80. Berharap Bersama

1425 Kata

Kirana terdiam membeku setelah pintu tertutup sepeninggal Yudistira. Ruang tamu yang dulu terasa hangat kini terasa asing dan dingin. Dia merasa seperti orang luar di tengah keluarganya sendiri. Kenangan masa kecil tentang keluarga yang penuh tawa dan kehangatan kini terasa sangat jauh, seolah tertutup oleh awan gelap yang tiba-tiba menyelimuti mereka. Terdengar suara helaan napas berat Hilman yang memecah kesunyian. Kirana melirik sekilas ke arah ayahnya yang tampak menua dalam sekejap. Dalam hatinya, gagasan untuk kawin lari yang pernah dia bisikkan pada Yudistira kembali mengusik pikirannya. "Kirana ...." Suara Hilman terdengar parau, memecah kesunyian. "Apa kamu sudah benar-benar memikirkan semua konsekuensinya?" "Apa salahnya, Yah?" jawab Kirana dengan suara bergetar, matanya masih

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN