Seperti dejavu, Rara menatap horor papan putih yang terlihat jelas di tengah lapangan basket. Papan itu memang diletakkan di tempat yang paling strategis agar siapa saja bisa melihatnya dengan leluasa. Bahkan papan putih itu bisa langsung terlihat dari gerbang masuk sekolah. “Ayo, Kak.” Rara pasrah saja ketika Laila menariknya mendekati papan pengumuman. Adiknya sangat bersemangat berangkat ke sekolah hari ini. Sejak SMP, Laila memang selalu juara umum. Seharusnya ia tidak perlu seantusias ini. Namun, Laila tetaplah gadis lugu yang imut. Adiknya itu mudah sekali senang dengan hal-hal remeh-temeh seperti ini. Benar saja. Nama Laila bertengger manis di peringkat satu kelas X. Gadis manis itu sangat senang hingga memeluk Rara dengan senyum lebarnya. “Selamat, La. Kakak ikut senang.” Rara

