Anggara mengamati wajah pucat, cantik dengan bekas siksaan berat di wajahnya. Kemarahannya benar-benar memuncak. Ia tidak terima dengan semua ini. Apalagi bayinya juga hilang. "Kau akan membalas dendam, Anggara?" Anggara melirik Jacko. Dia menyeringai. Mana mungkin ia menjawab secara langsung. "Bisa jadi, kita lihat saja nanti," ucap Anggara. Pria itu bangkit dari kursi di sisi tempat ranjang Nila terbaring. Lalu berdiri di depan Jacko. Mata mereka saling bertemu. "Mungkin kita akan menjadi musuh," kata Anggara dengan dingin. Jacko menarik sudut bibirnya. Ia tidak terkejut jika setelah ini akan menjadi musuh Anggara. Jika Marquist memerintahkan maka ia tidak mungkin melawan perintahnya. "Berdoa saja Marquist tidak menolak tawaranku." "Yang benar saja, berdoa adalah hal terakhir ya

