“Sudah aku antar pulang tanpa kurang satu apa pun, Tuan Besar.” “Oke. Terima kasih, Sinta. Kamu enggak mampir dulu?” tanya Yudistira dari seberang sana. Suaranya terdengar santai. “Enggak, aku mau langsung pulang saja.” “Mau macam-macam, ya, sama Dirga.” Tebakan Yudistira membuat Sinta spontan melirik ke samping. Dirga tetap fokus menatap jalan, tangannya mantap di setir, ekspresinya sama datarnya seperti biasa. “Kok, tahu?” balas Sinta sambil tersenyum kecil, nadanya sengaja dibuat menggoda. Terdengar suara Yudistira berdecak kesal di ujung telepon. “Dulu aja katanya enggak tertarik.” Sinta terkekeh pelan. “Karena dulu aku ikut-ikutin kamu yang enggak suka. Kalau sekarang aku mandiri, jadi aku enggak perlu nurut lagi.” “Aku enggak pernah bilang enggak suka dia, lho. Kamu aja yang

