83. Pertemuan di Tangga Darurat

1546 Kata

Yudistira melewati pintu kaca ruang kerjanya dengan langkah cepat. "Dena, apakah Pak Panca sudah sampai? Tolong hubungi dan atur pertemuan segera," perintahnya singkat sebelum pintu tertutup otomatis di belakangnya. "Segera, Pak." Dena segera mengambil telepon, jemarinya menari cepat di atas tombol. Di dalam ruangan yang sunyi, Yudistira menjatuhkan diri ke kursi kulitnya. Kepalanya terasa berdenyut-denyut. Dia memejamkan mata, membayangkan kembali wajah ayahnya yang marah saat sarapan tadi pagi. Tekadnya semakin bulat—dia harus segera menemukan investor pengganti sebelum ayahnya mengambil langkah gegabah. Sambil mengusap pelipisnya, tiba-tiba dia teringat sesuatu. Matanya terbuka lebar. Ponsel. Dengan cepat dia mengambilnya dari saku jas, dan jantungnya hampir berhenti melihat deretan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN