Persimpangan Jalan (17)

1465 Kata
Aqila masuk kedalam ruangan, dia baru saja mendapat kabar kalau Aara kecelakaan saat melewati banjir, jadi bisa dipastikan temannya itu tidak masuk kerja. Namun pagi itu, ruangan sudah ribut. Aqila dipanggil oleh Niken untuk mendekat kesumber yang membuat kegaduhan tersebut. Dan betapa terkejutnya dia ketika melihat Aara dibopong oleh Harist dan sedang masuk berita infogresik. Akun itu memposting berita banjir yang terjadi didaerah tersebut, namun malah tidak sengaja menampilkan potret so sweet yang terjadi antara teman dan atasannya itu. Aqila sekarang tau kenapa bisa segaduh itu, mungkin sudah tidak dalam ruangan itu saja, tapi juga didivisi yang lain. Perempuan itu juga masih belum percaya bagaimana kejadian itu bisa terjadi. Bagaimana bisa Aara bersama atasannya itu berada dibanjiran, dan mengumbar kemesraan. “Apa jangan-jangan Pak Harist mulai suka sama Aara?” tanya Niken penasaran. Sedangkan Aqila tidak peduli pembicaraan itu. Dia langsung mengirim pesan ke temannya itu. Send to : Aara Maimunah Raaaaa, lo hutang penjelasan ya. Apa maksudnya itu di infogresik, kenapa ada pak Harist lagi gendong lo? *** “Huaaaaaaaah” Aara berteriak sekencang-kencangnya setelah menerima pesan dari Aqila. Dia juga langsung melihat postingan akun yang disebut perempuan itu, dan benar ada postingan yang menampilkan dirinya sedang dibopong oleh Harist. “Ada apa sih?” Harist terkejut, laki-laki itu berada tepat disampingnya dan sedang mengecek beberapa file yang dikirimkan oleh manajer perdivisi. Fokusnya langsung buyar ketika suara itu memekikkan telinganya. “Gawaaaat. Rist, ini serius gawat.” Aara masih sangat gusar, dia meletakkan toples cemilannya dimeja. Lalu menatap laki-laki itu dengan wajah khawatir. “Ada apaa?” Harist tiba-tiba ikut khawatir. Aara pun menyodorkan ponselnya yang menampilkan postingan akun infogresik. Namun bukannya terkejut seperti halnya Aara, Harist mengembalikan ponsel itu dengan wajah biasa saja. “Kok kamu biasa aja sih.” Gerutu Aara. “Terus harus seperti apa?” tanya laki-laki itu. “Ini masalah besar. Semua karyawan udah tau kalo kita berteman!” Jawab Aara, yang sangat ketakutan. “Bagus dong.” Harist kembali focus dengan ponselnya lagi. “Bagus gimana? Kamu tau kan ini yang sangat aku takutin.” Ucap Aara. “Kalo kayak gini, aku resign aja ya.” Tambahnya. “Apa?” Harist kembali buyar konsentrasinya, dan langsung menatap Aara dengan penuh intimidasi. “Ini hanya soal kita berteman. Kenapa menjadi sangat besar sampai harus resign. Aku tidak peduli, jangan bicara seperti itu lagi.” “Dasar keras kepala.” Aara jadi kesal pagi itu sudah mendapat sarapan keras kepalanya Harist. “Dasar suka berpikiran buruk.” Balas laki-laki itu, masih dengan keras kepalanya. Aara mengusap keringat dinginnya, kali ini laki-laki itu sulit untuk diajak berkompromi. “Hariiiiiist,” Suara itu berasal dari depan rumah, lalu semakin dekat bersama kakaknya Aara yang terlihat sangat berbahagia. “Akh ini lagi.” Aara tau pasti kakaknya itu juga sudah melihat postingan tentangnya dan Harist. “Kamu mengagumkan sekali siiiih.” Ucapnya sembari memperlihatkan gambar yang sama persis dengan postingan akun infogresik, tapi yang berbeda adalah gambar tersebut berasal dari grup w******p. Ternyata grup