kebetulan ingin memgecek ruangan presdir langsung masuk tanpa ketuk pintu.
Betapa seksinya Efita yang sedang mengelap jendela dengan b****g yang bergoyang. Mata Richard masih mengawasi b****g yang sintal dan menggairahkan itu hingga ia dikagetkan oleh sang sekertaris.
"Pak Richard,maaf bisakah bapak mengecek laptop saya. Sepertinya eror lagi pak,soalnya laporan keuangan yang harusnya 2 hari ini tidak ditemukan pak",ucap Sasi yang memang menaruh hati dengan Richard.
"Oke kamu duluan,aku cek ruangan ini dulu sebelum sikulkas datang. Nanti malah jadi berantakan."jawab Richard tanpa melihat Sasi. Sasi pun menghilang dibalik pintu. Efita yang mengetahui ada brondong ganteng berbalik menunjukan buah d**a nya yang menyembul keluar dibalik seragamnya.
Richard menelan ludahnya,ada sesuatu yang berdiri dibawah sana.
"Sialllll!!!!" umpatnya lalu berlalu meninggalkan ruangan.
Efita merasa senang,siapa tahu ia bisa dipuaskan dengan pak Richard. Secara proporsi tubuh,pria balsteran Belanda-Kalimantan itu begitu menggoda apalagi dadanya terdapat bulu halus yang begitu menggairahkan bagi Efita.
Setelah selesai Efita kembali keruangan OB lagi. Ia meletakkan peralatan dan masuk kekamar mandi untuk cuci tangan.
"Fit kamu belum tahu kan presdir muda perusahaan ini? Uhh bikin kita meleleh Fit," ucap Rena sambil membayangkan sesuatu.
Efita mengelap tangannya dan duduk disamping Nita.
"Yang bener Ren,padahal aku baru saja membersihkan ruangannya. Tapi yang datang pak Richard tadi." ucap Efita.
"Aku juga baru masuk Fit,aku kan dari lobi depan. Pesona presdir memang tak mengecewakan. Ganteng,tinggi,mukanya luar negri banget Fit. Iya kan Nit?"
"Tapi sayangnnya manusia kulkas Fit,"timpal Nita.
Efita masih membayangkan seperti apa presdir muda itu.
Telpon OB berdering,Nita yang berada didekatnya langsung menyambar.
"Beruntung kamu Fit...,"belum selesai Rena bicara, Nita langsung memeotong pembicaraan nya.
"Fit disuruh bawakan kopi gulanya sedikit 2 cangkir keruangan presdir."ucap Nita.
Tanpa menjawab Efita segera membuat kopi dengan racikan tangannya. Ia membenarkan penampilannya siapa tahu sang presdir jatuh cinta padanya.
Efita berjalan menuju lantai atas. Karyawan lelaki dikantor itu hampir tahu tentang kemolekan tubuh Efita,d**a montok tubuh langsing dan b****g yang sintal ditunjang postur Efita yang tinggi dengan wajah yang putih bersih. Setiap ia jalan mata kucing garongpun langsung dibuat terpana.
Tok tok tok
"Masuk"
Efita berjalan berlenggok mendekati meja presdir. Richard menelan ludahnya,kejadian tadi seolah terulang kembali. Sedang Aldo masih fokus dengan berkas yang ia pelajari.
"Ini kopinya pak,ada yang dibutuhkan lagi pak,kalau tidak saya permisi dulu,"ucap Efita sambil melirik presdir baru itu.
"Ini mah kucing import,itunya pasti bikin puas dan nagih",batin Efita membayangkan kejantanan sang presdir.
"Hemmm,"jawaban singkat sang presdir membuat Efita kecewa. Ternyata dia manusia kulkas. Dia melangkah meninggalkan ruangan itu dengan perasaan kecewa. Ia sebenarnya mau saja dengan Richard tapi proporsi tubuh presdir lebih menantang.
Sesampainya diruangan Efita sudah dibrondong banyak pertanyaan.
"Hemmm ternyata manusia kutub,boro-boro datang disambut senyum Ren,Nit ehh ini malah nglirim aja enggak. Tapi bener juga wajah balsterannya bikin gak kuat,"ucap Efita.
Rena dan Nita masih menahan tawanya,ia tahu Efita kesal dengan perlakuan sang presdir. Telpon ruangan berdering kembali,Nita bergegas mengangkatnya. Seketika ruangan mendadak sunyi.
"Fita disuruh keruangan presdir,disuruh buatin orange jus 1. Cepat Fit tadi nada suaranya sudah gak enak banget Fit." pinta Nita dengan wajah cemas.
Kembali Efita menuju ruangan presdir. Sesampainya didepan pintu,Fita dikejutkan Richard yang sudah berdiri didepannya.
"Maaf pak,Fita membawakan pesanan presdir."ucap Fita gugup. Richard hanya mengganggukan kepala,dan berlalu meninggalkan Fita. Dengan b****g seksinya,ia masuk keruangan presdir.
"Ini pesanan bapak,kalau tidak ada yang dibutuhkan saya pamit pak,permisi,"ucap Efita tapi tangannya langsung dicekal oleh sang presdir.
