Aku dan Hendra menatap ke arah pojokan kamar di mana aku melihat sebuah sosok bertubuh tinggi tengah berdiri menatap kami dengan tatapan tajam dan menusuk. Kedua bola matanya tidak lagi berwarna putih, melainkan berwarn Merah darah yang sontak saja membuatku memundurkan dudukku hingga menempel pada ujung tempat tidur. Beruntung Hendra tak bersikap sepertiku. Dengan penuh keberanian dia duduk semakin ke depan hingga sebagian besar tubuhku terhalang oleh tubuhnya yang kekar. Dia menatap sosok yang menakutkan itu tanpa mengatakan sepatah katapun. "Kalian harus mati!" teriak sosok itu dengan suara menggema dan tangan terangkat hingga menunjukkan kuku-kuku jari tangannya yang begitu panjang dan runcing hingga membuat kami bergidik. "Kami tidak ada urusan denganmu," kata Hendra sam