alumni SMA kakaknya itu sedang ramai karena melihat betapa mesranya Harist pada Aara. Harist hanya meringis sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Mbak, apasih.” Aara pikir ini sudah berlebihan. “Apasih? Aku mau berterima kasih ke Harist, karna sudah menjagamu dengan baik.” Balasnya. “Sudah, aku sudah bilang makasih sama dia. Udah, mbak balik lagi ngajarnya ya.” Aara mendorong perempuan itu untuk kembali ke aktivitasnya dan menghiraukan berita itu. Sepeninggal kakaknya yang sudah keluar, Aara sudah dihadiahi tatapan dari laki-laki disampingnya. “Memangnya kapan kamu bilang makasih?” tanya laki-laki itu. “Tuhkaaaan. Jadi kamu nggak ikhlas nolong aku nih?” balas perempuan itu salah tingkah. “Aku kedalam dulu ya, mau buat surat pengajuan resign.” Tambahnya sembari beranjak. “Silahkan saja, at least kamu nggak akan dapat gaji, kena denda penalty, dan aku pastikan kamu masuk didaftar blacklist calon karyawan, jadi nggak ada perusahaan yang mau merekrut kamu.” Ucap Harist yang membuat Aara berbalik untuk melihatnya. “Dasar keras kepala, semaunya sendiri, menggunakan kekuasaan untuk menindas, andai saja ibu dan mbak mendengarnya. Sudah diusir kamu dari rumah ini.” Balas Aara sembari terus melanjutkan langkahnya ke dalam rumah. Entah perempuan itu serius atau hanya bercanda, tapi Harist menyukai Aara yang sedang kesal karenanya. *** “Terima kasih banyak ya bu, sudah diijinkan bermalam disini.” Driver yang menjemput Harist sudah sampai, dan saatnya laki-laki itu untuk berpamitan pulang. “Ibu yang terima kasih banyak karena sudah menolong Aara. Dia memang keras kepala, sudah ibu bilang kalo banjir jangan pulang, menginap saja dirumah temannya. Eh masih nekat aja.” Ucap ibunya Aara seperti sedang mengeluarkan unek-uneknya selama ini. Harist tersenyum, “Lain kali Aara bisa menginap di rumah saya kalo sedang banjir besar. Ada kamar kosong yang bisa dia tempati.” Laki-laki itu menanggapi ucapan wanita paruh baya itu. “Sungguh?” tanya ibunya. “Sungguh bu, keluarga saya sangat menyukai Aara.” Apa-apaan ini hei Harist! Bukan hanya Aara yang sedang kamu beri harapan, tapi keluarganya pun iya. Bagaimana kalau mereka kompak mengharapkanmu menjadi bagian dari keluarga itu? ‘Makin menjadi nih anak.’ Ucap Aara dalam hatinya. Tapi bagaimana caranya memotong pembicaraan mereka. Melihat Aara yang sedang menatapnya tajam, Harist pun menyudahi percakapan itu. “Baik kalo gitu bu, saya pulang dulu ya. Senang bisa tinggal seharian di rumah ini.” “Sering-sering lah main ya, kita sangat senang.” Harist pun benar-benar pamit sekarang, dia bersalaman dan mencium punggung tangan ibunya Aara. Yang semakin membuat Aara berimajinasi, membayangkan momen itu ketika Harist hendak berangkat bekerja dan sedang berpamitan dengan dia dan ibunya. Bolehkah berharap; sebuah mimpi menjadi kenyataan? Terlebih mengenai kamu yang entah mulai kapan sudah berada dalam impian, Seandainya kamu setuju, Meski perlahan, aku akan tetap menunggu, Sampai tidak ada lagi batas antara culas dan waras. Entah dari bait mana ucapanmu membuatku luluh, Atau dari baris mana pesanmu membuatku leleh, Semua mengalir, namun tetap hanya menjadi mimpi. Bak kunang yang mengharapkan Mentari. Begitu saja sudah terdengar mustahil! *** “Akhirnya kamu kembali.” Suara