"Kunci pintunya!"titahnya. Efita melangkah menuju pintu untuk mengunci pintu. Hatinya tidak karuan,bisa berduaan dengan sang presdir yang begitu menggairahkan.
"Efita Maharani,lulusan SMA,sudah menikah dan mempunyai 1 anak. Benar kan?"ucap sang presdir.
"Benar pak,tapi suami saya tidak diIndonesia. Dia berlayar pulang setiap 1 tahun sekali."jawab Efita dengan suara yang agak mendesah.
"Panggil saya Aldo,pak Aldo kalau dalam kantor diluar kamu bisa panggil saya Aldo. Nanti malam temani saya menghadiri pesta ulangtahun rekan bisnis saya. Tidak ada penolakan dan silahkan kembali keruangan kamu. Satu lagi jam 7 malam saya akan menjemputmu,gaunnya sudah dikirim ke alamatmu."
Efita hanya mengangguk,ia melangkah meninggalkan ruangan sang presdir dengan hati gembira. Bak gayung betsambut,ia rela menyerahkan tubuhnya gratis adal ia dapat kepuasan yang selama ini ia tidak dapatkan.
Jam makan siang Efita sudah disuruh pulang ole Richard. Rena dan Nita yang mengetahuinya kaget,ia berfikir Efita dipecat. Karna saat Efita datang mereka sedang sibuk. Jadi belum dapat kabar pasti dari Efita.
Banyak karyawan kantor yang betanggapan Efita dipecat. Kasak kusuk kepulangan Efita membuat trending topik digrup kantor.
Efita yang baru saja sampai dirumahnya dibuat kaget dengan isi chat grup kantor yang sedang membahasnya.
"Hahahahaha dugaan mereka salah semua. Biarkan saja aku memang suka bermain-main. Akhirnya bisa ngrasain brondong muda. Biasanya hanya Dhaniel mantan pacarku dulu yang membuat aku puas. Semenjak dia kecelakaan dan lumpuh 3 bulan yang lalu aku tidak tertarik lagi. Bahkan nomernya sudah aku hapus." Efita bermonolog sendiri dikamarnya.
Ia sudah membayangkan permainan panas dengan sang presdir. Hanya membayangkan saja,bagian bawah Efita sudah basah. Apalgi kalau langsung dirangsang sang presdir.
Efita tinggal bertiga dirumah itu,ada pembantu yang 24jam melayaninya.
"Mbak Jum,malam ini saya mau menghadiri acara ulangtahun teman. Nanti temani Ulil ya mbak. Saya gak tahu pulang jam berapa." ucap Efita.
"Baik bu,mau makan sekarang atau nanti nunggu mas Ulil bu?" jawab mbak Jumi.
"Sekarang aja mbak,saya sudah lapar. Sekalian jus lemonnya mbk."pinta Efita.
Mbak Jumi menyiapkan makan siang. Ia selalu makan bersama Efita dan Ulil jika malam hari. Tidak ada perbedaan majikan dan pembantu,bagi Efita mbak Jum sudah seperti keluarganya sendiri.
"Ayo mbak sekalian temani saya ngobrol. Mbak saya heran dengan diri saya sendiri. Dirumah aja dah enak duduk manis,ini malah cari kerjaan jadi OB dengan gaji tak seberapa dibanding gaji bang Dzaki. Tapi saya enjoy seneng mbak ngelakuinnya."curhat Efita pada mbak Jumi.
"Saya aja sampai heran dengan ibu,tapi kalau ibu cuma dirumah saja pasti bosan buk. Apa ibu sudah pengen resign buk?"
Efita hanya menggelengkan kepalanya,pikirannya masih traveling kemana-mana.
Setelah makan siang Efita berjalan menuju kamarnya berganti baju kesalon langganan untuk mempercantik dirinya. Ia harus perawatan terlebih dahulu sebelum sang bos menjemputnya. Jam masih menunjuk pukul 13.45,tapi Efita sudah bersiap kesalon langganannya. Uang gajinya bisa raip sekali ia perawatan.
"Mbak,saya pergi kesalon dulu ya mbak. Kalau Ulil pulang langsung suruh makan terus temani dia istirahat ya mbak,"ujar Efita.
"Baik bu."
----------------
Salon langganan Efita hari ini cukup ramai. Sampai Miss Cery aja turun langsung.
"Hai miss," Efita langsung cipika cipiki dengan bencong nan cantik itu.
"Sabar ya say,eyke kelarin ini dulu. Tinggal bentar say,masih tahan kan",ucap Miss Cery dengan suara mendesah dan gaya kemayunya.
Efita menunggu sambil membuka sosial medianya. Ia tidak setiap hari bisa berkomunikasi dengan sang suami. Suaminya begitu cuek. Setiap pulangpun ia akan disibukkan dengan mengunjungi sang ibu yang tinggal tidak jauh dari perumahan Efita. Setiap berhubungan pun Efita tidak sampai mencapai o*****e.
Beda dulu sebelum dia mempunyai anak,dia selalu membuat Efita kewalahan. Naluri Efita yang hiperse*s membuat ia mencari kepuasan