Ruang tamu yang menjadi saksi kemarahan Darmawan kini sudah senyap. Hanya ada sepasang pelayan yang berada di sana, membereskan meja dan pecahan vas bunga yang masih tersebar di lantai.
Keluarga Ririn dan Bram kini sudah berpindah ke ruang keluarga. Pembicaraan serius kembali berlangsung di sana. Namun, suasana tegang sudah tak ada lagi. Semuanya mencoba menyelesaikan persoalan pelik dengan kepala dingin.
Setelah kesalahpahaman yang terjadi, Bram menjelaskan kepada Dimas apa yang sebenarnya terjadi. Ia menceritakan kembali semua yang sudah dikatakan Ririn tanpa menutup-nutupi apa pun. Ririn sesekali menyahut, membenarkan apa yang diceritakan Bram.
“Ma, Pa, aku setuju dengan tawaran Bram. Sebaiknya, kapan pernikahan ini dilangsungkan?” tanya Dimas.
“Secepatnya.” Darmawan menjawab cepat.
“Ya, Mama setuju. Ririn harus segera melangsungkan pernikahan sebelum perutnya membesar.” Elvina menimpali jawaban suaminya.
Keluarga Darmawan memang orang terpandang dan kaya raya. Darmawan memiliki banyak kolega dan rekan bisnis dari dalam dan luar negeri. Namun, ia dan istrinya tetap mengusung budaya ketimuran. Menikahkan anak dalam keadaan hamil besar tak pernah terpikirkan oleh mereka. Oleh karena itu, mereka menyetujui tawaran Bram dan meminta agar pernikahan dilakukan secepatnya.
“Bram, masalah persiapan pernikahan nanti Tante yang akan urus. Kamu tenang saja, ya,” ujar Elvina. Ia tak ingin merepotkan Bram dan keluarganya. Pengorbanan yang diberikan Bram sangat istimewa, tak dapat ditakar dengan harta.
“Tante, aku mempunyai tabungan yang sudah aku siapkan untuk pernikahanku dengan Cindy nanti. Aku akan memberikannya kepada Tante.” Bram menyahut. Ia merasa tak enak hati jika menikah hanya dengan modal badan saja.
Mendengar Bram menyebut nama Cindy, Ririn semakin tak enak hati. Ia bertekad dalam hati bahwa pernikahannya dengan Bram tak akan pernah terjadi. Selama pembicaraan mengenai rencana pernikahan berlangsung, Ririn sama sekali tak mengucapkan kata penolakan. Namun, hal yang berbeda ada di dalam hati gadis itu. Ia tahu bahwa hanya Cindy yang dicintai Bram dan bukan dirinya. Ia tak akan membiarkan Bram memupus mimpi untuk memperistri Cindy.
“Hari sudah mulai malam. Lebih baik kita makan malam dulu,” ujar Dimas. Ia memang belum makan apa pun sejak jam makan siang di kantor.
“Ya, sudah jam delapan malam. Ayo, kita makan malam dulu.” Darmawan mengiyakan perkataan Dimas.
Darmawan dan Elvina beranjak meninggalkan ruang keluarga, diikuti Dimas, Bram, dan Ririn. Kelima orang itu pun duduk bersama di ruang makan, menikmati makan malam yang sudah disiapkan para pelayan.
Ririn tak nafsu makan. Ia hanya memainkan sendok dan garpu yang ada di kedua tangannya. Pikirannya melayang pada apa yang baru saja dibicarakan.
“Rin, kok melamun? Ayo, makan,” tegur Dimas.
Teguran Dimas membuat Ririn tersadar dari lamunannya. Perutnya memang lapar, tetapi mulutnya tak berselera. Ia menurut, mencoba menikmati makanan yang sudah tersedia.
Baru beberapa suapan masuk ke mulutnya, Ririn merasa tak nyaman. Ia tiba-tiba saja terganggu dengan rasa brokoli yang biasanya adalah sayur kesukaannya.
Ririn cepat menutup mulutnya saat ia hampir saja memuntahkan brokoli yang baru saja ia kunyah.
“Kenapa, Rin?” tanya Elvina. “Kamu mual?”
Ririn tetap menutup mulutnya sambil mengangguk cepat.
Dengan sigap, Bram yang duduk paling dekat dengan Ririn menuntun gadis itu keluar dari ruang makan menuju dapur. Ririn segera memuntahkan makanan di tong sampah. Bram memijat pelan tengkuk Ririn sambil mengusap pundak gadis itu.
“Sudah?” tanya Bram saat melihat Ririn menyeka wajahnya dengan air yang mengucur dari keran. Ririn menjawab dengan sebuah anggukan.
Bram mengambil beberapa lembar kertas tisu dan memberikannya untuk Ririn. Gadis itu kemudian mengucapkan terima kasih lalu mengeringkan wajahnya yang masih basah.
Bram berjalan menuju dispenser. Ia mengisi gelas kosong dengan air hangat lalu menyuguhkannya kepada Ririn.
“Minumlah,” ucap Bram.
Ririn menurut. Ia menerima gelas dari Bram dan segera minum.
“Sudah enakan belum?” tanya Bram.
“Sudah, Kak,” jawab Ririn. Gadis itu hanya meminum beberapa teguk air lalu meletakkan gelas di meja.
Bram mengajak Ririn untuk kembali ke ruang makan. Bram tak sedetik pun melepaskan genggamannya pada lengan Ririn. Ia khawatir karena melihat tubuh Ririn yang lemah.
Darmawan dan Elvina yang duduk berdampingan tersenyum melihat bagaimana Bram memperlakukan Ririn. Mereka bersyukur karena Ririn akan menikah dengan pria yang benar-benar tulus.
Senyuman di wajah kedua orang tua Ririn tiba-tiba menghilang saat melihat Ririn rebah di d**a kekar Bram. Beruntung pemuda itu sigap menahan tubuh Ririn, hingga gadis itu tak terjatuh ke lantai.
“Ririn!” seru Darmawan, Elvina, dan Dimas secara bersamaan. Mereka serentak bangkit dari kursi masing-masing dan berlari cepat ke arah Bram yang masih menopang Ririn.
“Biar aku gendong,” ucap Dimas panik. Bram tak punya pilihan. Ia membiarkan Dimas membopong tubuh Ririn yang sudah tak bergerak.
Ririn tak sadarkan diri. Ia bahkan belum siuman ketika Dimas meletakkan tubuhnya di kasur.
“Cepat telepon dokter, Ma!” perintah Darmawan.
Elvina segera melakukan apa yang diperintahkan suaminya. Ia menggunakan telepon yang ada di atas nakas untuk menelepon dokter keluarga.
“Ririn, bangun, Nak,” ucap Elvina lembut. Ia mengusap wajah dan kedua tangan putrinya. “Mungkin Ririn masih shock karena perlakuan kita, Pa. Seharusnya tadi kita tidak memarahinya,” keluh Elvina menyesali sikapnya.
“Ma, jangan terlalu khawatir. Ririn pasti baik-baik saja,” sahut Darmawan.
“Mudah-mudahan Ririn dan bayinya tidak apa-apa ya, Pa,” harap Elvina. Darmawan mengusap pundak istrinya. Ia juga menyesal karena sudah terlalu keras kepada Ririn.
Bram pamit meninggalkan kamar Ririn untuk menjemput dokter keluarga yang sempat ditelepon Elvina. Darmawan, Elvina, dan Dimas tinggal di kamar, menjaga Ririn.
Beberapa saat kemudian, Bram dan seorang dokter masuk ke kamar Ririn dengan tergesa-gesa. Elvina segera mengatakan apa yang terjadi pada Ririn. Sang dokter sempat sedikit terkejut mengetahui kalau Ririn sedang mengandung.
“Saya periksa Ririn dulu, Bu,” ucap sang dokter. Elvina segera menyingkir agar dokter tersebut bisa memeriksa Ririn dengan leluasa.
Dokter tersebut meletakkan stetoskop di area d**a Ririn. Ia juga memeriksa tekanan darah dan denyut nadi Ririn.
“Sepertinya Ririn kelelahan dan mungkin stress karena ini kehamilan pertama. Lebih baik Ririn dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan yang lebih intensif,” saran dokter tersebut.
Malam itu juga, Ririn dibawa ke rumah sakit terdekat. Tepat saat tubuh Ririn diangkat ke brankar, bercak darah terlihat di celana gadis itu.
“Ririn!” seru Elvina. Ialah yang pertama kali menyadari pendarahan yang dialami Ririn.
Seruan Elvina membuat Darmawan, Dimas, dan Bram terkejut. Mereka ikut panik melihat apa yang terjadi kepada Ririn. Cepat petugas mendorong brankar agar Ririn segera mendapatkan pertolongan pertama.
Elvina menangis tersedu-sedu. Ia menyesali perkataannya yang sempat meminta Ririn untuk menggugurkan kandungannya.
“Pa, Mama takut. Ini semua karena omongan kita tadi, Pa,” gumam Elvina.
“Sudah … sudah, Mama jangan terlalu panik. Kita berdoa saja supaya Ririn dan bayinya tidak apa-apa.” Darmawan sebenarnya juga merasa bersalah. Namun, ia berusaha menutupinya agar sang istri tak larut dalam kekhawatiran.
Bram yang ikut mendorong brankar juga khawatir akan keselamatan janin yang dikandung Ririn. Dimas juga tak kalah khawatir. Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Ia hanya memanjatkan doa dalam hati agar adik dan calon keponakannya bisa selamat.