laki-laki itu membuat Naomi berbalik, dia melihat sosok yang dalam dua tahun ini juga berusaha dihindari. Seseorang yang membuatnya berada dalam keadaan saat ini, yang melepaskannya dari dekapan Harist dan menghancurkan hatinya. Akh tidak. Nyatanya bukan hanya laki-laki itu yang bersalah, dia hanyalah tamu, sedangkan sebagai tuan; harusnya Naomi tidak membukakan pintu dan mempersilahkan masuk. Devan, ternyata laki-laki itu masih peduli, bahkan ketika Naomi menghilang. Dia lah yang merawat dan memberi semangat ibunya selama Naomi pergi. Dia juga lah yang diam-diam selalu memantau keadaan Naomi untuk dikabarkan pada ibunya. Selama itu Devan lakukan tanpa sepengetahuan perempuan itu. Terlalu dangkal rasanya jika Naomi masih mementingkan perasaan dan rasa sakitnya, sedangkan orang terdekat bahkan ibunya kesusahan karenanya. “Tenang saja, ibumu baik-baik saja.” Ucap laki-laki itu berjalan kearah dua perempuan itu. Naomi sedikit menurunkan egonya, setidaknya dia ingin berterima kasih karena telah merawat ibunya selama ini. “Terima kasih telah merawat ibuku. Dan maaf karena sikapku, semuanya ikut susah.” Perempuan itu menundukkan kepalanya. “Jangan terlalu dipikirkan,” wanita yang tadinya berbaring, kini mengubah posisinya. Dia duduk bersandar di bahu ranjang. “Devan, laki-laki yang baik. Dia pasti ikhlas melakukannya… Oh ya, tadi Bibimu membawakan soto ayam kesukaanmu, kita makan bersama ya, mumpung ada Devan disini.” Tambah wanita itu yang terlihat bersemangat. Apa dengan adanya Devan bisa berpengaruh pada kesehatannya kah? Naomi mengernyitkan alisnya melihat perubahan mimic wajah dan gesture ibunya, dari yang terlihat sakit menjadi segar bugar karena kedatangan Devan. Namun hal itu tidak bertahan lama karena Naomi menyudahi pikiran buruknya, dia tersenyum dan beranjak. “Baiklah, aku siapkan makanannya dulu ya.” Ucapnya, kemudian berjalan kearah dapur. Dalam langkah kakinya, tiba-tiba wajah Devan menghiasi pikirannya. Laki-laki itu tidak pernah berubah, masih tampan dan berwibawa. Perhatian dan pengertiannya juga tidak pernah hilang meski sudah dua tahun berlalu. Kejadian cinta satu malam tersebut, masih menjadi momok dalam hidupnya, namun Naomi tidak bisa mempungkiri bahwa Devan sangat hangat waktu itu. Rasa yang tidak pernah dia dapatkan saat bersama dengan Harist. Ya, Harist dan Devan memang dua orang yang sangat berbeda, meski mereka berteman cukup lama. Harist yang selama ini dia kenal adalah laki-laki perfeksionis, kaku dan keras kepala, dengannya Naomi harus mengalah dan terus menurut, sedangkan dengan Devan, laki-laki itu bisa mengimbanginya, mendengarnya ketika bercerita dan berpendapat, baik dan mau mengalah jika waktunya. Naomi menghembuskan nafas kasar, bagaimanapun juga keduanya tidak bisa disamakan atau dibedakan. Dihatinya sudah tidak ada ruang untuk Devan. Meski saat ini perempuan itu sedang berusaha melupakan Harist. “Masih disini aja? Ibu sudah nunggu, ayo aku bantu.” Suara itu mengejutkan Naomi, ternyata Devan sudah berada disampingnya dan melewatinya. Laki-laki itu menuju dapur untuk membantu Naomi menyiapkan makanan. “Nggak usah, biar aku saja.” Naomi menyahuti sembari menghampiri Devan yang sudah lebih dulu sampai di dapur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN