Meski masih sedikit sakit, kaki Aara dipaksanya untuk tetap berjalan. Kemarin dia harus cuti karena permintaan dari Harist, tapi kali ini laki-laki itu tidak bisa melarangnya lagi, lagian banjirnya sudah surut dan pekerjaan di kantor sudah menunggu. Aara keluar dari kamarnya, dia segera memasang telinga. Coba menelisik suara-suara, siapa tau Harist sudah ada di rumahnya. Tapi ternyata nihil. Sampai didepan rumah perempuan itu tidak menemukan penampakan Harist sama sekali. “Loh kerja?” tanya kakaknya ketika melihat Aara menenteng helm dan hendak berpamitan. “Iya mbak, kerjaan masih banyak, takutnya kalo ditinggal lama-lama malah numpuk.” Jawabnya. “Yaaaah, tadi mbak terlanjur bilang ke Harist kamu cuti, makanya dia nggak dating pagi ini.” Ucap perempuan itu sembari melihat chatnya lagi

